Mereka bukan sekadar “orang aneh” di kampung, melainkan sesama manusia yang sedang berjuang menghadapi gangguan pada organ yang paling rumit, yaitu otak dan fungsi kejiwaan
Oleh: Sugiono Gie
KEMPALAN: Di lingkungan pedesaan, hampir setiap hari kita dapat bertemu dengan orang-orang yang dianggap “tidak biasa”. Penampilan fisiknya berbeda, pakaiannya acak-acakan, perilakunya sulit dipahami, atau cara berinteraksinya tidak mengikuti kebiasaan masyarakat pada umumnya.
Dalam bahasa Sunda, masyarakat sering menyebut mereka sebagai “jelema gelo“. Sebutan ini sebenarnya merupakan penyederhanaan terhadap kondisi yang jauh lebih kompleks.
Bagi anak-anak, mereka kadang menjadi bahan olok-olok atau sekadar rasa ingin tahu. Sebagian orang dewasa memilih menghindar karena khawatir akan perilaku yang tidak terduga.
Saya sendiri pernah mengalaminya. Suatu ketika, saat berpapasan, seseorang tiba-tiba berteriak keras tepat di depan wajah saya. Awalnya saya mengira ia marah atau tersinggung oleh sesuatu.
Padahal selama ini saya tidak pernah mengganggu mereka. Kalau kebetulan membawa makanan, saya bahkan sering memberikannya. Saya beranggapan bahwa siapa pun, dalam keadaan apa pun, tetap memiliki kebutuhan dasar yang sama, yaitu makan.
Peristiwa seperti itu kemudian membuat saya berpikir bahwa perilaku mereka bukanlah sesuatu yang selalu dapat dijelaskan dengan logika orang yang sedang sehat.
Dari sudut pandang medis, seringkali istilah “orang gila” sebenarnya sudah lama ditinggalkan karena bersifat memberi stigma. Yang digunakan sekarang adalah istilah “orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)” atau seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisinya pun sangat beragam.
Ada yang mengalami gangguan psikotik, misalnya Skizofrenia. Pada kondisi ini seseorang dapat mendengar suara yang tidak didengar orang lain, memiliki keyakinan yang tidak sesuai kenyataan, atau sulit membedakan antara realitas dan pikirannya sendiri.
Karena itu mereka kadang berbicara sendiri, tertawa tanpa sebab yang tampak, atau tiba-tiba berteriak.
Sebagian lainnya mungkin mengalami gangguan suasana hati yang berat, seperti Gangguan Bipolar. Pada fase tertentu pula mereka dapat berbicara sangat cepat, penuh energi, sulit tidur, bertindak impulsif, bahkan tampak sangat percaya diri. Pada fase lainnya justru mengalami depresi yang sangat berat.
Ada pula yang mengalami gangguan akibat kerusakan otak, termasuk gangguan perkembangan sejak kecil, penyalahgunaan zat, cedera kepala, atau penyakit saraf tertentu. Dengan kata lain, tidak semua orang yang tampak “aneh” memiliki penyebab yang sama.
Dari sudut psikologi, perilaku manusia itu bisa dipengaruhi oleh perpaduan faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Model seperti ini dikenal sebagai pendekatan biopsikososial.
Faktor biologis mencakup keturunan, perubahan zat kimia otak, atau penyakit tertentu. Faktor psikologis berkaitan dengan cara seseorang mengelola stres, trauma, dan emosi.
Sementara faktor sosial meliputi hubungan keluarga, pekerjaan, kondisi ekonomi, pendidikan, hingga penerimaan masyarakat.
Kemudian muncul pertanyaan yang seringkali diajukan oleh masyarakat: apakah tekanan hidup, kemiskinan, masalah keluarga, atau kesulitan ekonomi bisa juga menyebabkan seseorang mengalami gangguan jiwa?
Jawabannya adalah bisa menjadi faktor risiko, tetapi biasanya bukan satu-satunya penyebab.
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kehilangan pekerjaan, kemiskinan berkepanjangan, konflik keluarga, perceraian, kekerasan, kehilangan orang yang dicintai, maupun tekanan hidup yang berlangsung lama bisa meningkatkan risiko gangguan mental.
Namun sebagian besar orang yang mengalami kesulitan ekonomi tidak sampai mengalami gangguan jiwa berat. Biasanya terdapat kombinasi antara kerentanan biologis dengan tekanan hidup yang berat sehingga penyakit tersebut muncul.
Di banyak desa di Indonesia masih dapat dijumpai orang dengan gangguan jiwa yang tidak hidup menggelandang. Mereka tetap tinggal bersama keluarga. Kondisi ini menunjukkan bahwa keluarganya masih berusaha merawat mereka, meskipun dengan segala keterbatasan.
Tidak sedikit keluarga yang sebenarnya ingin mengobatkan anggota keluarganya, tetapi terkendala biaya, akses layanan kesehatan, kurangnya pemahaman, atau takut terhadap stigma masyarakat.
Usia di atas 40 tahun yang banyak dijumpai di lingkungan seperti ini juga bukan sesuatu yang aneh. Sebagian dari mereka telah mengalami gangguan sejak usia muda, kemudian hidup bertahun-tahun dengan kondisi yang tidak sepenuhnya pulih.
Ada juga yang baru mengalami gangguan setelah memasuki usia dewasa akibat kombinasi penyakit, tekanan hidup, maupun faktor biologis.
Yang menarik, masyarakat sering hanya mengingat perilaku yang mengagetkan, seperti berteriak, berbicara sendiri, atau marah tiba-tiba. Padahal sebagian besar orang dengan gangguan jiwa justru lebih sering menjadi korban daripada pelaku.
Mereka lebih rentan mengalami penolakan sosial, ejekan, kehilangan pekerjaan, bahkan kekerasan. Memang ada sebagian kecil yang dapat menjadi agresif, terutama bila sedang mengalami gejala berat atau merasa terancam, sehingga menjaga jarak yang aman tetap merupakan sikap yang bijaksana.
Karena itu, pendekatan terbaik adalah memadukan empati dengan kehati-hatian. Tidak perlu mengejek, tidak perlu memancing emosi, tetapi juga tidak perlu untuk memaksakan diri berinteraksi terlalu dekat ketika perilakunya sedang tidak dapat diprediksi.
Memberikan makanan bila memungkinkan merupakan bentuk kepedulian yang baik, selama dilakukan dengan tetap memperhatikan keselamatan diri.
Pada akhirnya, keberadaan mereka mengingatkan kita bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Seseorang yang hari ini tampak sehat secara psikologis belum tentu akan selalu demikian apabila dihadapkan pada tekanan hidup yang sangat berat, sementara yang memiliki kerentanan biologis yang mungkin memerlukan pengobatan dan dukungan sepanjang hidupnya.
Mereka bukan sekadar “orang aneh” di kampung, melainkan sesama manusia yang sedang berjuang menghadapi gangguan pada organ yang paling rumit, yaitu otak dan fungsi kejiwaan
Sehingga mereka membutuhkan pengobatan, dukungan keluarga, penerimaan masyarakat, dan kesempatan untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.
*) Sugiono Gie, Pemerhati Masalah Sosial
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi