SIDOARJO-KEMPALAN : Di tengah hiruk-pikuk kontestasi politik desa, seorang calon kepala desa memilih bekerja tanpa riuh. Doni Fitraidin, calon Kepala Desa Siwalan Panji nomor urut 1, bersama relawannya secara senyap memperbaiki jalan berlubang di kawasan Jalan Hamdani, dekat Pondok Pesantren Al Hamdaniyah—salah satu pesantren tertua di Indonesia.
Tak ada orasi, tak ada tenda kampanye. Yang ada hanyalah cangkul, sekop, pasir, koral, semen, aspal, dan satu unit alat berat (skid steer loader) pinjaman dari simpatisan yang peduli. Mereka bekerja sejak pagi. Panas terik tak menghalangi. Keringat membasahi kulit, baju lusuh melekat di tubuh. Tanpa upah, tanpa iming-iming.
“Ini panggilan jiwa, bukan cari popularitas. Saya paham, momen Pilkades membuat orang menilai beragam. Tapi niat ikhlas ini untuk membantu program Pak Bupati, di titik yang belum tersentuh,” ujar Doni Fitraidin saat ditemui di lokasi, Sabtu (16/5).
Lubang yang Tak Tersentuh Tim Siber Pemkab

Jalan Hamdani selama berbulan-bulan menjadi keluhan warga, terutama santri dan pelajar yang setiap hari melintas menuju sekolah serta ponpes. Kawasan ini memang belum masuk dalam jadwal perbaikan tim siber pemeliharaan jalan Kabupaten Sidoarjo. Doni dan kawan-kawan mengambil inisiatif menambal sejumlah titik kritis.
“Alhamdulillah, berkat tenaga dan pikiran teman-teman, sedikit bisa menembak (menambal) jalan yang berlubang,” tambah Doni dengan nada rendah, tanpa riak kesombongan.
Dahlan, warga Siwalan Panji, mengaku bangga. “Mereka tidak minta bantuan warga. Malah warga yang ikut membantu. Ini dekat pesantren, banyak santri lewat. Niat baik Mas Doni sangat terasa.”
Testimoni Gus Hasan: Sidik Amanah, Tabligh, Fathonah

Puncak kesan mendalam datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Rehabilitasi Moral Siwalan Panji, Gus Hasan. Dengan santun dan religius, beliau membuka tabir sosok Doni yang dikenalnya sejak masih menjadi santri di pondoknya.
“Saya melihat Gus Doni itu seperti ini: meski orangnya sederhana, tapi hatinya baik. Ibaratnya, Doni itu potongan preman tapi hatinya kyai. Itu lebih baik daripada potongan kyai tapi hatinya preman.”
Gus Hasan juga mengingatkan kriteria pemimpin sejati: sidik (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathonah (cerdas). Semua itu, menurutnya, terpancar dalam keseharian Doni Fitraidin.
Doa dan harapan Gus Hasan pun mengalir:
“Jika terpilih, tetaplah Doni yang dulu meski zaman now. Jangan kehilangan ciri khasnya.”
Kesenyapan yang Bicara Lebih Keras dari Retorika

Di era politik yang kerap bising oleh janji dan serangan, aksi membalut aspal di atas tanah berlubang menjadi noktah kontemplatif. Doni tidak menjelaskan program. Dia menuangkannya. Bukan untuk pencitraan, kata dia, melainkan untuk menjawab panggilan hati.
Relawan yang ikut disebut-sebut bukan tim sukses profesional, melainkan anak muda yang meyakini bahwa perbaikan tak harus selalu menunggu perintah.
Satu kalimat warga menutup percakapan: “Kalau pemimpin macam ini yang menang, lubang di desa kita mungkin akan perlahan hilang—tanpa perlu ramai-ramai.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi