Rabu, 22 April 2026, pukul : 21:06 WIB
Surabaya
--°C

Politik Riang Gembira Anies Baswedan

Kontestasi pilpres 2024 nampaknya memberi catatan bahwa tidak semua pihak yang bersaing dan berkompetisi betul – betul memahami makna demokrasi dan berpolitik yang riang gembira.

Masih ada yang memandang politik adalah pertarungan yang menumpahkan dara, sebagaimana Mao Tse Tung katakan bahwa perang adalah politik dengan pertumpahan darah dan politik adalah perang tanpa pertumpahan darah. Pernyataan Stalin soal pemilu bahwa yang harus diperhitungkan bukanlah orang yang memberikan suara, melainkan orang yang menghitung suara, menunjukkan betapa kerasnya politik.

BACA JUGA: Pemilu 2024, Anies Mengusung Demokrasi, yang Lain Perebutan Kekuasaan

Niccolo Machiavelli selama berabad-abad memberikan nama buruk bagi politik. Bukunya Il Principe atau Sang Penguasa dilarang dibaca dan diedarkan dalam komunitas gereja Katolik.

Ajaran-ajarannya dianggap memisahkan politik dari moralitas, sehingga mengesankan politik sebagai sesuatu yang keras dan serius. Belum lagi sejumlah tokoh politik kontroversial seperti Mussolini, Hitler, Napoleon, dan Stalin terang-terangan menyatakan kekagumannya terhadap Machiavelli.

Machiavellisme yang salah kaprah ini membuat rakyat apatis dan takut bersentuhan dengan politik. Kegembiraan ada di mana saja di seluruh dunia, kecuali mungkin di politik. Keriangan tak ada dalam proses politik. Kebahagiaan hanya milik pemenang sebagaimana kesedihan milik pecundang. Politik dipahami sebagai kemenangan dan kekalahan, bukan proses untuk mengambil kebijakan yang membahagiakan publik. Perbedaan tajam melahirkan sebutan ‘kampret’ dan ‘cebong’, atau yang terbaru ‘kadrun’.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.