Rabu, 22 April 2026, pukul : 19:10 WIB
Surabaya
--°C

“Birahi” Hasyim Asy’ari Ketua KPU Menodai Demokrasi

KEMPALAN: Demokrasi Indonesia menuju titik nadhir, betapa tidak setelah praktek penunjukan plt pejabat kepala daerah yang dibajak oleh mendagri Tito Karnavian dengan penunjukan langsung, lalu penjegalan kepada Anies Baswedan capres yang tidak dikehendaki oleh istana dan oligarki melalui upaya – upaya mempersulit perizinan, perilaku presiden melalui endorcing terhadap capres tertentu, pembiaran kepada capres tertentu yang dikehendaki meski masih menjabat sebagai kepala daerah ataupun menteri, tafsir KPU tentang larangan kepada capres, cawapres dan caleg yang mengatakan dirinya sebagai capres, cawapres dan caleg sebelum penetapan dan yang terakhir perilaku ketua KPU, Hasyim Asy’ari atas dugaan asusila terhadap ketua Partai Republik Satu, Hasnaeni Moein.

Birahi yang dimaksud bukan hanya syahwat politik tapi syahwat seksual, sebagaimana dugaan yang dilakukan oleh Hasyim Asy’ari kepada Hasnaeni.

Dalam kesaksiannya yang beredar viral melalui medsos, Hasnaeni mangatakan bahwa ada bujuk rayu Hasyim, yaitu partainya akan diloloskan dengan imbalan tertentu, imbalan itu berupa permintaan Hasyim agar Hasnaeni melayani birahi seksualnya.

Nampaknya Hasyim Asy’ari tak hanya tak kuasa menahan hasrat seksualnya ketika berhadapan dengan Hasnaeni, tapi birahi politiknya juga tak bisa ditahan, sehingga tanpa merasa bersalah dia sampaikan ke Hasnaeni, bahwa calon presiden dan wakil presiden yang dipersiapkan adalah Ganjar Pranowo – Eric Tohir.

Tanpa beban ketika Hasnaeni ditanya didalam video yang beredar, “Masuk nggak itu burungnya Hasyim? “, “Masuklah pak”. Itu artinya bahwa perbuatan itu dilakukan dengan sadar dan sama sama suka. Hasyim menikmati petualangannya dan Hasnaeni juga mau karena dijanjikan partainya akan diloloskan untuk mengikuti pemilu 2024.

Demokrasi Indonesia dan pemilu 2024 sedang menghadapi ancaman dari dalam, dari pelaksana pemilu itu sendiri,yaitu KPU.

Tentu hal ini tidak boleh dibiarkan, karena akan merugikan bangsa Indonesia.

Tentu ini menodai dan mengkhianati perjuangan rakyat dan mahasiswa tahun 1998 ketika menumbangkan orde baru.

Mantan aktivis 1998 yang hari ini tentu masih banyak dan masih memegang nilai nilai anti korupsi, kolusi dan nepotisme sangat dihinakan dan dilecehkan oleh persekongkolan jahat oknum KPU dan oligarki dengan mengendalikan partai politik.

Tak ada kata kompromi untuk yang seperti ini, meminjam apa yang pernah disampaikan oleh Wiji Thukul :

Peringatan

jika rakyat pergi,
ketika penguasa pidato,

kita harus hati-hati,
barangkali mereka putus asa,

kalau rakyat bersembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri,

penguasa harus waspada dan belajar mendengar,

bila rakyat berani mengeluh,
itu artinya sudah gasat,

dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah,
kebenaran pasti terancam,

apabila usul ditolak tanpa ditimbang,
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan,
dituduh subversif dan mengganggu keamanan,

maka hanya ada satu kata: lawan! (Isa Ansori)

Editor: DAD

Pencabulan Demokrasi dan Pilpres Cabul

KEMPALAN: DUGAAN pelecehan seksual yang dilakukan oleh Ketua KPU RI, Hasyim Asy’ari terhadap Hasnaeni Moein alias “wanita emas” sudah dilayangkan ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu ( DKPP) harus segera disidangkan. Karena ini menyangkut moralitas lembaga negara dan pejabat negara serta produk yang dihasilkan.

Dugaan perbuatan cabul sebagaimana yang dilakukan oleh ketua KPU RI menjadi deretan perbuatan Cabul dalam kontestasi Pilpres 2024. Tentu saja makna perbuatan Cabul itu bisa dimaknai sebagai pelanggaran moral dan etika pejabat publik dalam penyelenggaraan Pilpres.

Sebelumnya juga kita saksikan perbuatan cabul dengan memobilisasi massa dan tegas mengendorse dan mengijon ciri – ciri capres yang didukung, padahal seharusnya presiden harus menjadi negarawan dan pengayom.

Penjegalan dimana – mana dengan mempersulit izin penyelenggaraan bakal calon presiden yang tidak dikehendaki juga bukti adanya potret perbuatan cabul dalam proses menuju arena kontestasi.

Yang terbaru KPU RI membuat otoritas tafsir peraturan penyelenggaraan Pilpres 2024 tentang aktifitas bakal calon yang sejatinya tidak diatur dalam aturan kampanye.

Bahwa setiap bakal calon presiden maupun bakal caleg dilarang mengatakan dirinya sebagai capres dan caleg sebelum penetapan dilakukan oleh KPU. Terasa memang tidak aneh, tapi ini baru terjadi dan seolah bakal menjegal calon tertentu dan partai politik tertentu untuk bisa menjadi peserta pemilu.

Waspada! Gejala Kecurangan Pilpres Sudah Dimulai

KEMPALAN: CURANG adalah sebuah penyakit masyarakat yang akan menurunkan kredibilitas bagi yang melakukannya. Namun bagi sebagian orang curang, adalah sebuah keniscayaan, karena kalau tidak berbuat curang maka dia tidak akan mendapatkan keuntungan. Sehingga curang menjadi sebuah kebiasaan.

Pelaku kecurangan biasanya menganggap bahwa kecurangan adalah sebuah tradisi yang dianggap lumrah, sehingga baginya melakukan kebohongan untuk menutupi kecurangannya akan dilakukan secara berulang – ulang. Hal ini dikarenakan agar orang lain memaklumi perbuatan kecurangannya.

Kecurangan dan kebohongan merupakan sebuah rangkaian yang selalu ada. Kecurangan akan dimulai dengan kebohongan berulang berulang demi membuat orang lain memaklumkan kecurangan yang akan dilakukan. Kebohongan berulang ulang demi memaklumkan kecurangan itulah yang dianggap sebagai post truth.

Jujur adalah lawan dari kebohongan dan kecurangan. Pilpres 2024 nampaknya akan menjadi peristiwa berulang kontetasi kejujuran melawan kebohongan dan kecurangan yang pernah terjadi di tahun 2019. Yang membedakan dugaan kecurangan tahun 2019 dilakukan melalui sistem perhitungan akhir, sedang tahun 2024, terindikasi kecurangan sudah dimulai dari proses menuju arena kontestasi dan bahkan mungkin nanti pada saat proses pelaksanaan dan perhitungan suara.

Mengapa bohong dan curang harus dilakukan? Karena ini berkaitan dengan ketakutan dan kecemasan akan hilangnya sesuatu yang sudah dimiliki atau sudah dirasakan kenyamanannya, misalkan kalau kita cenderung menganggap bahwa menjual barang yang tidak asli dengan mengatakan asli akan menghasilkan keuntungan berlipat, maka curang dan menipu akan kita lakukan, mengapa? Karena ternyata dengan menipu kita akan mudah menghasilkan banyak keuntungan.

Para pelaku kecurangan dan penipuan dalam konteks korporasi tentu tak akan bekerja sendirian. Mereka akan menggunakan seluruh instrumen yang bisa dimanfaatkan untuk memaklumkan kecurangan dengan kebohongan berulang – ulang. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia politik, seperti pada arena Pilpres 2024.

Intrik dan kelicikan yang dikemas melalui kebohongan akan menjadi menu sehari hari yang dapat kita saksikan menuju proses kecurangan Pilpres 2024.

Hanya Kecurangan yang Bisa Mengalahkan Anies

KEMPALAN: ANIES memang hanya mantan seorang pejabat Gubernur DKI Jakarta, Anies kini hanyalah rakyat biasa sebagaimana kebanyakan rakyat Indonesia yang lainnya, yang membedakan Anies dengan rakyat yang lainnya, Anies adalah bakal calon presiden yang diusung oleh Partai Nasdem dan bahkan akan menyusul Partai Demokrat dan PKS yang tergabung dalam koalisi perubahan.

Mengapa Anies diusung oleh Partai Nasdem dan tinggal menunggu momentum oleh Partai Demokrat dan PKS? Tentu ini karena semangat idealisme Partai koalisi perubahan untuk memperbaiki Indonesia.

Lalu apa yang menyebabkan Indonesia harus diperbaiki? Tentu saja berangkat dari apa yang terjadi selama hampir 10 tahun ini dan apa yang dirasakan oleh masyarakat.

BACA JUGA: Anies Antara Ancaman dan Harapan

Selama hampir 10 tahun masa kepemimpinan Jokowi yang terlihat merakyat, ternyata Jokowi sangat mudah dimanfaatkan oleh Oligarki. Negara berbisnis kepada rakyatnya, sehingga apa yang menjadi tugas negara sebagaimana amanah konstitusi tak berjalan, mendamaikan, mensejahterakan dan mempersatukan.

Situasi bangsa terasa sangat terbelah, diksi kadrun sebagaimana jargon yang seringkali dipakai oleh Partai Komunis Indonesia terhadap kelompok Islam menjadi diksi sehari hari yang bisa kita dengar dan baca.

Pengguna diksi kadrun tentulah mereka yang menumpang pada kekuasaan Jokowi, mereka seolah terlindungi, kebal hukum bahkan semakin merajalela menghinakan Islam sebagai agama dan kelompok mayoritas. Tidak ada lagi penghormatan dan empati. Sehingga wajar saja sebagian kelompok Islam merasakan bahwa kekuasaan Jokowi tak berlaku adil. Ada suasana kebangsaan yang terkoyak.

Anies Antara Ancaman dan Harapan

KEMPALAN: PEMILU sebagai arena kontestasi memilih pemimpin yang baik dan berintegritas adalah sebuah keniscayaan. Karena pemilu pada dasarnya adalah pesta politik rakyat, sehingga menjadi keharusan kalau pemilu harus menyenangkan dan menggemberikan.

Namun sayangnya bagi sebagian pihak yang kemaruk kekuasaan, dan menjadikan kekuasaan sebagai instrumen mengeruk kekayaan negara, pemilu menjadi arena perebutan kekuasaan, sehingga diksi perang dan pertempuran menjadi sebuah pilihan.

Semangatnya tidak lagi berkompetisi secara fair dan cenderung menghalalkan segala cara demi mempertahankan kekuasaan yang sudah dirasakan nikmatnya mengeruk kekayaan negara.

BACA JUGA: Menemukan Titik Tengah Pilpres 2024, “Say Good Bye To Oligarchie”

Tak heran kalau kemudian upaya – upaya kotor dijalankan secara terencana dan sistematis. Fitnah ditebarkan, berita hoax disemburkan, survey palsu digencarkan, opini sesat ditaburkan, rakyat dibungkam, oposisi diterkam. Mengingatkan kita pada masa masa orde baru.

Pemilu 2024 diopinikan dengan kengerian dan suasana ketidakpastian, padahal itu sejatinya adalah akal – akalan mereka untuk bisa lebih lama merampok kekayaan negara.

Mengapa ini bisa terjadi? Karena disana di deretan calon presiden ada nama Anies Baswedan.

Anies adalah ancaman bagi mereka, Anies tak bisa diajak kerjasama merampok kekayaan negara, dan Anies tak bisa dikendalikan oleh mereka, sehingga Anies diperlakukan sebagai musuh yang harus dijegal, dijatuhkan dan jangan sampai mendapatkan tiket atau bahkan menjadi presiden.

