Jumat, 10 Juli 2026, pukul : 16:25 WIB
Surabaya
--°C

Cak Armuji Bakal Tampil Baca Puisi Merayakan Bulan Bung Karno

Di tengah arus globalisasi sekarang ini, pemikiran Bung Karno tetap relevan. Kebudayaan harus menjadi sumber kepercayaan diri bangsa, bukan sekadar warisan masa lalu atau komoditas hiburan.

Oleh: Jil Kalaran

KEMPALAN: Merayakan Bulan Bung Karno, Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS) menggelar acara Sastra dan Musik pada Jumat, 19 Juni 2026 Pukul 19.00 sampai selesai, di Teras Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Kompleks Balai Pemuda Surabaya.

Kabarnya, Cak Armuji, Wakil Walikota Surabaya bakal hadir dan ikut serta membaca puisi.

Selain Cak Armuji, juga bakal tampil Pembacaan “Jas Merah” oleh 10 pelukis Surabaya yang sedang memamerkan karyanya di Galeri DKS.

Jas Merah (Jangan Sekali Sekali Meninggalkan Sejarah) merupakan pidato terakhir Bung Karno pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966.

Selain para pelukis, juga bakal tampil para penyair seperti Denting Kemuning, Mulyadi J. Amalik, Dramawan Imam CB, pemusik Edi Jenggot, Mukhsin Amar, Riris, Cak Breng, Gatot Strenkali, Udi Laksono dan Webech Mituhu. Mereka akan membaca Surat dan Sajak-sajak karya Bung Karno.

BACA JUGA  Mengenal Tiga Potensi Diri Yang Tersembunyi

Bung Karno dan Politik Kebudayaan

Bagi Bung Karno, kebudayaan bukan hanya sekadar urusan seni dan tradisi, melainkan bagian penting dari perjuangan bangsa. Kemerdekaan politik tidak akan berarti jika rakyat masih kehilangan kepercayaan terhadap identitas dan kebudayaannya sendiri.

Bung Karno meyakini bahwa penjajahan bukan hanya menguasai wilayah dan ekonomi, tetapi juga cara berpikir suatu bangsa. Karena itu, kebudayaan harus menjadi alat pembebasan yang membangun kesadaran akan sejarah, jati diri dan kekuatan bangsa. Politik kebudayaan bertujuan menjadikan kebudayaan sebagai tenaga penggerak perubahan sosial dan pembangunan nasional.

Dalam konsep Trisakti, Bung Karno menempatkan prinsip “berkepribadian dalam kebudayaan” itu sejajar dengan kedaulatan politik dan kemandirian ekonomi. Bangsa Indonesia harus terbuka terhadap perkembangan dunia, tetapi tidak kehilangan akar budayanya.

BACA JUGA  W.R. Supratman: Lelaki Yang Membangkitkan Bangsa Lewat Nada

Modernitas harus tumbuh dari kepribadian nasional, bukan dari sikap meniru bangsa lain.

Karena itu, seniman dan budayawan memiliki peran strategis sebagai penjaga kesadaran kebangsaan. Seni tidak hanya menciptakan keindahan, tetapi juga menyuarakan kemanusiaan, keadilan dan harapan rakyat.

Di tengah arus globalisasi sekarang ini, pemikiran Bung Karno tetap relevan. Kebudayaan harus menjadi sumber kepercayaan diri bangsa, bukan sekadar warisan masa lalu atau komoditas hiburan.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi dan teknologi, melainkan bangsa yang mampu berdiri tegak dengan kepribadian budayanya sendiri.

Kegiatan ini merupakan penutupan dari rangkaian pameran Vivere Pericoloso yang berlangsung sejak 12 hingga 19 Juni 2026.

*) Jil Kalaran, Koordinator FPKS (Forum Pegiat Kesenian Surabaya)

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.