MOJOKERTO-KEMPALAN: Ada yang “gila” di kaki Gunung Penanggungan. Di saat banyak pesantren masih berkutat pada rutinitas klasik, Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto justru melakukan manuver yang membuat dahi para pengamat olahraga berkerut sekaligus kagum. Minggu (10/5), GOR Indoor eLKISI menjadi saksi lahirnya Pesantren Sepakbola eLKISI, sebuah proyek ambisius yang berani memadukan aroma minyak Kasturi santri dengan bau keringat lapangan hijau.
Taglinenya pun provokatif: “Dari Lapangan Menuju Peradaban”. Sebuah tamparan halus bagi siapa pun yang menganggap sepak bola hanyalah urusan 22 orang mengejar bola. Di eLKISI, bola adalah wasilah (perantara) menuju kemuliaan akhlak.
Sentuhan Tangan Dingin Sang “Kiai Bola”
Di balik mega proyek prestisius ini, ada sosok Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.I. Pengasuh Ponpes eLKISI yang juga menjabat sebagai Ketua Askab PSSI Kabupaten Mojokerto ini dikenal punya “kegilaan” yang visioner terhadap si kulit bundar. Bagi Kiai Fathur, mengurus umat tak melulu soal duduk bersila di atas sajadah; umat yang kuat adalah umat yang jasmaninya tangguh di lapangan.
Ia mentransformasi nilai Tauhid, disiplin iman, dan ketajaman akhlak langsung ke dalam strategi kick-off. Hasilnya? Tim eLKISI bukan lagi pemain figuran di Liga Santri. Mereka adalah petarung yang disegani, membuktikan bahwa identitas religius bukan penghalang untuk tampil “ganas” secara sportivitas.
Kurikulum Langit, Standar Nasional

Tidak tanggung-tanggung, peresmian ini menghadirkan dua begawan taktik: Indra Sjafri dan Joko Susilo (Direktur Teknik Pesantren Sepakbola eLKISI). Kehadiran mereka menegaskan bahwa eLKISI tidak sedang bermain-main dengan “sepak bola tarkam”. Mereka sedang membangun akademi dengan standar profesional namun memiliki fondasi spiritual yang tak tergoyahkan.
“Kita tidak hanya mencetak pemain yang jago dribbling, tapi pemain yang tahu kapan harus bersujud saat mencetak gol dan bagaimana menghormati lawan sebagai sesama ciptaan Tuhan,” ujar Kiai Fathur Rohman dalam keterangan yang menggerakkan.
Kepada kempalan.com, Dr. KH. Fathur Rohman menyampaikan pesan religius yang mendalam:
“Tujuan kami mulia dan sederhana: kami ingin melahirkan generasi yang kakinya kokoh di bumi (lapangan), namun hatinya tetap terpaku di langit. Sepak bola adalah bahasa universal. Jika kita bisa menanamkan Tauhid di tengah hiruk-piruk pertandingan, maka kita sedang membangun peradaban yang sehat, jujur, dan bertaqwa. Di eLKISI, bola adalah dakwah, dan lapangan adalah madrasah kehidupan.”
Dengan fasilitas mulai dari KB-TK hingga Institut dan Markaz Al-Qur’an, kehadiran Pesantren Sepakbola ini melengkapi ekosistem eLKISI sebagai kawah candradimuka yang paripurna. Kini, publik menanti: dari tanah Mojopahit Mojokerto ini, akankah lahir “Singa Allah” yang akan menggetarkan jaring gawang dunia?
Hanya waktu yang menjawab, namun satu yang pasti: Peradaban itu telah dimulai dari titik putih lapangan eLKISI.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi