Jumat, 19 Juni 2026, pukul : 01:09 WIB
Surabaya
--°C

Herlina Harsono Njoto  Raih Gelar Doktor Psikologi UNAIR

Herlina Harsono Njoto resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Psikologi UNAIR setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Akhir Disertasi Terbuka, Kamis (18/6).

SURABAYA-KEMPALAN: Herlina Harsono Njoto resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Psikologi setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Akhir Disertasi Terbuka yang digelar di Aula Excellence with Morality, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Kampus B Surabaya, Kamis (18/6).

Dalam sidang yang berlangsung pukul 13.00 hingga 15.00 WIB tersebut, Herlina mempresentasikan disertasi berjudul “Model Komitmen Afektif terhadap Partai Politik Ditinjau dari Kepemimpinan Transformasional, Identitas Sosial, dan Pertukaran Sosial sebagai Variabel Mediasi pada Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota/Kabupaten.”

Sidang promosi doktor tersebut dipimpin oleh Ketua Sidang Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., Psikolog, dengan Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog sebagai promotor dan Dr. Fajrianthi, M.Psi., Psikolog sebagai ko-promotor.

Menjawab Tantangan Pelembagaan Partai Politik

Sebagai anggota DPRD sekaligus akademisi, Herlina mengangkat persoalan yang dinilai krusial dalam kehidupan demokrasi Indonesia, yakni bagaimana partai politik dapat mempertahankan eksistensi dan relevansinya di tengah perubahan perilaku masyarakat.

Penelitian yang dilakukannya menyoroti pentingnya komitmen afektif atau keterikatan emosional anggota terhadap partai politik sebagai salah satu faktor yang menentukan keberlanjutan organisasi politik.

Menurut Herlina, tantangan terbesar partai politik saat ini bukan hanya memenangkan pemilu, melainkan membangun loyalitas yang berkelanjutan di tengah masyarakat yang semakin rasional dalam menentukan pilihan politik. Fenomena tersebut turut mendapat perhatian dari promotor disertasi, Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog.

“Tantangan di luar sana sangat luar biasa. Fenomena saat ini menunjukkan bahwa pemilih itu pintar. Ada kalanya mereka diberikan materi atau uang, tetapi pada saat di bilik suara mereka tetap memilih opsi yang lain,” ujar Prof. Suryanto dalam sidang terbuka tersebut.

Pernyataan itu menunjukkan adanya pergeseran perilaku pemilih yang tidak lagi sepenuhnya dipengaruhi faktor transaksional. Masyarakat kini dinilai lebih kritis dan mandiri dalam menentukan pilihan politik.

BACA JUGA  Bambang Haryo Ingatkan Ancaman Lumpur Lapindo Belum Berakhir, Keselamatan Warga Jadi Prioritas

Komitmen Emosional Jadi Kunci Keberlangsungan Partai

Berdasarkan hasil risetnya, Herlina menemukan bahwa komitmen afektif memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan antara individu dan organisasi politik.Komitmen tersebut tidak hanya perlu dibangun di kalangan kader maupun pengurus partai, tetapi juga harus ditumbuhkan kepada konstituen dan masyarakat luas.

Menurutnya, kegagalan menjaga keterikatan emosional dengan pemilih dapat menjadi salah satu penyebab menurunnya dukungan publik terhadap partai politik hingga berujung pada hilangnya basis massa dalam kontestasi politik.

Melalui pendekatan kepemimpinan transformasional, identitas sosial, dan pertukaran sosial, penelitian ini menawarkan model yang dapat digunakan partai politik untuk memperkuat loyalitas anggota sekaligus meningkatkan kedekatan dengan masyarakat.

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi referensi akademik sekaligus masukan strategis bagi penguatan kelembagaan partai politik di Indonesia.

Tujuh Kali Ujian Menuju Gelar Doktor

Di balik keberhasilannya meraih gelar doktor, Herlina mengungkapkan perjalanan akademiknya tidak selalu berjalan mulus.

Ia mengaku sempat mengalami stagnasi studi selama hampir tiga semester akibat padatnya aktivitas sebagai anggota dewan serta berbagai tanggung jawab lainnya.

Momentum kebangkitan terjadi ketika dirinya mendapat dorongan dari Kepala Program Studi Doktor Psikologi UNAIR, Dr. Rahkman Ardi, M.Psych. yang mengingatkannya bahwa ia hanya tinggal selangkah lagi menuju penyelesaian studi.

Dorongan tersebut menjadi titik balik yang membuatnya kembali fokus menyelesaikan seluruh tahapan akademik hingga berhasil menuntaskan disertasi.

Menariknya, Herlina mengungkapkan bahwa selama menempuh program doktoral ia harus melewati tujuh kali proses ujian akademik.

“Saya memang menyukai angka tujuh. Tetapi jujur, melewati tujuh kali ujian doktoral psikologi sama sekali bukan hal yang favorit,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Ia juga tercatat sebagai lulusan ke-8 dari sembilan mahasiswa dalam angkatannya serta menjadi doktor ke-116 yang dilahirkan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Dukungan Keluarga Menjadi Energi Terbesar

BACA JUGA  Memahami Ketetapan Allah dan Tanggung Jawab Manusia

Momen kelulusan tersebut tidak hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas dukungan keluarga yang selama ini mengiringi perjuangannya.

Dalam sambutannya, Herlina menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tua dan mertua yang terus memberikan doa serta dukungan selama proses studi.

Ucapan paling emosional disampaikan kepada suaminya yang dinilai menjadi sosok penting di balik keberhasilannya menyelesaikan pendidikan doktoral.

Ia mengakui bahwa selama proses penyusunan disertasi, dirinya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar dan meneliti hingga harus mengurangi waktu bersama keluarga.

Dengan penuh haru, Herlina berjanji kepada suaminya bahwa setelah seluruh rangkaian ujian berakhir, tidak akan ada lagi kalimat yang selama ini kerap diucapkannya.

“Setelah tujuh kali ujian disertasi yang melelahkan ini, saya berjanji tidak akan ada lagi kalimat: ‘Pah, aku belajar di kamar dulu ya,’ atau ‘Pah, jangan diganggu dulu’,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut disambut senyum dan tepuk tangan para hadirin yang memenuhi ruang sidang.

Di penghujung sambutannya, Herlina menyampaikan pesan inspiratif kepada anak-anaknya dan generasi muda agar tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.

Menurutnya, keberhasilan bukan hanya milik mereka yang bergerak paling cepat, tetapi milik mereka yang tetap konsisten melangkah meski menghadapi berbagai tantangan.

“Kalau kamu lelah, beristirahatlah sejenak. Tapi jangan pernah berhenti berjalan untuk meraih cita-cita,” pesannya.

Bagi Herlina, gelar doktor bukanlah akhir perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus menghasilkan riset dan kebijakan berbasis data yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Promotor disertasi.Prof. Suryanto juga berpesan agar capaian akademik tersebut tidak menghentikan semangat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan gelar doktor yang kini disandangnya, Herlina diharapkan dapat terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu psikologi politik serta mendorong lahirnya kebijakan publik yang berbasis bukti ilmiah demi kemajuan bangsa dan negara. (Andra Jatmiko)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.