Darurat Kekerasan, Surabaya Butuh Tindakan Tegas dan Terukur

KEMPALAN: Beredar beberapa video di media sosial beberapa kelompok anak dan remaja di beberapa wilayah Surabaya dengan membawa senjata tajam yang diacung – acungkan. Beberapa wilayah itu diantaranya didaerah – daerah baru dan pinggir Surabaya yang tersebar, baik itu Selatan, Utara, Barat dan Timur. Di wilayah tengah atau pusat biasanya terjadi di pusat – pusat keramaian yang menjadi tempat kerumunan anak anak maupun remaja.

Sebagai kota layak anak dan menuju kota global yang humanis dan berkelanjutan, tentu tak bisa ini diserahkan kepada pemerintah kota saja, semua pihak harus terlibat dalam proses mewujudkannya. Sebagaimana yang diminta oleh walikota Surabaya, Eri Cahyadi, agar semua warga kota bergotong royong untuk menjaga Surabaya.

Lalu apa yang mesti dilakukan? Sebagai ibu kota provinsi, Surabaya tentu tak bisa dilepaskan dari kemajuan pembangunan yang dilakukan. Surabaya bergerak dengan kemajuannya dan seluruh fasilitas yang mendukungnya.

BACA JUGA: Hanya Rezim Komunis yang Anti Politik Identitas

Kemajuan itulah yang pada akhirnya menuntun terjadinya perubahan sosial, budaya dan perilaku.

Perubahan sosial terjadi karena memang tuntutan alam, misalkan karena usia bertambah menjadi puber, perubahan budaya terjadi karena setiap manusia butuh melakukan adaptasi, misalkan beradaptasi dengan kebutuhan pubersitasnya. Dalam rangka beradaptasi itulah setiap orang akan berproses memilih jalan aktualisasinya. Maslow menyebutnya sebagai kebutuhan aktualisasi.

Kebutuhan aktualisasi yang disinyalir oleh Maslow menimbulkan apa yang disebut dengan perubahan perilaku.

Sebagai contoh dengan kemajuan tehnologi dan pembangunan kota, setiap orang pasti akan menyesuaikan, kebutuhan tehnologi komunikasi tidak cukup hanya yang bisa panggil dan bicara, tapi butuh aplikasi lain yang dianggap sebagai simbol kemajuan.

Anies, Perubahan dan Kebangkitan Indonesia

KEMAPALAN: SEJARAH bangsa ini tak bisa dilepaskan oleh keinginan perubahan dan kebangkitan. Lahirnya Budi Utomo menjadi titik awal kesadaran akan perubahan dan bangkit untuk melawan.

Kesadaran bangkit melawan dan melakukan perubahan menemukan titik momentumnya pada tanggal 28 Oktober 1928, ketika para pemuda dari berbagai suku, daerah dan agama serta warga negara dan bangsa lain yang menetap dan mencari makan di Nusantara berikrar akan pentingnya merasakan sebagai satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa, yaitu Indonesia.

Perubahan dan kebangkitan menjadi kata kunci perjuangan yang pada akhirnya menjadikan Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

BACA JUGA: Politik Riang Gembira Anies Baswedan

Perubahan dan kebangkitan tidak akan bisa berjalan sendiri kalau tidak ada yang menakhodai. Sebagaimana perubahan dan kebangkitan menuju Indonesia Merdeka, sejarah mencatat Soekarno dan Hatta adalah nakhodanya.

Seperti apa yang dilakukan oleh Soekarno dan Hatta dalam membebaskan bangsanya dari cengkeaman penjajah dan mewujudkan cita citanya, mencerdaskan kehidupan bangsa, mensejahterakan, mendamaikan dan mewujudkan keadilan sosial, Anies Baswedan adalah sosok yang diharapkan.

Politik Riang Gembira Anies Baswedan

KEMPALAN: DALAM sebuah diskusi yang dilaksanakan di kantor DPW Nasdem Jatim, saya kebetulan diajak untuk mendengarkan paparan beberapa relawan Anies dan ketua DPW Nasdem serta beberapa narasumber kompeten, Selasa, 21 November 2022.

Yang menarik adalah paparan bunda Janet, yang akrab dipanggil kakak Janet dalam mengikuti alur paparan yang disampaikan oleh para relawan Anies di Jatim dari berbagai simpul. Beliau catat satu persatu, beliau rumuskan langkah apa yang akan dilakukan dan solusi apa yang akan diberikan. Terlihat sikap matang dalam berpolitik dan menghargai orang.

Karakter yang sama ditampilkan oleh Anies Baswedan dalam merespon setiap persoalan yang ada. Anies selalu tampil senyum, santun dan tidak meledak ledak. Inilah yang kemudian menimbulkan kesan berpoltik itu indah dan menyenangkan.

BACA JUGA: Sanksi Tegas Layak Diberikan kepada Anak yang Melanggar!

Rasanya kita sudah jenuh dan muak dengan politik kotor, licik dan marah – marah dan bahkan memecah belah. Pertunjukan politik busuk oleh perilaku para politisi kotor. Para Machiavilian ini tak segan membunuh lawan politiknya dengan cara cara kotor dan licik. Mereka sebarkan berita bohong, fitnah dan segala upaya yang penting kekuasaan bisa direbutnya.

Politik gembira adalah politik yang memberi suasana yang sehat dan menyenangkan, semua dijalankan dengan aturan dan norma demokrasi yang baik dan benar. Sehingga politik bermakna sebagai sebuah jalan untuk menjalankan sesuatu yang benar bagi kepentingan rakyat.

Pemilu 2024, Anies Mengusung Demokrasi, yang Lain Perebutan Kekuasaan

KEMPALAN: PILPRES 2024 sejatinya merupakan wujud praktik demokrasi untuk mendapatkan pemimpin yang baik dan dikehendaki rakyat.

Sebagai sebuah praktik demokrasi, pemilu diharapkan dapat memilih pemimpin yang mempunyai gagasan, ide, mampu menarasikan dan mengeksekusi menjadi sebuah kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat, mencerdaskan, mempersatukan, adil dan mensejahterakan.

Namun sayangnya praktik demokrasi yang seharusnya baik itu kini dicemari dengan ambisi perebutan kekuasaan. Ini mengingatkan kita pada praktik perebutan kekuasaan pada raja – raja, bahkan praktik penunjukan telanjang dipertontonkan oleh Jokowi, ketika menghadiri HUT Golkar dengan mengatakan bahwa jangan sembrono memilih presiden, jangan sembrono itu dimaknai harus sesuai dengan pilihannya dan pikirannya. Hal terbukti ketika menghadiri HUT Perindo, Jokowi mengatakan bahwa 2024 adalah giliran Pak Prabowo.

BACA JUGA: Tak Siap Kalah, Residu Demokrasi Mengembangkan Fitnah untuk Menjatuhkan Kandidat Lain

Praktik perebutan kekuasaan dizaman raja – raja sebagaimana yang terjadi, khususnya di Jawa selalu diwarnai pertumpahan darah dan pembunuhan. Peristiwanya selalu diawali dengan intrik, memecah belah, tipu muslihat, mengorbankan, bermain dua dan bahkan tiga kaki, lalu mengorbankan yang dianggap lemah, selanjutnya mengambil keuntungan.

Salah satu contoh praktik licik perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Ken Arok saat berkeinginan merebut singgasana kerajaan Singhasari. Mengorbankan Kebo Ijo yang suka dengan pencitraan, pamer dan publikasi. Watak Kebo Ijo yang seperti itu dimanfaatkan oleh Ken Arok dengan meminjamkan keris yang ia pesan dari Empu Gandring.

Dengan bangga dan pongahnya, Kebo Ijo memamerkan keris pinjamannya, mengaku bahwa keris itu miliknya, disaat yang tepat, Ken Arok mengambil keris itu dan digunakan untuk membunuh Tunggul Amaeutung.

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.