Oleh Amang Mawardi
Saya tentu sependapat jika ada opini yang menyatakan bahwa beranda Facebook adalah jiwa nampak dari pemilik akun.
Semakin kita telusuri beranda Facebook seseorang, semakin banyak kita ketahui relung hati seseorang tersebut. Dengan demikian, kita pun –InsyaAllah– akan tahu, seberapa dalam jiwa pemilik akun itu yang mencerminkan laku perbuatan dari endapan sifat dasar yang dimilikinya.
Sebelumya saya menemukan aspek ‘humoris dan humanis’ setelah saya telusuri beranda Facebook ‘Hisnindarsyah Dokter’ yang lini masanya membahas potensi dan empower wanita dengan begitu bijak.
Lantas saya telusuri lagi dengan melakukan scroll ke bawah, maka saya dapati ‘kekuatan puisi’ dari sejumlah postingan puisi-puisinya yang romantis filosofis.
Selanjutnya saya scroll lagi, ketemulah pangilon (cermin kontemplasi) dari sekian materi terposting yang kelihatannya ada yang pernah saya jumpai yang nampaknya mudah untuk dijalankan — padahal tidak banyak yang bisa satunya kata dengan perbuatan ketika berada pada koridor pangilon ini. Kelihatannya saja sederhana, tetapi…
Nah, salah satu pangilon yang ditulis ‘Hisnindarsyah Dokter’ ini, pada bagian paling bawah ditandai dengan : Night in Braga Last Ramadhan to Syawal 1447 H. Persisnya begini: Ada orang miskin yang selalu tertawa. Ada orang kaya yang selalu mengeluh. Ternyata bahagia itu tergantung dari rasa syukur. Bukan dari banyaknya harta.
Hakikat dari pangilon di atas manakala dideskripsikan dalam konteks filsafat, boleh jadi sebagai berikut :
Ada jiwa lapang di tubuh yang tak berharta, ia tertawa sebab menemukan kecukupan dalam dirinya.
Ada jiwa sempit di singgasana emas, ia mengeluh sebab hasratnya tak pernah genap.
Maka kebahagiaan bukan bagi memiliki yang banyak, melainkan bagi yang merasa cukup.
Ia lahir dari kesadaran bahwa yang dimiliki sudah utuh, bukan dari angka yang terus menuntut untuk ditambah.
Dalam konteks filsafat Islam, rasa syukur bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan manifestasi kesadaran spiritual dan cara pandang mendalam. Mungkin seperti orang Jawa bilang : jeru.
Menurut Al-Farabi, segala hal di alam semesta harus disyukuri sebagai bagian dari jalan mencapai Al-Sa’adah (kebahagiaan sejati).
Sementara itu Imam Al-Ghazali mendefinisikan syukur sebagai tindakan menggunakan karunia sesuai kehendak dan tujuan Sang Khaliq. Di mana puncak kebahagiaan adalah rasa syukur dalam menumbuhkan kepuasan batin yang qana’ah (cukup).
Bagi sejumlah filsuf lainnya, individu yang bersyukur terbebas dari kecemasan berlebih dan keserakahan, sehingga mampu melihat kesuksesan bukan dari seberapa banyak materi yang terkumpul, melainkan dari kedamaian jiwa saat ini.
Sedangkan manfaat bersyukur akan kembali kepada manusia itu sendiri, yakni tumbuhnya penguatan kesehatan mental dalam membentuk pribadi yang lebih positif.
Pemahaman ini mengajarkan bahwa dengan bersyukur, manusia tidak hanya menghargai Sang Pencipta, melainkan juga memanusiakan diri sendiri melalui kesadaran penuh atas anugerah kehidupan.
Dari studi kepustakaan dalam konteks rasa syukur berkaitan dengan aspek spiritual, disebutkan: Ada hati yang miskin dunia tetapi kaya syukur, sehingga tawanya menjadi zikir tanpa suara;
Ada hati yang kaya dunia tetapi miskin qana’ah — jauh dari cukup, sehingga keluhnya menjadi hijab dari nikmat yang nyata.
Sebab, bahagia bukan tentang seberapa banyak rezeki yang digenggam, melainkan seberapa luas rasa terima kasih yang ditanam.
Pada akhirnya pangilon ‘Hisnindarsyah Dokter’ ini saya pahami begini: Yang dipandang Tuhan bukan seberapa banyak isi brankas, tetapi luasnya syukur dalam kepasrahan paling mendasar.(*).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi