BANYUWANGI-KEMPALAN: Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengambil langkah strategis dalam membangun fondasi olahraga nasional yang kokoh. UNESA memanfaatkan keunggulan sport science melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Universitas Bakti Indonesia (UNIBA) Banyuwangi, Kamis (21/5).
Kegiatan yang mengusung tema “Strategi Talent Scouting untuk Optimalisasi Prestasi Atlet Bola Voli Usia Dini” ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor 3 UNIBA, Megandhi Gusti Wardana, S.P., M.P. Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banyuwangi, Ahmad Khairullah, bersama Sekretaris Umum KONI, Supriyanto. Kehadiran para tokoh ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan praktisi olahraga di daerah.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor 3 UNIBA, Megandhi Gusti Wardana, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif FIKK UNESA. “Kolaborasi ilmiah seperti ini sangat dibutuhkan oleh perguruan tinggi di daerah. Penerapan sport science dari UNESA menjadi kunci penting untuk mentransformasi sistem pembinaan atlet kita dari konvensional menjadi berbasis data ilmiah,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua KONI Banyuwangi, Ahmad Khairullah, optimistis bahwa kegiatan ini akan membawa dampak jangka panjang. “FIKK UNESA telah membentuk fondasi kokoh bagi masa depan atlet voli di Banyuwangi. Dengan talent scouting yang tepat sejak usia dini, kita tidak lagi meraba-raba dalam mencetak atlet berprestasi, melainkan membangunnya secara terukur,” tegas ketua KONI.

Kegiatan PKM ini diikuti secara antusias oleh anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) serta mahasiswa setempat. Materi pelatihan dan kajian ilmiah ini dibimbing langsung oleh tim pakar FIKK UNESA yang terdiri dari Dr. Heryanto Nur Muhammad, Luthfi Abdil Khuddus, S.Pd., M.Pd., Sri Wicahyani, M.Pd., dan Dr. Taufiq Hidayat, S.Pd., M.Kes.
Dalam paparan ilmiahnya, Dr. Taufiq Hidayat, S.Pd., M.Kes., menyatakan bahwa masa usia dini (6–12 tahun) merupakan golden age atau masa emas bagi anak untuk meletakkan dasar-dasar keterampilan dan meningkatkan kapasitas motorik. Namun, kenyataan di lapangan sering kali menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam program penanganan pelatihan atlet muda.
“Fenomena yang sering terjadi saat ini adalah fokus berlebihan pada hasil pertandingan atau kemenangan instan, bukan pada proses pengembangan. Selain itu, program latihan yang kurang terstruktur serta adanya cedera dini akibat beban latihan yang berlebihan menjadi ancaman serius bagi masa depan atlet,” ujar Dr. Taufiq.
Melalui PKM ini, tim akademisi UNESA memaparkan pentingnya pendekatan terintegrasi berbasis ilmu keolahragaan modern dalam melatih atlet bola voli usia dini. Pendekatan ini menggabungkan latihan mental yang menyenangkan (fun training) guna membangun kecintaan abadi pada olahraga. Metode tersebut sekaligus menanamkan karakter positif seperti disiplin, kerja sama tim, sportivitas, dan ketangguhan mental sejak dini.
Peserta yang terdiri dari guru olahraga dan mahasiswa dibekali metode latihan fisik utama berbasis penelitian ilmiah untuk mengembangkan performa anak, antara lain:
Kelincahan (Agility): Melalui latihan tangga (ladder drill) dan lari zig-zag.
Kecepatan (Speed): Melalui shuttle run dan latihan lari jarak pendek.
Daya Tahan (Endurance): Melalui permainan interaktif yang melibatkan banyak gerakan.
Kekuatan (Strength): Melalui latihan beban tubuh (bodyweight) yang aman seperti squat ringan dan push-up.
Tidak hanya dari aspek fisik, strategi optimalisasi jangka panjang ini juga mencakup penyediaan nutrisi dan gizi seimbang untuk pertumbuhan tulang serta otot.

Pemantauan kesehatan secara rutin wajib dilakukan guna mencegah cedera kronis akibat kelelahan berlebih (overtraining).
Pada sesi akhir, tim PKM UNESA menekankan pentingnya sinergi dengan orang tua sebagai mitra strategis. Orang tua diharapkan dapat memberikan dukungan emosional, membangun pola berpikir positif, dan tidak membebani anak dengan ekspektasi juara yang terlalu tinggi secara instan. Melalui penguatan kompetisi berjenjang seperti turnamen mini voli, ajang tanding bagi anak-anak murni diposisikan sebagai alat evaluasi, bukan sekadar memburu kemenangan semata.
Agus Priyanto, S.Pd., seorang guru PJOK di Kabupaten Banyuwangi, menyatakan bahwa PKM ini sangat bermanfaat dalam menyatukan diskusi antara guru sebagai praktisi dan narasumber sebagai akademisi.
Sinergi ini merumuskan bagaimana memajukan prestasi bola voli mulai dari akar rumput (grassroot), yaitu pembinaan usia dini.
Melalui pelatihan ini, para guru dan calon guru PJOK di Banyuwangi diharapkan mampu mengidentifikasi bakat-bakat muda bola voli secara tepat, terukur, dan berkelanjutan demi masa depan prestasi olahraga Indonesia yang lebih gemilang.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi