Senin, 15 Juni 2026, pukul : 12:09 WIB
Surabaya
--°C

Antara Mahathir dan Prabowo

Bisa jadi saat ini ada kekuatan lama. Atau para (penyamun-petualangan) politik  yang mencoba menggoyang posisi Prabowo karena terancam oleh policy dan gaya Prabowo saat ini.

Oleh: Muslim Arbi

KEMPALAN: Mahathir Mohamad (101 tahun), Mantan Perdana Menteri Malaysia. Memulai karirnya sebagai Perdana Menteri Malaysia sejak 1981. Dan kemudian berkuasa hingga 2003. Dua puluh dua tahun memimpin Malaysia. Dan PM lagi 2018-2020.

Pikirannya untuk mengubah dan meperbaiki Malaysia dituangkan dalam buku The Malaya Dillema. Bukanya pernah dicekal. Tetapi bukunya itu kemudian menjadi blue print membangun Malaysia. Mahathir berhasil mengantarkan Malaysia jadi negara yang kuat secara ekonomi di Asia.

Prabowo Subianto (74 tahun), Mantan Danjen Kopassus dan Panglima Kostrad dipecat dari TNI karena Tragedi 1998. Kemudian ia terjun sebagai pengusaha. Menuliskan pikirannya dalam buku Paradoks Indonesia.

Buku itu menyoroti Indonesia. Negara kaya dalam sumber daya alamnya, tetapi masih banyak rakyat yang miskin dan tertinggal serta sumber daya alam yang diekspor ke luar negeri, tapi hanya di nikmati oleh segelintir oligarki yang kuasai ekonomi dan terjadi kebocoran yang besar dalam pengelolaan anggaran negara.

Prabowo baru dua tahun menjalankan pemerintahannya. Kini gebrakannya untuk memperbaiki dan membangun Indonesia tidak sangat mudah.

Tantangan yang dihadapi di antaranya adalah bagaimana agar hasil ekspor SDA itu menjadi penguatan devisa dan membangkitkan perekonomian nasional dengan menerjemahkan pasal 33 UUD 1945 banyak mendapat tantangan.

BACA JUGA  Nasionalisme Tanpa Batas Darah

Kelas menengah (elit) yang berada di zona aman dan nyaman dengan menikmati kondisi ekonomi selama ini terusik dengan kebijakan penerapan pasal 33 itu.

Dalam pidato pada acara Munas HIPMI di Lampung Prabowo pecan lalu sempat mengeluhkan sikap para elit itu. “Lu kira jadi Presiden gampang?”

Jika melihat Prabowo, putera Begawan Ekonomi Prof Soemitro Djoyohadikusumo yang dengan gigih meraih perjuangan panjang sampai memimpin Indonesia saat ini menempuh perjalanan panjang dan berliku.

Kini setelah memimpin Indoneisa sebagaimana yang dituangakan dalam Buku Paradoks Indonesia dapat tercapai.

Selain mengelola ekonomi dengan Konsitusi UUD 2002, Prabowo juga seharusnya mengembalikan Indonesia ke rel konsitusi sebagaimana Proklmasi 17 Aguatus 1945. UUD 1945 18 Agustus 1945 menuju Cita-cita Proklamsi sesuai Amanat Para Pendiri Bangsa.

Pasal 33 UUD1945 sudah diberlakukan dan kini tinggal memperbaiki perpolitikan nasional dengan mengembalikan UUD 2002 ke UUD 1945.

Ekonomi dan Politik itu ibarat 2 (dua) muka dari 1 (satu) mata uang. Ekonomi akan pincang bila berjalan di atas praktik politik liberal dan neoliberal.

Jika ekonomi dikembalikan kepada Pasal 33, maka bangunan politik dan sistem bernegara juga harus dikembalikan ke UUD 1945 – 18 Agustus 1945. Bila tidak – ekonomi dan poltik akan saling berbenturan.

BACA JUGA  Ada 51 Negara Penghancur Gaza

Ekonomi jalan kanan – Politik jalan nya sebaliknya. Tidak akan sejalan. Seharusnya ekonomi dan politik di atas rel konsitusi yang benar.

Mahathir Mohamad sebagai Dokter yang memulai karier dengan pisau analisa sebagai diagnosa penyakit bangsa dan negaranya dalam The Malaya Dillema berhasil membangun Malaysia dalam soal ekomomi tetapi dalam politik kasus Anwar Ibrahim yang kini menjabat sebagai PM Malaysia menyisakan tragedi politik dengan menyingkirkan saat itu.

Tetapi – apa pun ceritanya – Mahathir berhasil menempa Anwar Ibrahim hingga saat ini.

Lain Mahathir, Lain Prabowo

Bisa jadi saat ini ada kekuatan lama. Atau para (penyamun-petualangan) politik  yang mencoba menggoyang posisi Prabowo karena terancam oleh policy dan gaya Prabowo saat ini.

Bisa jadi kekuatan Oligarki yang merasa nyaman pada kekuasaan lama terganggu oleh sejumlah gebrakan Prabowo yang Pro Rakyat. Dan, seolah mereka terncam. Sehingga berbagai upaya didesain untuk menjatuhkannya dengan isu pemakzulan dan sebagainya. Hal itu biasa saja dalam intrik politik dan kekuasaan.

Terlepas dari itu semua. Buku Paradoks Indonesia harus bisa menjawab dan juga memberi solusi Indonesia saat ini. Sebagaimana The Malay Dilemma Mahathir yang sukses mengantarkan Malaysia menjadi salah satu kekuatan ekomomi Asia.

*) Muslim Arbi, Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.