Diserang habis-habisan selama 40 hari. Dari luar dan dari dalam. Dengan senjata paling canggih yang dimiliki dunia keuangan global. Dan kita masih berdiri.
Oleh: Agus M Maksum
KEMPALAN: Saya mau bercerita. Bukan cerita yang menyenangkan. Tapi, cerita yang perlu Anda tahu.
Karena selama 40 hari terakhir – dari pertengahan Mei hingga pertengahan Juni 2026 – Indonesia baru saja melewati sesuatu yang, kalau tidak dicatat dengan benar, akan hilang begitu saja dari ingatan kolektif kita. Padahal ini penting. Sangat penting.
Catatan 40 Hari Paling Berbahaya dalam Sejarah Pasar Keuangan Kita
Ini bukan sekadar cerita tentang saham yang turun drastis. Atau rupiah yang melemah. Ini cerita tentang sebuah negara yang diserang. Dari berbagai arah. Secara bersamaan. Dengan cara yang sangat canggih.
Dan – ini bagian yang paling penting – kita berhasil bertahan.
Setiap peristiwa tercatat. Setiap angka terverifikasi. Disusun dan dinarasikan oleh penulis berdasarkan urutan kejadian yang sesungguhnya terjadi, agar sejarah tidak diputarbalikkan.
Bagian Pertama: Mengapa Kita Diserang?
Sebelum bicara soal serangan, kita harus bicara soal sebabnya.
Indonesia punya sumber daya alam yang luar biasa. Nikel. Batu bara. Kelapa sawit. Tembaga. Bauksit. Puluhan tahun, kita jual semuanya dalam bentuk mentah. Digali, dikemas, dikirim. Negara lain yang mengolah. Negara lain yang dapat nilai tambahnya. Kita dapat recehan.
Lalu datanglah keputusan besar itu. Tidak boleh lagi.
Kita harus hilirisasi. Kita harus olah sendiri di dalam negeri. Nikel tidak boleh diekspor mentah. Bauksit tidak boleh diekspor mentah. Dan bahkan, muncul wacana pengawasan ketat seluruh ekspor komoditas melalui entitas negara baru di bawah Danantara.
Keputusan ini – bagi Indonesia – adalah langkah yang sudah seharusnya dilakukan puluhan tahun lalu. Tapi bagi pihak lain? Ini ancaman.
Bayangkan Anda sudah puluhan tahun membeli beras murah dari tetangga, lalu tiba-tiba tetangga itu bilang: “Mulai sekarang saya tidak jual beras mentah lagi. Saya jual nasi goreng saja.”
Anda pasti kesal, bukan? Begitulah kira-kira yang terjadi.
Singapura – yang selama ini menjadi hub perdagangan komoditas terbesar di kawasan – mulai gelisah. Pelabuhan mereka, bank-bank komoditas mereka, trader-trader mereka, selama ini hidup subur dari aliran bahan mentah dari Indonesia yang mengalir deras melewati negeri kecil itu.
Kalau Indonesia serius hilirisasi, aliran itu mengecil. Bisnis itu terganggu. Posisi Singapura sebagai pusat finansial komoditas Asia Tenggara – terancam. Kegelisahan ini tidak didiamkan. Ia diubah menjadi strategi.
Bagian Kedua: Serangan Babak Pertama – Lembaga-Lembaga Besar Mulai Bicara
Januari 2026. MSCI – lembaga pemeringkat indeks saham global yang dipatuhi jutaan fund manager di seluruh dunia – mengeluarkan peringatan.
Indonesia mungkin diturunkan dari kategori Emerging Market ke Frontier Market. Sekilas terdengar teknis. Membosankan. Seperti urusan orang kantoran di gedung kaca. Tapi dampaknya besar sekali.
Karena ribuan fund manager di seluruh dunia – mulai dari New York, London, Tokyo, Zurich – mereka tidak bisa sesuka hati memilih saham mana yang mau dibeli. Mereka mengikuti indeks.
Kalau Indonesia turun dari Emerging Market ke Frontier Market, otomatis dana mereka harus keluar dari saham Indonesia. Bukan karena mereka tidak suka Indonesia. Tapi karena aturan investasi mereka memang begitu.
Ini yang disebut passive outflow. Dana keluar bukan karena panik, tapi karena mekanis. Seperti air yang mengikuti gravitasi. Estimasinya? US$ 1,8 miliar siap terbang keluar.
Lalu Februari 2026. Moody’s – lembaga pemeringkat utang paling disegani di dunia – mengumumkan sesuatu. Mereka tidak menurunkan rating Indonesia. Rating kita tetap Baa2 — investment grade, layak investasi.
Tapi mereka mengubah outlook dari Stabil menjadi Negatif. Dalam bahasa pasar keuangan, ini seperti dokter yang bilang: “Kondisi Anda belum kritis. Tapi saya khawatir dengan tren-nya.”
Cukup untuk membuat investor gelisah. Cukup untuk membuat jari-jari mulai melayang ke tombol jual.
Dua pukulan itu – MSCI dan Moody’s – datang pada awal tahun. Pasar mulai waspada. Dana asing mulai sedikit-sedikit bergerak ke pintu keluar. Tetapi, belum panik. Belum seperti banjir.
Barulah kemudian, babak kedua dimulai.
Bagian Ketiga: Serangan Babak Kedua – Media Global Masuk Gelanggang
Pertengahan Mei 2026. The Economist – majalah bisnis paling berpengaruh di dunia, dibaca oleh para CEO, menteri keuangan, dan pembuat kebijakan di 200 negara – menerbitkan artikel tentang Indonesia.
Judulnya tidak ramah. Intinya: Presiden Prabowo Subianto dinilai terlalu boros dalam mengelola anggaran. Gaya kepemimpinannya dipertanyakan. Demokrasi Indonesia disebut sedang dalam bahaya.
Satu artikel. Di media yang tepat. Dibaca oleh orang yang tepat. Pada waktu yang tepat. Dampaknya? Tidak perlu menunggu lama. Lalu Bloomberg masuk.
Bloomberg bukan sekadar media biasa. Bloomberg adalah terminal yang dipakai oleh hampir semua trader, fund manager, dan bankir investasi di seluruh dunia. Kalau The Economist dibaca sambil minum kopi pagi, dan Bloomberg dibaca sambil jari siap menekan tombol beli atau jual.
Dan, kemudian Bloomberg mulai menyiarkan satu narasi: “Sell Indonesia.” Jual Indonesia.
Dua kata itu mulai menyapu meja-meja trading di London, New York, Hong Kong, dan Singapura.
Dan Bloomberg bahkan merilis video berjudul “Why Investors Are Losing Confidence in Indonesia” pada 11 Juni. Bukan hanya satu artikel. Tetapi, serangkaian laporan, analisis, dan video yang membangun satu cerita besar secara sistematis:
Indonesia tidak aman untuk investasi.
Bagian Keempat: Serangan Babak Ketiga – Suara dari Dalam Negeri
Ini yang paling menyakitkan. Serangan dari luar bisa lebih mudah kita baca sebagai serangan. Kita bisa bilang: “Itu kepentingan asing.” Kita bisa jaga jarak.
Tetapi ketika suara-suara dari dalam negeri sendiri ikut memperkuat narasi itu – dengan atau tanpa kesengajaan – dampaknya berlipat ganda. Bahkan, berlipat sepuluh kali.
Karena pasar keuangan global punya satu aturan tidak tertulis: yang paling dipercaya adalah suara orang dalam.
Nama-nama akademisi dan pengamat mulai sering muncul di layar kaca. Muhammad Chatib Basri yang pandangannya selalu ditunggu pasar. Ferry Latuhitin dengan analisis-analisisnya. Suara-suara dari kalangan ESDM. Para ekonom yang tampil di televisi, menulis di kolom opini, diundang ke podcast.
Dan kemudian – yang paling bergemuruh – datanglah slide presentasi Prof. Dr. M. Ikhsan.
Ikhsan adalah nama besar. Ekonom senior. Akademisi dengan rekam jejak panjang dan reputasi yang dibangun dengan kerja keras bertahun-tahun. Ketika ia bicara, ruangan mendengarkan. Ketika slide-nya beredar, orang membaca dengan serius.
Dan slide itu beredar. Ia kemudian membuka dengan tiga pesan yang langsung menancap:
“Belum di jurang, tapi sedang berjalan ke sana. Indikator makro masih punya buffer. Tetapi pola pelemahan institusi, defisit kredibilitas fiskal, dan retorika yang menggantikan reformasi adalah pola yang sama yang mendahului 1997–1998. Ruang untuk menghindar mengecil setiap bulan – bahkan setiap hari.”
Kalimat itu – dibaca utuh – sebenarnya adalah peringatan yang hati-hati. Ada pengakuan bahwa kita masih punya buffer. Ada pengakuan bahwa ruang untuk berbalik masih terbuka.
Tapi manusia tidak membaca kalimat utuh. Manusia membaca penggalan. Dan penggalan yang paling mudah dicerna, paling mudah di-screenshot, paling mudah disebarkan di grup WhatsApp dan Twitter adalah: “Sedang berjalan ke jurang.”
Dalam slide-nya itu, Ikhsan memetakan kondisi hari ini dan menempatkan beberapa kebijakan pemerintah dalam kolom yang sama dengan gejala-gejala pra-krisis 1997: denial, menyalahkan pihak lain, mega-proyek tanpa cost-benefit yang rigorous, ekspansi fiskal melalui BUMN.
Kemudian, muncullah frasa yang paling mencolok: “Retorika nasionalis menggantikan substansi reformasi.” Berhenti sejenak di sini.
Frasa ini bukan sekadar kalimat akademis biasa. Ini adalah framing. Dalam kerangka berpikir ini, kebijakan kemandirian ekonomi – hilirisasi, penguatan peran negara dalam mengelola sumber daya alam, upaya agar nilai tambah tertinggal di dalam negeri – semua itu dibingkai sebagai sekadar retorika, bukan substansi.
Jelas. Ini adalah cara berpikir yang sangat khas dari mazhab yang disebut Washington Consensus – keyakinan bahwa pasar bebas, liberalisasi, dan disiplin fiskal ketat adalah satu-satunya jalan menuju kemakmuran.
Kerangka yang sama yang pernah dipakai IMF sejak 1990-an untuk mencegah negara-negara berkembang melakukan lompatan industri sendiri.
Ikhsan menutup dengan “Empat Langkah untuk Menjauh dari Jurang” – yang ia akui sendiri: “Sederhana untuk dirumuskan. Mahal untuk dilaksanakan.”
Dan di langkah ketiga, ia memberi contoh yang sangat kuat: “Hentikan, Tunda atau Scale down Proyek Prestise Tak Layak – sama seperti BJ Habibie ketika ia membunuh IPTN.”
Lalu pertanyaannya menjadi sangat terbuka dan sangat berbahaya: Jika IPTN dulu harus dibunuh, proyek prestise tak layak hari ini apa?
Dalam narasi yang sedang bergulir kencang – yang dikuatkan The Economist, Bloomberg, dan gelombang Sell Indonesia – jawabannya sudah diarahkan ke tanpa perlu disebut eksplisit:
MBG. Koperasi Desa Merah Putih. Hilirisasi. Danantara. Dan “kelayakan” itu diukur dengan standar siapa?
Standar cost-benefit jangka pendek pasar keuangan global – yang dalam teori pembangunan mana pun selalu akan menilai program sosial berskala besar sebagai “tidak layak” dalam jangka pendek.
Korea Selatan dengan POSCO-nya. Jepang dengan Toyota-nya. China dengan CATL-nya. Semuanya pernah dibilang tidak layak oleh analis pasar pada masanya.
Saya perlu mengatakan ini dengan jelas.
Bahwa pernyataan Ikhsan adalah pernyataan yang sah dan terhormat sebagai analisis akademis. Kekhawatirannya perlu didengar. Akademisi harus bisa bicara. Kampus harus tetap menjadi ruang untuk mempertanyakan kebijakan.
Tapi perhatikan apa yang terjadi kemudian. Slide itu beredar di WhatsApp. Di Twitter. Di grup-grup Telegram investor.
Kalimat “belum di jurang, tetapi sedang berjalan ke sana” – dengan segala nuansa dan kehati-hatiannya – menguap begitu saja. Yang tersisa hanya satu penggalan: Indonesia menuju jurang.
Ia tidak lagi menjadi peringatan yang hati-hati. Ia berubah menjadi tagline. Ia berubah menjadi framing. Ia berubah menjadi bahan bakar.
Dan, bagi para pelaku Sell Indonesia yang sedang duduk di meja trading mereka di Singapura, London, dan New York, menunggu konfirmasi – ini adalah hadiah yang paling berharga.
Lebih kuat dari seratus artikel The Economist sekalipun. Lebih meyakinkan dari semua laporan Bloomberg yang sudah terbit. Karena ini datangnya dari dalam. Dari akademisi Indonesia sendiri. Dari kampus paling bergengsi di negeri ini.
Sell Indonesia mendapat stempel validasi akademis domestik. Dus, kemudian mahasiswa turun ke jalan. Saya tidak bilang bahwa aksi mahasiswa itu salah. Mahasiswa berhak bersuara. Itu adalah hak konstitusional yang harus selalu dijaga.
Tetapi dalam konteks pertarungan narasi yang sedang berlangsung, gambar-gambar di jalanan – kerumunan, spanduk, teriakan, asap – ditangkap kamera wartawan asing, disebarkan oleh kantor-kantor berita internasional, dan juga dipakai untuk melengkapi satu cerita besar:
Bahkan rakyat Indonesia sendiri tidak percaya pada pemerintahnya. Narasi “Indonesia bangkrut” mendapat bahan bakar baru yang paling visual dan paling emosional.
Dari luar dan dari dalam, secara bersamaan, api itu disiram. Dan paduan suara itu terdengar sama dari luar negeri: Indonesia sedang di tepi jurang. Fiskal kita bocor. Ekonomi kita rapuh. Kebijakan kita salah arah. Rakyatnya sendiri sudah tidak percaya.
Pasar tidak peduli niat baik atau buruk. Pasar hanya membaca sinyal. Dan sinyal yang diterima pasar saat itu sangat keras: Orang-orang paling pintar di Indonesia sendiri pun sudah angkat tangan.
Bagian Kelima: Puncak Kehancuran – “Black Wednesday“
Rabu, 3 Juni 2026. Pukul 09.00 pagi, IHSG dibuka di angka 6.195.
IHSG adalah cerminan dari nilai ribuan perusahaan Indonesia. Dari warung yang sudah go public sampai perusahaan tambang raksasa. Ketika IHSG jatuh, bukan hanya angka yang turun. Nilai kekayaan jutaan pemegang saham juga menyusut dalam hitungan menit. Dana pensiun mengecil. Reksa dana merugi.
Dan pada Rabu itu, IHSG jatuh. Bukan jatuh biasa. Ditutup di 5.941. Turun 254 poin. Minus 4,11%. Satu hari.
Ini adalah penurunan terdalam di seluruh kawasan Asia Pasifik pada hari itu. Dari Tokyo sampai Sydney, dari Manila sampai Bangkok – tidak ada yang jatuh sedalam Jakarta.
Sektor material hancur lebur. Sub-indeksnya ambles 9,1% dalam sehari. Dan, Rupiah melemah ke Rp 17.950 per dolar AS.
Keesokan harinya, Kamis 4 Juni, yang paling ditakuti terjadi. Rupiah tembus Rp 18.000 per dolar AS. Dan bahkan, sempat menyentuh Rp 18.038. Rekor. Terlemah. Sepanjang sejarah Republik Indonesia.
Jumat 5 Juni, IHSG kembali jatuh. Ke 5.594. Terendah dalam 5 tahun. Total dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia sejak awal 2026 sudah mencapai Rp 61,3 triliun. Atau sekitar US$ 3,36 miliar.
Tiga koma tiga enam miliar dolar. Pergi. Dalam hitungan bulan.
Dari pasar obligasi? Investor asing telah memangkas kepemilikan surat utang pemerintah sebesar Rp 86 triliun – sekitar 9% dari total portofolio mereka di Indonesia.
IHSG secara year-to-date sudah turun 31 hingga 32 persen. Indeks dengan kinerja terburuk di antara lebih dari 90 indeks saham global yang dipantau Bloomberg. Terburuk. Di seluruh dunia.
Bagian Keenam: Jeda – Membaca Apa yang Sebenarnya Terjadi
Di sinilah saya ingin berhenti sejenak. Karena saat IHSG di 5.594 dan rupiah di Rp 18.038, banyak orang panik dan mulai mencari penjelasan paling mudah: “Pasti karena IPO SpaceX! Dana asing lari ke Amerika!”
Ini adalah penjelasan yang masuk akal secara intuitif. SpaceX memang sedang IPO besar. Elon Musk memang selalu jadi magnet. Tapi ini keliru.
Dana asing sudah mulai keluar dari Indonesia sejak bulan Januari 2026. Jauh sebelum hiruk-pikuk SpaceX. Mereka keluar karena ancaman downgrade MSCI, karena Moody’s mengubah outlook, karena narasi negatif yang bertumpuk-tumpuk.
SpaceX hanyalah kebetulan waktu. Bukan penyebab. Mengapa ini penting? Karena kalau kita salah membaca sebab, kita akan salah membuat respons. Dan kita akan terus mudah dimanipulasi.
Bagian Ketujuh: Titik Balik – Indonesia Tidak Runtuh
Senin, 8 Juni 2026. IHSG masih tertekan di kisaran 5.300-an. Banyak yang sudah mulai menulis obituari ekonomi Indonesia. Tapi sesuatu sudah mulai berubah di bawah permukaan.
Pemerintah tidak panik. Tidak ada kebijakan dadakan yang gegabah. Bank Indonesia (BI) bergerak dengan tenang dan terukur. Dan yang paling penting – sinyal-sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih kokoh mulai dibaca ulang oleh pasar.
Angka-angka nyata ekonomi Indonesia ternyata tidak seburuk yang telah diceritakan. Pertumbuhan masih ada. Inflasi masih terkendali. Cadangan devisa masih kuat.
Narasi “bangkrut” itu, semakin dicek dengan data, semakin terlihat bahwa itu berlebihan.
Selasa, 9 Juni 2026, IHSG mulai bergerak naik. Rebound 4 persen pada pagi hari. Pasar mulai bicara bahwa harga sudah terlalu murah. Bahwa Indonesia sudah dijual terlalu dalam.
Dan kemudian datanglah Jumat, 12 Juni 2026. Hari itu, seluruh dunia sedang melihat ke Amerika. SpaceX – perusahaan roket Elon Musk – resmi IPO yang terbesar dalam sejarah. Hype-nya luar biasa. Semua orang bicara soal SpaceX.
Di tengah semua keriuhan itu, apa yang dilakukan IHSG kita? IHSG kita naik 2,07 persen. Plus 121 poin. Ditutup di 6.007. Langsung kembali menembus level psikologis 6.000 yang beberapa hari sebelumnya terasa seperti impian yang mustahil.
Sebanyak 615 saham menguat. Hanya 108 yang terkoreksi. Dan rupiah? Menguat kembali ke kisaran Rp 17.772 hingga Rp 17.864 per dolar AS. Dari 18.038 – rekor terburuk dalam sejarah – kembali ke 17.700-an.
Dalam waktu kurang dari dua minggu.
Bagian Kedelapan: Apa yang Sebenarnya Baru Saja Kita Saksikan
Selama 40 hari itu, Indonesia diserang dari berbagai arah secara bersamaan. Dengan rapi. Dengan sistematis. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
MSCI memberi peringatan di Januari. Moody’s mengubah outlook di Februari. The Economist menyerang pada Mei. Bloomberg menyerukan Sell Indonesia. Slide akademisi beredar dan dipotong-potong jadi bahan bakar kepanikan. Mahasiswa turun ke jalan, fotonya disebarkan ke seluruh dunia.
Satu per satu. Seperti domino yang dijatuhkan dengan tangan yang sama.
Dan di balik semua itu, ada kepentingan yang sangat konkret: kepentingan pihak-pihak yang tidak ingin Indonesia serius dengan hilirisasi. Yang tidak ingin komoditas kita berhenti mengalir mentah ke pelabuhan-pelabuhan mereka.
Ini bukan konspirasi khayalan. Ini adalah persaingan kepentingan ekonomi yang sangat nyata. Tapi Indonesia tidak jatuh.
Ini adalah bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia itu memang masih kokoh. Bahwa narasi “tepi jurang” itu memang dilebih-lebihkan. Bahwa pasar, pada akhirnya, akan selalu kembali pada fakta.
Rebound yang terjadi mulai 9 Juni adalah pernyataan pasar yang paling jujur: “Kami membaca ulang data Indonesia. Dan, datanya tidak seburuk yang telah diceritakan.”
Penutup: Pelajaran dari 40 Hari yang Mengguncang Indonesia
Ketika suatu hari nanti Anda kembali membaca berita bahwa Indonesia sedang dalam bahaya – bahwa rupiah sedang jatuh, bahwa saham sedang hancur, bahwa para ahli mengatakan kita sudah di tepi jurang – tanyakan dulu satu pertanyaan sederhana: Siapa yang diuntungkan oleh kepanikan kita?
Pasar keuangan adalah medan pertempuran narasi. Dan Indonesia, sebagai negara kaya sumber daya yang sedang mulai berani mengatur rumahnya sendiri, akan terus menjadi sasaran narasi-narasi itu.
Bukan karena kita lemah. Justru karena kita mulai kuat. Kita tidak harus naif. Kritik yang jujur selalu perlu didengar. Koreksi kebijakan selalu harus terbuka kemungkinannya.
Tapi kita juga tidak boleh mudah hancur hanya karena cerita yang dirancang untuk menghancurkan kepercayaan diri kita sebagai bangsa. Kita baru saja membuktikan itu.
Diserang habis-habisan selama 40 hari. Dari luar dan dari dalam. Dengan senjata paling canggih yang dimiliki dunia keuangan global. Dan kita masih berdiri.
IHSG di 6.007. Rupiah di 17.700-an. Indonesia masih ada. Masih bergerak maju. Masih melangkah ke depan. Terhuyung memang. Tapi tidak jatuh.
*) Agus M Maksum, Pemerhati Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik, Praktisi IT, Pembuat Patent Platform Digital Ekonomi Pancasila, Mantan Ketua Senat ITS, Aktivis 98, Mantan Ketua Tim IT/Cyber Prabowo-Sandi 2019
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi