Kamis, 9 Juli 2026, pukul : 09:20 WIB
Surabaya
--°C

UKT Mahal, Surabaya Memberi Harapan

Oleh: M. Isa Ansori

KEMPALAN: Setiap tahun ribuan anak Indonesia berhasil menembus seleksi perguruan tinggi. Kabar kelulusan itu menjadi kebahagiaan bagi keluarga yang selama bertahun-tahun menyimpan harapan agar anaknya memperoleh kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan. Namun, tidak sedikit di antara mereka yang akhirnya mengubur mimpi tersebut. Bukan karena gagal dalam seleksi, bukan pula karena kurang cerdas, tetapi karena tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Ironi inilah yang sedang kita hadapi. Di satu sisi, Indonesia bercita-cita mewujudkan Generasi Emas 2045 dengan sumber daya manusia yang unggul. Di sisi lain, akses menuju pendidikan tinggi masih tersendat oleh persoalan biaya. Ketika seorang anak batal kuliah karena faktor ekonomi, sesungguhnya yang hilang bukan hanya satu kursi di ruang kuliah, melainkan satu harapan bagi keluarga, satu potensi bagi daerah, dan satu aset bagi bangsa.

Pendidikan tinggi seharusnya menjadi jembatan mobilitas sosial. Ia membuka jalan bagi keluarga untuk keluar dari kemiskinan, meningkatkan kualitas hidup, dan membangun generasi yang lebih berdaya. Karena itu, mahalnya UKT bukan sekadar persoalan administrasi kampus, melainkan persoalan keadilan sosial.

Di tengah kegelisahan itu, Surabaya menghadirkan secercah harapan. Melalui Program Satu Keluarga Satu Sarjana, Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan bahwa keberpihakan terhadap pendidikan bukan sekadar janji, melainkan kebijakan yang nyata. Program ini dibangun atas keyakinan bahwa setiap keluarga harus memiliki kesempatan untuk melahirkan setidaknya satu sarjana sebagai modal meningkatkan kualitas hidup dan memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Inilah yang membedakan Surabaya. Yang dibangun bukan hanya jalan, gedung, taman, atau infrastruktur kota, tetapi juga infrastruktur harapan. Pemerintah kota memandang pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Dana yang dikeluarkan hari ini bukanlah beban anggaran, melainkan modal untuk melahirkan generasi yang lebih produktif, inovatif, dan berdaya saing.

BACA JUGA  W.R. Supratman: Lelaki Yang Membangkitkan Bangsa Lewat Nada

Program Satu Keluarga Satu Sarjana sesungguhnya layak menjadi model nasional. Di tengah banyaknya calon mahasiswa yang terancam batal kuliah karena UKT, Surabaya mengirimkan pesan bahwa pemerintah tidak boleh membiarkan kemiskinan menjadi penghalang bagi anak-anak yang telah membuktikan kemampuan akademiknya.

Namun, Surabaya tidak bisa berjalan sendiri.

Pemerintah pusat perlu mengevaluasi sistem UKT agar lebih adil dan benar-benar mencerminkan kemampuan ekonomi keluarga. Perguruan tinggi harus memperkuat mekanisme peninjauan UKT, memperluas beasiswa, menyediakan skema pembayaran yang fleksibel, dan membangun dana darurat bagi mahasiswa yang menghadapi kesulitan ekonomi. Pendidikan tinggi tidak boleh kehilangan wajah kemanusiaannya.

Dunia usaha juga memiliki tanggung jawab sosial. Melalui program CSR, perusahaan dapat mengambil bagian dalam membiayai pendidikan mahasiswa yang berprestasi tetapi berasal dari keluarga kurang mampu. Perguruan tinggi, alumni, lembaga filantropi, dan masyarakat sipil pun dapat membangun ekosistem gotong royong agar tidak ada mahasiswa yang putus kuliah hanya karena persoalan biaya.

Di sinilah saya melihat pentingnya peran ICMI Jawa Timur sebagai organisasi cendekiawan. Program Satu Keluarga Satu Sarjana tidak boleh berhenti sebagai program pemerintah, tetapi perlu berkembang menjadi gerakan sosial yang melibatkan seluruh kekuatan masyarakat. ICMI dapat menjadi simpul kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga filantropi, dan para alumni untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan kuliah karena faktor ekonomi.

Sebagai organisasi yang menghimpun akademisi, profesional, pengusaha, dan intelektual Muslim, ICMI memiliki modal sosial yang sangat besar untuk menginisiasi Gerakan Seribu Sarjana Jawa Timur. Gerakan ini tidak hanya menggalang beasiswa, tetapi juga membangun ekosistem pendampingan, pengembangan kompetensi, magang, riset, kewirausahaan, hingga penyaluran kerja bagi mahasiswa.

BACA JUGA  Budaya Pelangi LGBTQ

ICMI juga dapat mendorong lahirnya Dana Abadi Pendidikan yang dihimpun melalui wakaf produktif, zakat, infak, sedekah, CSR perusahaan, dan kontribusi para alumni. Dengan demikian, pembiayaan pendidikan tidak hanya bergantung pada APBN dan APBD, tetapi menjadi gerakan gotong royong yang berkelanjutan.

Apabila Pemerintah Kota Surabaya telah memulai langkah melalui Program Satu Keluarga Satu Sarjana, maka sudah saatnya seluruh elemen bangsa menyambutnya sebagai gerakan bersama. Sebab membangun satu sarjana berarti membangun satu keluarga. Membangun satu keluarga berarti memperkuat satu masyarakat. Dan memperkuat masyarakat berarti memperkokoh masa depan Indonesia.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh tingginya gedung pencakar langit atau panjangnya jalan tol yang dibangun. Keberhasilan sejati adalah ketika semakin banyak anak dari keluarga sederhana mampu menyelesaikan pendidikan tinggi dan mengubah masa depan keluarganya.

UKT boleh mahal, tetapi harapan anak-anak Indonesia tidak boleh ikut menjadi mahal. Surabaya telah menyalakan lilin harapan melalui Program Satu Keluarga Satu Sarjana. Kini saatnya pemerintah, perguruan tinggi, ICMI, dunia usaha, dan masyarakat menjaga agar nyala itu menjadi obor yang menerangi masa depan anak-anak Indonesia. Jangan biarkan mimpi mereka berhenti di loket pembayaran UKT, karena setiap sarjana yang lahir adalah investasi bagi kemajuan bangsa.

Surabaya, 9 Juli 2026

M. Isa Ansori : Kolumnis, Dosen, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Wakil Ketua ICMI Jatim

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.