SURABAYA-KEMPALAN: Suasana haru, bangga, dan penuh nostalgia menyelimuti halaman Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Kampus 2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Lidah Wetan, pada Minggu (14/6/2026). Sebanyak 400 lebih alumni lintas generasi dari era Sekolah Tinggi Olahraga (STO), Fakultas Keguruan Ilmu Keolahragaan (FKIK), hingga Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) berkumpul dalam perhelatan Reuni Akbar bertajuk “THE KAWUNG 1967-1995”.

Agenda nostalgia ini diawali dengan senam pagi bersama di halaman kampus, dilanjutkan dengan sesi ngopi bareng yang interaktif. Di tengah rintik kenangan masa lalu, para alumni saling bertukar cerita mengenai perjalanan panjang mereka selepas lulus dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya—yang kini bertransformasi menjadi Unesa. Pertemuan ini merefleksikan kontrasnya masa lalu saat perkuliahan masih berpusat di kawasan Kawung, dengan realitas masa kini di mana Unesa telah menjelma sebagai kampus dengan fasilitas olahraga termewah, megah, dan terbesar di Indonesia. Keberhasilan ini kian sahih setelah KONI Pusat menganugerahi Unesa sebagai Perguruan Tinggi Pembina Olahraga Terbaik Nasional 2026.
Dari ‘Sekolah Tanpa Otak’ Menjadi Kiblat Olahraga Nasional

Dekan FIKK Unesa, Dr. Irmantara Subagio, M.Kes., dalam sambutannya mengenang kembali stigma masa lalu dengan nada reflektif. “Dulu, Sekolah Tinggi Olahraga (STO) sering diplesetkan secara jenaka menjadi ‘Sekolah Tanpa Otak’. Namun hari ini, sejarah membuktikan sebaliknya. Stigma itu runtuh total. FIKK Unesa kini mutlak dan sahih menjadi kiblat pembangunan serta akademik olahraga di Indonesia,” tegasnya disambut tepuk tangan para alumni.
Lulusan “The Kawung” nyatanya telah menduduki berbagai posisi strategis bangsa. Banyak di antaranya yang mengabdi sebagai pejabat pemerintah, abdi negara, perwira TNI-POLRI, guru, dosen, pengusaha sukses, hingga pemilik klub olahraga profesional. Sebagian lainnya memilih kembali ke kampus sebagai pakar dan tenaga ahli yang memperkuat ekosistem akademik Unesa.
Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., menyampaikan rasa hormat dan bangganya yang mendalam terhadap kiprah para senior. “Saya sangat bangga melihat para alumni senior IKIP yang kini telah menjadi orang-orang hebat. Kontribusi mereka tidak hanya mewarnai dunia olahraga, tetapi juga merambah ke sektor manufaktur hingga infrastruktur jaringan berskala nasional. Hormat saya yang setinggi-tingginya untuk para senior,” ujar Rektor yang akrab disapa Cak Hasan tersebut.
Perjuangan Berdarah-darah Membangun Sport Science Tercanggih

Suasana berubah khidmat dan dramatis saat tokoh sekaligus Guru Besar Olahraga Unesa, Prof. Dr. Hari Setijono, M.Pd., memaparkan sejarah panjang pembangunan Kampus 2 Lidah Wetan. Ia mengisahkan betapa beratnya perjuangan masa lalu, mulai dari rumitnya proses pembebasan lahan hingga dinamika birokrasi yang menguras energi.
“Berdirinya gedung megah dengan fasilitas kelas wahid serta sarana prasarana sport science super canggih yang kita saksikan hari ini tidak jatuh dari langit. Ini adalah hasil perjuangan berdarah-darah,” kenang Prof. Hari.
Ia juga memberikan pesan mendalam terkait estafet kepemimpinan. “Tongkat estafet ini harus dijaga. Rawatlah Unesa agar terus bermanfaat bagi masyarakat luas. Mungkin generasi kita belum bisa menikmati seluruh kemegahan ini sepenuhnya, namun anak cucu kita kelak yang akan merasakan dampaknya dan berkewajiban merawat tempat ini dengan baik dan benar.”
Ikatan Emosional yang Melintasi Benua

Sentimen mendalam juga dirasakan oleh Cahyanti Wulandari, alumni angkatan 1994 yang kini menetap di Australia. Ia rela menempuh perjalanan ribuan kilometer demi menghadiri momen bersejarah ini.
“Acara reuni alumni Kawung angkatan 1967-1995 ini menjadi momen yang luar biasa, penuh haru, sekaligus sangat membahagiakan. Saya jauh-jauh dari Australia datang untuk menjemput rida Ilahi dan bertemu kembali dengan kawan-kawan seperjuangan,” ungkap Cahyanti kepada Kempalan.
Bagi Cahyanti, kehadiran para dosen senior memberikan nilai emosional yang tak ternilai harganya. “Bisa bertatap muka, bersalaman, dan menyampaikan terima kasih secara langsung kepada beliau-beliau yang telah berjasa membimbing kami adalah momen yang sangat menyentuh hati. Melihat beliau masih sehat adalah kebahagiaan luar biasa bagi kami,” tambahnya, seraya berharap dokumentasi foto bersama yang abadi dalam acara tersebut menjadi simbol kekuatan ikatan keluarga besar alumni Kawung yang solid dan penuh rasa hormat.
Langkah Strategis: Pembentukan Wadah Alumni Resmi

Pertemuan yang berlangsung hangat ini tidak sekadar menjadi ajang pelepas rindu. Guna memberikan dampak yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, seluruh alumni yang hadir secara mufakat sepakat untuk membentuk wadah ikatan alumni yang sah dan berkekuatan hukum. Kehadiran organisasi resmi ini diharapkan dapat menjadi jembatan sinergi yang lebih afdal antara alumni lintas generasi, kampus Unesa, dan kontribusi nyata bagi kemajuan olahraga di tanah air.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk kesehatan para pengajar senior dan kelestarian tali silaturahmi “The Kawung” agar tetap kokoh melintasi zaman.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi