SURABAYA–KEMPALAN: Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang berkali-kali di langit Thailand, bukan karena kebetulan, melainkan karena desain prestasi yang matang. Di balik dominasi Indonesia pada ASEAN Para Games (APG) XIII 2026, terselip kisah heroik dari lima ksatria disabilitas Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang berhasil menyumbangkan total 16 medali bagi Merah Putih.
Prestasi ini bukan sekadar angka. Dari total 135 medali emas Indonesia, mahasiswa UNESA menyumbang andil besar yang mengukuhkan posisi Indonesia sebagai macan olahraga disabilitas Asia Tenggara.
Daftar Pahlawan Olahraga UNESA di ASEAN Para Games XIII Thailand

Berikut adalah rincian capaian luar biasa 5 mahasiswa aktif UNESA yang menjadi tulang punggung kontingen Indonesia:
| No | Nama Atlet | Program Studi | Cabang Olahraga | Emas | Perak | Perunggu | Total |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Leani Ratri Oktila | S3 Ilmu Keolahragaan | Para Badminton | 3 | 0 | 0 | 3 |
| 2 | Ken Swagumilang | S2 Manajemen Olahraga | Para Archery | 2 | 0 | 1 | 3 |
| 3 | Firza Faturrahman L. | S1 Pendidikan Olahraga | Para Athletics | 2 | 0 | 0 | 2 |
| 4 | Mutiara Cantika H. | S1 (Jalur Golden Ticket) | Para Renang | 2 | 2 | 1 | 5 |
| 5 | Nanda Mei Sholihah | S2 Pendidikan Olahraga | Para Athletics | 0 | 3 | 0 | 3 |
| TOTAL | 9 | 5 | 2 | 16 |
Golden Ticket yang Berbuah Emas: Kisah Mutiara Cantika

Salah satu sorotan utama adalah Mutiara Cantika Harsanto. Mahasiswa yang masuk melalui jalur Golden Ticket ini membuktikan bahwa kebijakan inklusif UNESA membuahkan hasil nyata dengan sumbangan 5 medali sekaligus.
“Saya berterima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah, Pemprov Jatim, dan wabil khusus UNESA. Pimpinan UNESA memberikan kemudahan dan kebijakan luar biasa yang membuat saya bertanding tanpa rasa was-was. Dukungan mereka penuh, sehingga saya hanya perlu fokus pada satu hal: memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” ungkap Mutiara dengan haru.
Analisis Tajam: Keunggulan Sport Science yang ‘By Design’

Wakil Rektor IV UNESA, Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, yang juga merupakan pengurus NPCI Jatim, menegaskan bahwa kesuksesan ini adalah validasi atas keunggulan UNESA di bidang Sport Science.
“Ini bukan prestasi dadakan. Ini adalah hasil by design, berjenjang, dan berkelanjutan. Di UNESA, atlet tidak dibiarkan berjuang sendirian; mereka didukung oleh ekosistem sport science yang terukur. Kami tidak hanya mencetak sarjana, kami menempa petarung,” ujar Prof. Cahyo dengan nada tegas.

Ia juga menambahkan komentar bombastis mengenai posisi UNESA di kancah nasional:
“Dunia harus tahu bahwa UNESA adalah rahim dari para juara. Kami membuktikan bahwa disabilitas bukanlah penghalang, melainkan ruang untuk menunjukkan keajaiban saat bertemu dengan metode kepelatihan yang tepat. Jika Anda bicara olahraga, seni, dan disabilitas, maka UNESA adalah kiblatnya. Kami memberikan apresiasi yang sangat spesial—lebih dari sekadar materi—karena mereka telah menjaga marwah bangsa di level internasional!”
Sinergi dengan Jawa Timur

Prof. Cahyo juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang memiliki visi sejalan dengan UNESA dalam memanusiakan dan memberdayakan penyandang disabilitas melalui prestasi olahraga.
Di akhir wawancara, ia berpesan agar para atlet menggunakan bonus dan hasil jerih payahnya secara bijak. “Gunakan prestasi ini sebagai jembatan masa depan. Prestasi di lapangan harus selaras dengan kesejahteraan di masa depan. UNESA akan selalu menjadi rumah yang mendukung penuh setiap langkah kalian,” pungkasnya.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi