Sabtu, 20 Juni 2026, pukul : 17:49 WIB
Surabaya
--°C

Tokoh dan Ulama di Surabaya Bahas Kondisi Terkini Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

SURABAYA-KEMPALAN: Para tokoh dan ulama menghadirkan ruang dialog kebangsaan yang inspiratif—bukan hanya mengkritisi keadaan, tetapi merumuskan gagasan, solusi, dan langkah perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. Dialog Bersama Pemimpin Redaksi Media Trust Edy Mulyadi itu berlangsung dengan spirit dialog inspiratif, refleksi kebangsaan, gagasan solutif dan aksi untuk perubahan pada Ahad, 31 Mei 2026 di Surabaya.

Bertitelkan Diskusi Tokoh: Dari Kritik Ke Solusi, Jalan Perubahan Indonesia, Edi Mulyadi mengungkapkan oligarki tidak selamanya jahat atau baik. “Tergantung bagaimana perilakunya. Oligarki itu kita sepakati sebagai kelompok sangat kecil yang sangat kuat dananya menguasai baik ekonomi maupun politik Indonesia,” ujar dia.

Edi Mulyadi mengungkapkan dirinya bertemu dengan orang-orang dalam lingkaran istana, ada elite elite yang ingin menyatukan Presiden Prabowo dan Megawati.

“Banyak yang kegiatan sumber dananya dari asing. Padahal kita tahu tidak ada kekuatan asing yang benar benar bekerja untuk Indonesia. Hampir semua LSM Indonesia dananya berasal dari asing. Selain itu HAM dan demokrasi adalah versi mereka yang berbeda dengan Indonesia,” kata dia.  

BACA JUGA  Polsek Buduran Dampingi Petani Kelola Jagung Hibrida, Wujudkan Swasembada Pangan

Menurutnya, Presiden Prabowo membiarkan dirinya dikepung oleh Jokowi dan kawan kawan.

“Pilihannya memang Prabowo ini kita bantu atau kita jatuhkan. Pertanyaan ini menjadi krusial. Selain itu ada juga blunder blunder yang menjadi peluru untuk menyerang Prabowo. Siapapun yang menggantikan Prabowo adalah figur yang disetujui oligarki dan punya kekuatan yang sangat besar. Kekuatan lobi oligarki sangat kuat dalam pembentukan perundang-undangan. Walaupun Prabowo ingin tanah air dipergunakan untuk sebesar besarnya kepentingan rakyat. Langkah Prabowo ini akan mendapatkan perlawanan dari oligarki,” paparnya.

Selain itu, siapapun yang ingin maju dalam pentas politik Indonesia harus punya kekuatan finansial yang kuat. Ini semua terjadi. Tidak ada makan siang yang gratis.

Edi menjelaskan, Menteri Keuangan Purbaya berusaha menaikkan pendapatan negara bukan pajak atau PNBP melalui sektor pertambangan. Juga eksplorasi kawasan hutan berusaha dirapikan oleh pemerintah.

“MBG atau makan siang bergizi gratis bertujuan gratis. Namun, dalam pelaksanaannya babak belur. Koperasi Desa juga bagus, tetapi dalam pelaksanaannya amburadul. Masalahnya, tidak mudah untuk berkomunikasi langsung dengan Presiden Prabowo,” ucapnya.  

BACA JUGA  Herlina Harsono Njoto  Raih Gelar Doktor Psikologi UNAIR

Sementara itu, jurnalis senior Dr. Dhimam Abror Djuraid meminta audiens jangan dipaksa memilih untuk menjatuhkan atau membantu Presiden Prabowo.

“Jurnalis itu independen dan jurnalis boleh memihak, namun pilihan itu dilakukan secara independen. Namun, bukan hanya suka atau tidak, tetapi harus objektif. Jangan forum ini diarahkan untuk menjatuhkan atau mendukung Presiden Prabowo. Kondisi saat ini vacum of leadership. Kita tidak punya kepemimpinan jika terjadi kondisi yang chaos. Kita kumpul dua orang saja harus ada yang jadi imam, apalagi kalau untuk orang banyak. Leaderless movement ini terjadi baik di dalam maupun di luar pemerintahan,” ujar Dr. Dhimam Abror.  

“Kalau menurut teori teori social movement, pemimpin itu lahir, bukan dibentuk. Gerakan sosial yang leaderless tidak akan menghasilkan solusi yang komprehensif. Kita ini seperti katak yang direbus dalam air yang dihangatkan pelan pelan, sehingga pada akhirnya katak ini akan matang,” pungkasnya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.