SIDOARJO-KEMPALAN: Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2026 di Kabupaten Sidoarjo menyuguhkan drama politik tingkat tapak yang sarat intrik. Fenomena paling menarik perhatian publik terjadi di Desa Bligo, Kecamatan Candi, di mana rivalitas sengit justru lahir dari satu rukun tetangga (RT) yang sama.
Pertarungan elektoral di Desa Bligo memunculkan fenomena unik yang lazim disebut warga setempat sebagai “Satu RT Dua Kemanten” (Calon). Dua dari tiga kontestan yang bertarung, yakni Supriyono dan Doni Suhendro, sama-sama berasal dari RT 14/RW 06. Drama bermula saat Doni menyuruh sahabat karibnya, Supriyono, untuk maju bertarung dengan jaminan sokongan finansial penuh darinya.

Secara mengejutkan, Supriyono menolak mentah-mentah tawaran tersebut dengan dalih belum siap secara mental. Merespons penolakan itu, Doni bergerak taktis mengumpulkan tokoh masyarakat RT 14/RW 06 untuk merumuskan langkah strategis. Forum warga tersebut justru berbalik arah dan mendesak Doni Suhendro untuk maju sendiri sebagai representasi perubahan Desa Bligo.
“Melihat urgensi pembenahan desa, warga justru mendorong saya untuk maju. Dengan tekad bulat, bismillah, saya mendaftar demi membawa Bligo ke arah yang lebih maju dan adaptif terhadap perkembangan global,” ujar Doni Suhendro saat dikonfirmasi, Senin (25/5).
Plot politik semakin menggelitik ketika Supriyono tiba-tiba balik arah dan ikut mendaftarkan diri. Perubahan sikap yang drastis ini memicu spekulasi liar di akar rumput mengenai adanya intervensi kekuatan modal atau ‘bandar besar’ yang mendadak menyokong Supriyono di belakang layar. Kondisi ini sempat memicu kebingungan psikologis bagi pemilih di internal RT 14.

Namun, kalkulasi politik di atas kertas itu patah oleh realitas TPS. Doni Suhendro yang dikenal sebagai praktisi pemasaran (marketing) dan pakar teknologi informasi (TI) unggul telak. Ia berhasil mengonversi modal sosialnya menjadi kemenangan mutlak berkat reputasi personalnya yang kuat di mata warga jauh sebelum masa pencalonan.
“Pak Doni itu bukan orang asing bagi kami. Beliau sangat supel, mudah bergaul, dan punya kapasitas global. Buktinya, dua anak beliau menempuh pendidikan di Jerman,” ungkap Sri, salah satu pemilih emak-emak di Desa Bligo.
Senada dengan Sri, tokoh masyarakat setempat, Ibnu Hambal, menegaskan bahwa kepedulian Doni kepada lingkungan sekitar sudah teruji. “Beliau orang yang sangat peduli (care) dan ringan tangan membantu warga dalam segala hal. Itu dilakukan konsisten sejak dulu, bukan karena mau maju Pilkades saja,” tegas Ibnu.

Kecamatan Candi sendiri menyumbang 16 desa dalam perhelatan Pilkades serentak di Kabupaten Sidoarjo tahun ini. Berdasarkan data hasil rekapitulasi suara final di Desa Bligo, Doni Suhendro (Nomor Urut 3) sukses mendominasi perolehan suara dengan selisih yang sangat timpang dari para pesaingnya.
Berikut adalah rincian data statistik hasil pemungutan suara Pilkades Desa Bligo 2026:
Data Publikasi Hasil Pilkades Desa Bligo 2026
| Indikator Penyelenggaraan | Jumlah / Capaian |
|---|---|
| Daftar Pemilih Tetap (DPT) | 4.897 Pemilih |
| Tingkat Kehadiran Pemilih | 3.494 Orang |
| Angka Golongan Putih (Golput) | 1.385 Orang |
| Total Surat Suara Sah | 3.396 Surat |
| Total Surat Suara Tidak Sah | 98 Surat |
Perolehan Suara Sah Kontestan
- Calon Nomor Urut 1 (Supriyono): 291 Suara
- Calon Nomor Urut 2 (Meilani Rosiona, S.E.): 981 Suara
- Calon Nomor Urut 3 (Doni Suhendro): 2.124 Suara
Kemenangan mutlak Doni Suhendro dengan 2.124 suara ini menjadi sinyal politik kuat dari arus bawah. Warga Desa Bligo secara tegas memilih narasi modernisasi tata kelola desa berbasis TI dan strategi marketing global, sekaligus mematahkan manuver politik instan yang sempat membayangi jalannya kompetisi(Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi