Empat puluh hari itu sudah berlalu. Kita sudah melewatinya. Dan, Indonesia masih berdiri. Mungkin tidak sempurna. Mungkin masih penuh masalah. Mungkin masih banyak yang harus diperbaiki.
Oleh: Agus M Maksum
KEMPALAN: Bagian ini bukan lanjutan kronologi. Ini adalah cerita di balik layar. Tentang apa yang sebenarnya mendorong saya menulis Bagian-1 dan Bagian-2.
Karena banyak yang bertanya: mengapa sampai repot mengikuti hari demi hari, angka demi angka, lalu menuliskannya panjang lebar? Jawabannya ternyata sederhana. Ada tiga pemicu.
Tiga Hal yang Membuat Saya Menulis Semua Ini
Saya harus jujur. Awalnya saya tidak berniat menulis serial ini. Saya bukan analis pasar modal. Bukan ekonom yang setiap hari hidup dari grafik IHSG. Bukan pula dealer valas yang memantau kurs rupiah dari pagi sampai malam.
Tetapi pada tanggal 3 dan 4 Juni 2026, saya melihat sesuatu yang membuat saya gelisah. Bukan karena IHSG jatuh. Bukan karena rupiah melemah. Dalam sejarah ekonomi Indonesia, peristiwa seperti itu pernah terjadi berkali-kali.
Yang membuat saya gelisah adalah cara orang membaca peristiwa itu. Dan, kegelisahan itulah yang akhirnya melahirkan Bagian-1 dan Bagian-2. Kalau diringkas, pemicunya ada tiga.
Pemicu Pertama: Yang Viral Hanya Kejatuhannya, Bukan Kebangkitannya
Saya masih ingat betul malam itu. Grup-grup WhatsApp ramai bukan main. Mulai grup bisnis. Grup profesional. Grup aktivis. Grup alumni. Sampai grup keluarga.
Semua membicarakan hal yang sama. Rupiah menuju Rp 18.000. IHSG jatuh di bawah 6.000. Setiap beberapa menit muncul tangkapan layar baru. Setiap ada pelemahan sedikit langsung disebarkan.
Seolah seluruh negeri sedang menyaksikan hitungan mundur menuju krisis. Narasinya juga hampir seragam: Indonesia akan runtuh; Ini 1998 jilid dua; Kebijakan ekonomi gagal; Investor sudah tidak percaya; Tinggal menunggu waktu.
Malam itu saya membaca ratusan komentar. Dan hampir semuanya bernada sama. Pesimis. Panik. Seolah-olah kehancuran sudah pasti terjadi. Kemudian, saya menunggu.
Karena saya tahu pasar tidak pernah berhenti pada satu hari. Pasar selalu bergerak. Dan benar saja. Beberapa hari kemudian keadaan mulai berubah. Rupiah perlahan menguat. IHSG mulai rebound.
Intervensi fiskal dan moneter mulai bekerja. Sentimen pasar membaik. Dan, Investor mulai membaca ulang fundamental Indonesia. Tetapi ada sesuatu yang aneh.
Ketika jatuh, semua orang berteriak. Ketika bangkit, hampir tidak ada yang bicara. Ketika rupiah melemah, semua grup penuh tangkapan layar. Ketika rupiah menguat, suasana mendadak sunyi.
Ketika IHSG turun, semua orang menjadi analis. Ketika IHSG naik, semua orang mendadak diam. Di situlah saya sadar. Bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar peristiwa ekonomi.
Yang sedang terjadi adalah pertarungan persepsi. Karena persepsi publik akhirnya berhenti pada titik paling gelap. Banyak orang masih percaya, Indonesia sedang menuju krisis, padahal pasar sudah mulai berbalik arah.
Saya merasa ada bagian cerita yang hilang. Dan bagian yang hilang itulah yang ingin saya tuliskan.
Pemicu Kedua: Ketika Wasit Dianggap Tidak Mungkin Punya Kepentingan
Pemicu kedua justru lebih mengganggu pikiran saya. Karena datang dari kalangan yang sangat terdidik.
Saya melihat begitu banyak profesional, akademisi, analis, dan bahkan tokoh publik yang memulai argumennya dari satu asumsi yang dianggap tidak boleh dipertanyakan.
Bahwa lembaga-lembaga seperti MSCI, Moody’s, S & P, Fitch dan berbagai institusi internasional lainnya adalah lembaga profesional yang netral.
