Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota bukan hanya seberapa indah taman yang dimilikinya, tetapi juga seberapa banyak ruang teduh yang dapat dinikmati warganya.
Oleh: M. Isa Ansori
KEMPALAN: Surabaya telah lama dikenal sebagai Kota Taman. Berbagai taman kota yang tersebar di banyak sudut kota menjadi identitas sekaligus kebanggaan warga.
Keberadaan taman-taman tersebut tidak hanya mempercantik wajah kota, tetapi juga menyediakan ruang publik yang menjadi tempat berinteraksi, berolahraga, dan berekreasi.
Namun, di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya suhu perkotaan, muncul kebutuhan baru yang perlu dijawab: bagaimana menjadikan Surabaya itu tidak hanya indah dipandang, tetapi juga nyaman dihuni sepanjang hari.
Pada siang hari, ketika matahari bersinar terik dan suhu udara meningkat, warga membutuhkan lebih dari sekadar ruang hijau yang indah. Mereka membutuhkan ruang publik yang teduh.
Karena kota yang baik bukan hanya kota yang memiliki taman, melainkan kota yang memungkinkan warganya tetap nyaman beraktivitas meskipun berada di bawah terik matahari.
Sesungguhnya Surabaya telah memiliki contoh-contoh baik yang bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan kota pada masa depan.
Mewujudkan Kota yang Indah, Teduh, dan Berkelanjutan bagi Generasi Mendatang
Taman Bungkul misalnya, bukan hanya menarik karena desain dan fasilitasnya, tetapi juga karena pohon-pohon besar yang menghadirkan keteduhan alami.
Banyak warga memilih duduk, berbincang, membaca, atau sekadar beristirahat di bawah naungan pepohonan. Keteduhan tersebut menciptakan kenyamanan yang tidak dapat digantikan oleh elemen fisik lainnya.
Hal yang sama bisa dirasakan ketika melintasi Jalan Ambengan dan Jalan Walikota Mustajab. Pohon-pohon besar yang tumbuh di sepanjang koridor jalan ini dapat menghadirkan suasana yang berbeda.
Bahkan pada siang hari, pejalan kaki masih bisa merasakan kenyamanan karena terlindungi oleh tajuk pepohonan yang rindang. Jalan ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang lalu lintas kendaraan, tetapi juga menjadi ruang hidup yang lebih ramah bagi manusia.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa untuk masa depan penghijauan Surabaya tidak cukup hanya bertumpu pada konsep taman kota semata. Yang dibutuhkan adalah integrasi antara kota taman dan hutan kota.
Taman kota tetap dipertahankan sebagai ruang estetika, rekreasi, dan interaksi sosial. Sementara itu, pendekatan hutan kota menghadirkan lapisan pohon-pohon peneduh yang mampu menciptakan iklim mikro yang lebih nyaman bagi warga.
Integrasi ini bukan berarti mengubah taman menjadi hutan yang lebat. Namun sebaliknya, hutan kota dipahami sebagai strategi menghadirkan lebih banyak pohon berkanopi lebar di taman-taman kota, koridor jalan, kawasan permukiman, area pendidikan, kawasan perdagangan, dan ruang publik lainnya.
Dengan demikian, maka fungsi keindahan dan fungsi ekologis bisa berjalan secara bersamaan.
Bayangkan saja, jika pengalaman berjalan di Jalan Ambengan atau Jalan Walikota Mustajab dapat ditemukan pula di berbagai ruas jalan utama Surabaya.
Bayangkan jika taman-taman kota yang sudah ada diperkuat dengan lebih banyak pohon peneduh, sehingga tetap nyaman digunakan warga pada pukul dua belas siang.
Bayangkan jika trotoar-trotoar kota tidak lagi menjadi ruang yang dihindari karena panas, melainkan menjadi jalur yang menyenangkan untuk berjalan kaki.
Lebih jauh lagi, bayangkan jika setiap anak yang pulang sekolah bisa berjalan di bawah rindangnya pohon. Bayangkan jika para lansia dapat menikmati taman kota pada siang hari tanpa khawatir kepanasan.
Bayangkan jika para pedagang kaki lima, pengemudi ojek, pekerja informal, dan warga basa menemukan tempat berteduh yang layak di ruang-ruang publik kota. Maka penghijauan tidak lagi sekadar menjadi program tata kota, tetapi menjadi bagian dari keadilan sosial dan kualitas hidup warga.
Karena itu, Surabaya memerlukan paradigma baru dalam pembangunan ruang hijau. Jika selama ini keberhasilan penghijauan sering diukur dari jumlah taman yang dibangun atau luas ruang terbuka hijau yang tersedia, maka ke depan perlu ditambahkan ukuran baru: seberapa banyak keteduhan yang dapat dirasakan warga.
Kota-kota besar dunia saat ini mulai berlomba menghadirkan keteduhan sebagai bagian dari kualitas hidup perkotaan. Mereka menyadari bahwa pohon bukan sekadar ornamen penghijauan, melainkan infrastruktur ekologis yang mampu menurunkan suhu udara, menyerap polusi, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, dan memperkuat ketahanan kota terhadap perubahan iklim.
Dalam konteks Surabaya, pohon-pohon besar harus dipandang sebagai investasi peradaban.
Mungkin manfaatnya tidak langsung dirasakan hari ini, tetapi dalam dua puluh hingga tiga puluh tahun mendatang, pohon-pohon tersebut akan menjadi warisan berharga bagi generasi berikutnya.
Sebagaimana kita hari ini menikmati keteduhan pohon yang ditanam puluhan tahun lalu, generasi masa depan pun berhak menikmati kota yang lebih teduh daripada yang kita warisi saat ini.
Oleh karena itu, perlu lahir sebuah visi sederhana namun kuat: “Setiap warga Surabaya berhak menemukan keteduhan dalam jarak berjalan kaki dari tempat tinggalnya.”
Visi ini bukan sekadar slogan penghijauan. Ia adalah komitmen bahwa ruang publik harus dapat dinikmati oleh semua orang tanpa memandang usia, status sosial, maupun lokasi tempat tinggal.
Keteduhan menjadi hak ekologis warga kota, sebagaimana akses terhadap air bersih, udara yang sehat, dan lingkungan yang nyaman.
Dari visi tersebut dapat lahir berbagai kebijakan konkret: penanaman pohon peneduh di sepanjang trotoar, penguatan vegetasi pada taman-taman kota, pembangunan koridor hijau antar kawasan, penghijauan sekolah dan fasilitas publik, serta perlindungan terhadap pohon-pohon besar yang telah menjadi aset ekologis kota.
Dengan demikian, keteduhan tidak hanya terkumpul di titik-titik tertentu, tetapi tersebar merata ke seluruh wilayah Surabaya.
Karena itu, masa depan Surabaya bukanlah memilih antara taman kota atau hutan kota. Masa depan Surabaya adalah menyatukan keduanya. Kota taman memberikan keindahan, sementara hutan kota menghadirkan keteduhan.
Kota taman mempercantik ruang publik, sementara hutan kota meningkatkan kualitas hidup warga. Ketika keduanya terintegrasi, Surabaya akan memiliki identitas baru sebagai kota yang bukan hanya hijau, tetapi juga nyaman untuk ditinggali.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota bukan hanya seberapa indah taman yang dimilikinya, tetapi juga seberapa banyak ruang teduh yang dapat dinikmati warganya.
Sebab kota yang baik adalah kota yang memungkinkan setiap orang menemukan naungan ketika matahari sedang berada di puncak teriknya.
Surabaya masa depan bukan hanya Kota Taman. Surabaya masa depan adalah Kota Taman yang Meneduhkan. Kota yang menjadikan pohon sebagai sahabat peradaban dan keteduhan sebagai hak setiap warganya.
*) M. Isa Ansori, Kolumnis, Dosen, Wakil Ketua ICMI Jatim Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Lingkungan, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi