Minggu, 31 Mei 2026, pukul : 14:01 WIB
Surabaya
--°C

Prabowo Semakin “Butut”

Bisa sampai tahap memuakkan, mengingat pidato keras tentang penghematan dan kecaman pejabat yang sering kunjungan ke luar negeri. Kemunafikan nyata dari seorang yang bernama Prabowo.

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Empat kali bolak balik Perancis menimbulkan pertanyaan sepenting apa kunjungan intensif tersebut? Biaya negara dihambur-hamburkan sesuka hati.

Menlu Sugiono dan Sekkab Teddy Indra Wijaya mendampingi Presiden Prabowo Subianto seperti menjadi Three Musketeers karya Alexandre Dumas. Mereka itu Porthos, Aramis, dan Athos yang sangat berkhidmat pada Louis XIII di Paris.

Louis XIII raja lemah yang sangat tergantung kepada menteri utamanya Charles d’Albert, Duc de Luynes, dan Kardinal Richeliu. Meskipun lemah, ia dan kelak puteranya Louis XIV menjadi peletak dasar dari kekuasaan absolut.

Ucapan terkenal Louis XIV yaitu “l’etat c’est moi” – Negara adalah aku. Kekuasaan absolut ini yang mendasari terjadinya Revolusi Perancis di masa kekuasaan Louis XVI. Revolusi berakar pada kesenjangan sosial dimana rakyat lapar dan Istana hidup bermewah-mewah.

BACA JUGA  Percakapan Hayal Soeharto-Soemitro tentang Kepemimpinan Prabowo

Prabowo bolak-balik Perancis menciptakan gambaran kemewahan. Menginap lagi  di Hotel mahal Four Seasons George V Paris berbiaya menginap 5,8 miliar rupiah. Tiba Selasa bertemu Presiden Emmanuel Macron Kamis.

Kesan berlibur sangat kentara karena agenda selama di Perancis tidak transparan. Kunjungan mendadak ini bertepatan dengan program “lempar batu sembunyi tangan” qurban 1.098 ekor sapi APBN yang di dalam negeri menjadi kontroversial.

Melempar kotoran sapi ke rakyat Indonesia khususnya umat Islam yang “harga”-nya dinilai hanya 100 miliar rupiah saja.

Sementara uang qurban itu hasil rampokan dari kas APBN. Para tokoh politik, bahkan ada ulama membela mati-matian qurban Prabowo dengan dana APBN tersebut. Mereka terharu atas kebaikan Prabowo, lupa akan kemungkinan itu adalah lemparan kotoran sapi 1.098 demi 2029.

Di Perancis ia cipika-cipiki dengan Macron datang dan pergi. Jabat tangan dan pelukan hangat untuk menikmati jamuan santap malam di Les Salon des Potraits Istana Elysee Paris. Bincang bincang tentang segala hal.

BACA JUGA  Kontroversi Kurban Istana

Dari cipika-cipiki ini keluar instruksi Prabowo kewajiban sekolah di Indonesia untuk mengajarkan bahasa Perancis. Mungkin guru kelilingnya nanti diantaranya Didit Hediprasetyo putera Prabowo alumni berijazah asli Parsons School of Design Paris.

Sebanyak 50 kali piknik luar negeri berbaju dinas dan 4 kali dalam waktu yang rapat ke Perancis bertemu Macron. Sesungguhnya, telah 5 kali dengan ketika kunjungan Macron ke Indonesia, luar biasa hangat dan aneh.

Bisa sampai tahap memuakkan, mengingat pidato keras tentang penghematan dan kecaman pejabat yang sering kunjungan ke luar negeri. Kemunafikan nyata dari seorang yang bernama Prabowo.

Setelah berbagai program dalam negeri ambruk dan menggerus dana negara, Prabowo semakin menunjukkan ketidakbecusan dalam mengelola negara.

Kunjungan terakhir yang romantis dan tidak strategis ke Paris membuat konklusi kuat bahwa Prabowo adalah Presiden yang memang “butut”. Rakyat tidak bisa terus membiarkan.

*) Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.