Karena dianggap netral, maka seluruh kesimpulan mereka juga dianggap netral. Ketika mereka memberi peringatan kepada Indonesia. Ketika mereka mengubah outlook.
Ketika mereka mengancam menurunkan rating. Maka itu langsung dianggap sebagai bukti bahwa pemerintah salah. Bahwa kebijakan fiskal salah. Bahwa kebijakan ekonomi salah. Bahwa negara salah. Titik. Selesai.
Tak ada ruang untuk bertanya lebih jauh. Padahal sejarah dunia menunjukkan bahwa lembaga-lembaga ekonomi global tidak pernah benar-benar berdiri di ruang hampa.
Mereka lahir dari sebuah paradigma. Mereka bekerja dengan seperangkat asumsi. Mereka memiliki cara pandang tertentu tentang negara dan pasar. Dan cara pandang itu tidak selalu identik dengan amanat Pasal 33 UUD 1945.
Di sinilah kegelisahan saya muncul. Karena saya melihat perdebatan yang sebenarnya sangat ideologis justru dipresentasikan seolah-olah sebagai persoalan teknis yang netral.
Padahal yang sedang dipertarungkan adalah dua pandangan besar.
Pandangan pertama mengatakan: “Pasar harus menjadi aktor utama”.
Pandangan kedua mengatakan: “Negara harus hadir menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi hajat hidup orang banyak.”
Yang pertama berangkat dari paradigma pasar bebas. Yang kedua berangkat dari Pasal 33 UUD 1945. Dan menurut saya, benturan dua paradigma itu tidak dibicarakan secara jujur.
Pemicu Ketiga: Yang Saya Lihat dengan Mata Seorang Praktisi IT
Ini yang paling sulit saya jelaskan ke orang yang tidak pernah bergelut di dunia siber.
Selama bertahun-tahun saya berkecimpung di dunia IT, termasuk pernah ikut menangani sisi digital sebuah kontestasi politik besar. Dari situ saya belajar satu hal: perang hari ini tidak selalu datang dengan peluru.
Ia datang dengan narasi yang dirancang, ditembakkan dari banyak titik sekaligus, lalu dibiarkan menjalar sendiri lewat jaringan yang sudah ada.
Ketika saya menyusun ulang empat puluh hari itu – bukan dari perasaan, tapi dari urutan tanggalnya – saya melihat sesuatu yang, dengan latar belakang saya, sulit saya sebut kebetulan murni.
Lembaga pemeringkat bicara di satu waktu. Media bisnis global menulis di waktu yang berdekatan. Cuplikan analisis akademis beredar tepat di titik paling genting.
Lalu mahasiswa turun ke jalan, dan gambar itu langsung diangkut kantor berita asing. Semua titik itu, dilihat sendiri-sendiri, masing-masing punya alasan yang masuk akal dan sah.
Tapi dilihat bersamaan, dalam jendela waktu yang sama, dengan arah pesan yang sama persis – itu adalah pola yang saya kenal. Pola yang dalam dunia yang saya geluti biasa disebut narrative warfare.
Perang yang modalnya bukan senjata, melainkan jaringan jurnalis, akademisi, dan amplifikasi media sosial yang bekerja hampir serempak.
Saya tidak punya bukti ada satu ruang kendali tunggal yang menggerakkan semuanya. Saya tidak akan mengaku tahu siapa dalangnya, karena itu akan jadi tuduhan yang saya sendiri tidak bisa pertanggungjawabkan.
Tetapi, sebagai orang yang memang dilatih membaca pola digital, saya bisa meyakini dan merasakan: ini bukan kebetulan acak.
Ada kepentingan yang sangat nyata, mungkin juga tujuan politik, dari pihak-pihak yang gelisah melihat Indonesia mulai bangun dari tidur panjangnya – mulai mengelola sendiri pasarnya, sumber daya alamnya, dan industrinya, setelah puluhan tahun membiarkan itu semua dikelola dari luar.
Itulah pemicu ketiga. Dan, karena saya tidak mungkin bisa membuktikannya di pengadilan, maka saya memilih jalan yang bisa saya pertanggungjawabkan: menuliskannya secara kronologis, dengan data yang bisa dicek semua orang, dan membiarkan pembaca menilai sendiri apakah pola itu nyata atau hanya kecurigaan saya semata.
Dari Bloomberg ke Kampus
Yang lebih menarik lagi, narasi tersebut tidak berhenti di pasar keuangan. Ia bergerak. Menyebar. Menjelma menjadi opini. Menjadi artikel. Menjadi suatu podcast. Menjadi diskusi akademik.
Menjadi potongan-potongan presentasi. Menjadi status media sosial. Menjadi materi diskusi mahasiswa. Lalu tanpa disadari berubah menjadi kesimpulan bersama. Bahwa negara terlalu banyak campur tangan.
Bahwa hilirisasi bermasalah. Bahwa penguasaan sumber daya alam (SDA) oleh negara berbahaya. Bahwa instrumen seperti DSI Danantara membuat investor takut.
Bahwa solusi terbaik adalah mengurangi peran negara. Di titik inilah saya mulai melihat sesuatu yang menurut saya penting untuk dicatat. Bukan itu karena saya anti kritik.
Justru sebaliknya. Saya mendukung kritik. Tetapi saya ingin memastikan saja bahwa kritik tidak kehilangan konteks geopolitiknya. Karena seringkali yang tampak sebagai kritik teknis ternyata membawa konsekuensi strategis yang jauh lebih besar.
Mengapa Saya Memilih Menulis Kronologis
Karena itulah maka saya memilih menulis secara kronologis. Hari demi hari. Peristiwa demi peristiwa. Data demi data. Bukan karena saya ingin meraih dan memenangkan perdebatan.
Tetapi karena saya ingin pembaca melihat sendiri prosesnya. Saya ingin orang bisa memeriksa sendiri. Mengecek sendiri. Menilai sendiri. Bahwa Indonesia memang sempat terpukul.
Tetapi tidak runtuh. Bahwa pasar memang sempat panik. Tetapi tidak kolaps. Bahwa tekanan memang nyata. Tetapi perlawanan juga nyata. Dan yang lebih penting lagi:
Saya ingin membuka ruang diskusi bahwa lembaga-lembaga internasional itu tidak otomatis identik dengan kebenaran mutlak. Mereka boleh benar. Mereka juga bisa keliru.
Mereka boleh profesional. Tetapi mereka tetap bekerja di dalam paradigma tertentu. Sebagaimana kita juga bekerja di dalam paradigma kita sendiri.
Pada Akhirnya
Jadi sesungguhnya tulisan Bagian-1 dan Bagian-2 lahir dari tiga kegelisahan sederhana.
Pertama, karena yang diberitakan terus-menerus adalah kejatuhan Indonesia, sementara proses kebangkitannya nyaris tidak mendapat perhatian yang seimbang.
Kedua, karena terlalu banyak orang menerima begitu saja narasi bahwa negara harus mundur dan pasar harus maju, tanpa pernah bertanya: paradigma siapa yang sebenarnya sedang bekerja di balik narasi itu.
Ketiga, karena dengan latar belakang saya dalam dunia IT dan pengalaman menangani sisi digital sebuah kontestasi besar, saya melihat pola pergerakan narasi empat puluh hari itu punya kerapian yang, menurut penilaian saya pribadi, sulit disebut kebetulan semata.
Karena itulah saya menulis. Bukan karena saya membenci kritik. Juga, bukan karena saya anti mahasiswa. Bukan karena saya anti akademisi. Apalagi anti pasar.
Saya hanya merasa bahwa ada bagian dari cerita yang hilang. Dan, ketika sebuah bangsa kehilangan separuh ceritanya, maka ia berisiko mengambil kesimpulan yang salah tentang dirinya sendiri.
Empat puluh hari itu sudah berlalu. Kita sudah melewatinya. Dan, Indonesia masih berdiri. Mungkin tidak sempurna. Mungkin masih penuh masalah. Mungkin masih banyak yang harus diperbaiki.
Tetapi satu hal sudah terbukti. Indonesia diserang habis-habisan. Dan bahwa Indonesia tidak jatuh.
Karena ternyata fundamental sebuah bangsa tidak hanya diukur oleh kurs dan indeks saham. Tetapi juga oleh keberanian rakyatnya untuk tetap percaya pada masa depannya sendiri.
*) Agus M Maksum, Pemerhati Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik, Praktisi IT, Pembuat Patent Platform Digital Ekonomi Pancasila, Mantan Ketua Senat Mahasiswa ITS, Aktivis 98, Mantan Ketua Tim IT/Cyber Prabowo-Sandi 2019
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi