Dari Pekanbaru, Khofifah Indar Parawansa mendorong alumni Universitas Airlangga mengubah silaturahmi menjadi kekuatan kolaborasi. Di tengah tantangan kualitas sumber daya manusia dan pemerataan akses pendidikan, jejaring alumni dituntut hadir lebih nyata bagi daerah dan masyarakat.
PEKANBARU—KEMPALAN: Di sebuah ruang pertemuan di Novotel Pekanbaru, Selasa, 7 Juli 2026, suasana mula-mula menyerupai banyak perjumpaan alumni: hangat, cair, dan penuh keakraban. Orang-orang dari beragam profesi kembali dipertemukan oleh satu identitas yang sama, almamater.
Namun, di tengah Forum Silaturahmi Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Universitas Airlangga Provinsi Riau itu, Khofifah Indar Parawansa membawa percakapan ke arah yang lebih jauh.
Bagi Ketua Umum Pengurus Pusat IKA UNAIR yang juga Gubernur Jawa Timur tersebut, pertemuan alumni tidak semestinya berhenti pada temu kangen. Jejaring yang telah terbentuk oleh pengalaman pendidikan, profesi, dan pengabdian di berbagai daerah perlu bergerak menjadi kekuatan sosial: mempertemukan pengetahuan, membuka kerja sama, dan melahirkan solusi.
“Silaturahmi ini bukan hanya silaturahmi raga, tetapi juga silaturahmi ide, pikiran, dan gagasan,” ujar Khofifah.
Dari ruang-ruang semacam itulah, menurut dia, kolaborasi, inovasi, dan kontribusi nyata dapat tumbuh untuk menjawab tantangan pembangunan.
Ajakan itu menjadi pokok penting dalam pertemuan alumni UNAIR di Riau. Laporan yang terbit pada 8 Juli 2026 menyebut Khofifah secara khusus mendorong penguatan jejaring, kolaborasi, inovasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kontribusi alumni bagi kemajuan daerah. Pokok peristiwa tersebut juga muncul dalam sejumlah pemberitaan lain pada hari yang sama.
Modal Sosial yang Kerap Terabaikan
Di Indonesia, organisasi alumni perguruan tinggi memiliki modal yang tidak kecil. Anggotanya tersebar di pemerintahan, kampus, dunia usaha, layanan kesehatan, profesi hukum, organisasi masyarakat, hingga berbagai sektor pelayanan publik.
Masalahnya, jejaring sebesar itu kerap hanya tampak ketika reuni digelar, kepengurusan dibentuk, atau agenda seremonial diselenggarakan.
Pesan Khofifah di Pekanbaru menyentuh persoalan tersebut. Jejaring, dalam pandangannya, baru memiliki arti apabila dipelihara melalui komunikasi dan diterjemahkan menjadi kolaborasi.
“Jejaring alumni adalah kekuatan besar,” katanya.
Kekuatan itu tidak hanya untuk kepentingan almamater. Ketika alumni saling terhubung, berbagi pengalaman, dan membuka akses antarsektor, manfaatnya dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Di sinilah organisasi alumni menghadapi ujian sesungguhnya. Bukan pada seberapa banyak nama tercatat dalam basis data keanggotaan, melainkan pada seberapa efektif jejaring tersebut menghubungkan masalah dengan pengetahuan, kebutuhan dengan sumber daya, serta gagasan dengan kemampuan eksekusi.
Foto-foto pertemuan di Pekanbaru memperlihatkan suasana yang akrab. Para alumni berdiri bersama, sebagian mengangkat tangan dalam gestur penuh semangat. Akan tetapi, di balik kebersamaan itu tersimpan pertanyaan yang lebih substantif: setelah pertemuan selesai, apa yang benar-benar dikerjakan bersama?
Jawa Timur sebagai “Rumah Belajar”
Khofifah kemudian menawarkan sesuatu yang lebih konkret. Alumni dari berbagai profesi dan disiplin ilmu dipersilakan datang ke Jawa Timur untuk melakukan studi banding, benchmarking, dan mempelajari praktik-praktik baik yang dinilai relevan dengan kebutuhan masing-masing bidang.
Terutama pendidikan.
Bagi Khofifah, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan investasi jangka panjang. Karena itu, pengalaman pembangunan tidak semestinya disimpan dalam batas administratif suatu provinsi. Praktik yang berhasil perlu dibuka, dipelajari, diuji, lalu disesuaikan dengan karakter daerah lain.
“Kami ingin Jawa Timur menjadi rumah belajar bersama,” ujarnya.
Tawaran tersebut bukan sekadar bahasa diplomasi antardaerah. Dalam forum itu, Khofifah mengaitkannya dengan upaya Jawa Timur memperluas ekosistem pendidikan bertaraf internasional melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dunia, termasuk King’s College London dan Western Sydney University.
Gagasan “rumah belajar bersama” membawa konsekuensi penting. Pembangunan daerah tidak harus selalu berlangsung melalui kompetisi. Daerah dapat tumbuh melalui pertukaran pengalaman.
Apa yang berhasil di Jawa Timur dapat dipelajari Riau. Sebaliknya, pengalaman Riau dalam mengelola wilayah, ekonomi, sumber daya, dan masyarakatnya juga dapat menjadi pengetahuan berharga bagi daerah lain.
Dalam kerangka seperti itu, alumni berpotensi menjadi jembatan.
Mereka hidup di dua ruang sekaligus: membawa identitas almamater, tetapi bekerja di tengah realitas lokal. Mereka memahami bahasa akademik, tetapi juga bersentuhan dengan kebutuhan lapangan. Jika kekuatan itu dirawat, organisasi alumni dapat berfungsi sebagai penghubung pengetahuan antardaerah.
Dari Jejaring Menuju Pemerataan Akses
Percakapan di Pekanbaru tidak berhenti pada kolaborasi elite alumni. Forum juga bergerak menuju persoalan yang lebih mendasar: akses generasi muda terhadap pendidikan tinggi berkualitas.
Khofifah mengajak pengurus wilayah dan alumni lebih aktif menyebarluaskan informasi mengenai Universitas Airlangga kepada masyarakat, terutama siswa SMA di Riau.
Alumni, dalam pandangan itu, bukan hanya lulusan. Mereka adalah duta almamater.
Peran tersebut menjadi penting karena keputusan seorang siswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi tidak semata ditentukan kemampuan akademik. Informasi, keberanian merantau, pengetahuan tentang jalur masuk, biaya hidup, dukungan sosial, hingga gambaran mengenai kehidupan di kota tujuan ikut menentukan.
Karena itu, forum tersebut memunculkan aspirasi agar kesempatan bagi calon mahasiswa dari luar Pulau Jawa semakin diperluas. Alumni juga mengusulkan penguatan fasilitas pendukung, termasuk asrama bagi mahasiswa luar daerah yang dapat berfungsi sebagai ruang adaptasi sekaligus pusat informasi selama menjalani pendidikan di Surabaya.
Usulan itu tampak sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang lebih dalam.
Bagi seorang anak muda dari luar Jawa, diterima di perguruan tinggi ternama hanyalah satu tahap. Tahap berikutnya adalah bertahan: menemukan tempat tinggal, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, membangun jaringan sosial, dan menghadapi biaya kehidupan kota.
Pemerataan pendidikan, dengan demikian, tidak selesai ketika pintu seleksi dibuka. Ia baru bermakna ketika mahasiswa dari beragam latar belakang memperoleh kesempatan nyata untuk masuk, beradaptasi, belajar, dan menyelesaikan pendidikan.
Reputasi Global, Tanggung Jawab Lokal
Dalam forum itu, Khofifah juga menyinggung capaian internasional UNAIR. Berdasarkan laporan Digital Jatim, ia menyampaikan bahwa pada 2025 UNAIR berada di peringkat ke-9 dunia dalam Times Higher Education Impact Rankings serta disebut menjadi yang terbaik di Indonesia dan Asia Tenggara dalam implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan versi pemeringkatan tersebut.
Capaian internasional tentu penting. Peringkat dapat memperkuat reputasi, membuka jejaring akademik, dan meningkatkan kepercayaan terhadap institusi.
Namun, reputasi global juga melahirkan pertanyaan lokal: seberapa jauh keunggulan sebuah universitas hadir dalam kehidupan masyarakat?
Di titik itu, alumni menjadi bagian penting dari jawabannya.
Universitas tidak hanya hidup melalui gedung, laboratorium, jurnal ilmiah, dan ruang kuliah. Ia juga hidup melalui keputusan yang dibuat para alumninya di ruang publik; melalui dokter yang melayani pasien, pendidik yang membangun sekolah, pengusaha yang membuka lapangan kerja, birokrat yang memperbaiki pelayanan, peneliti yang memecahkan persoalan, serta warga yang bekerja untuk komunitasnya.
Karena itu, reputasi almamater pada akhirnya tidak hanya diukur dari posisi dalam pemeringkatan dunia. Ia juga diuji oleh daya guna pengetahuan yang dibawanya ke tengah masyarakat.
Pekanbaru dan Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan Alumni
Pertemuan di Pekanbaru berlangsung hangat. Dialog dibuka. Aspirasi disampaikan. Foto bersama diambil.
Seperti banyak pertemuan alumni lainnya, hari itu akan menjadi dokumentasi: tersimpan di telepon genggam, beredar di media sosial, masuk ke arsip organisasi, dan dimuat media.
Namun, nilai sesungguhnya dari sebuah pertemuan baru terlihat setelah ruangan kembali kosong.
Apakah komunikasi berlanjut?
Apakah gagasan menemukan pelaksana?
Apakah alumni lintas profesi benar-benar bekerja bersama?
Apakah siswa-siswa di Riau memperoleh akses informasi yang lebih luas?
Apakah usulan tentang dukungan bagi mahasiswa luar daerah ditindaklanjuti?
Apakah jejaring alumni mampu menghadirkan solusi atas persoalan nyata?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menentukan apakah sebuah forum hanya menjadi peristiwa sehari atau tumbuh menjadi gerakan jangka panjang.
Khofifah menutup salah satu pesannya dengan kalimat sederhana: “Susah bukan berarti tidak bisa.”
Yang dibutuhkan, menurut dia, adalah komitmen tinggi, disiplin kuat, dan semangat memperjuangkan ikhtiar bagi kemajuan bersama.
Di luar ruang pertemuan, tantangan pembangunan tentu jauh lebih rumit daripada sebuah forum alumni. Kesenjangan kualitas sumber daya manusia, pemerataan akses pendidikan, kebutuhan inovasi, dan ketimpangan kesempatan antardaerah tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi.
Namun, perubahan hampir selalu membutuhkan simpul-simpul yang mampu mempertemukan orang.
Dan alumni, jika tidak berhenti pada nostalgia, dapat menjadi salah satu simpul itu.
Dari Pekanbaru, pesan tersebut memperoleh bentuknya: masa lalu mempertemukan mereka sebagai alumni. Masa depan menuntut mereka hadir sebagai kekuatan kolaborasi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi