SURABAYA-KEMPALAN: Siapa tak kenal Onghokham? Sejarawan lulusan Universitas Yale, Amerika Serikat yang menjadi salah satu sejarawan kenamaan asal Indonesia.
“Ong memang seorang hedonis, dia memang suka makan, dia memang suka minum,” ingat Reeve, salah satu narasumber diskusi ini.
Ia menceritakan bagaimana disertasi Onghokham tidak pernah terbit karena kebiasaan Ong yang ia jelaskan di atas. Selama di Singapura, Ong lebih memilih makan dan minum.
“Disertasinya terbit 4 tahun lalu, tepat 11 tahun setelah dia meninggal,,” jelas penulis biografi Onghokham ini pada diskusi Jumat (14/4).
Ong sendiri, menurut Reeve, memang tertarik dengan kaitan antara petani dan pemberontakan seperti Kartono Sartodirdjo. Sang sejarawan banyak juga menulis ide-ide Jawa mulai dari tingkat kerajaan sampai petani.
“Tahun 85, Ong juga menulis tentang tuyul, ia sejarawan pertama yang menulis tentang tuyul,” jelasnya seraya menunjukkan foto Ong di Konferensi Tuyul pada tahun 1985 untuk menunjukkan, kepercayaan kepada tuyul berkaitan dengan kekayaan di Jawa.
Menurut Reeve, Ong menganggap tuyul sebagai perlawanan proletariat terhadap kekayaan. “Orang melihat tuyul seperti mereka melihat Ong.”
Dalam acara ini, pria asal Australia itu menjelaskan panjang lebar mengenai pemikiran dan karya Onghokham, seperti sejarah mengenai mahluk halus sebagai pengetahuan, lukisan, dan gagasan lain terkait Jawa atau Indonesia.
“Kehidupan Ong sangat menarik dan membacanya kita akan mengetahui sejarah Indonesia,” tutup Reeve saat memberikan materi.
Sebagai pembahas, hadir juga Dede Oetomo, alumni Universitas Cornell dan juga Staf Pengajar di FISIP, Unair.
Dede menguraikan terkait ketertarikan Ong terhadap “wong cilik” sehubungan dengan pengalaman dan ketertarikan pada masa kecilnya seraya membandingkan temannya yang lain yang tidak awas terhadap lingkungan “wong cilik.” (Reza Maulana Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi