Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 17:29 WIB
Surabaya
--°C

Esensi Kritik Dalam Demokrasi Adalah Kepedulian, Bukan Kebencian

Menyamakan kritik dengan kebencian hanya akan melahirkan masyarakat yang takut berpikir dan pemimpin yang hidup di dalam sirkel pujian palsu. Mari kita rawat ruang publik kita dengan kedewasaan.

Oleh: Hamid Nabhan

KEMPALAN: Di dalam ruang hidup bernegara hari ini, kita seringkali menyaksikan sebuah fenomena yang menggelisahkan, yaitu penyempitan makna kritik. Ketika sebuah kebijakan dipertanyakan atau sebuah keputusan disorot, respon yang muncul kerapkali bersifat defensif. 

Kritik buru-buru diberi label sebagai bentuk kebencian, ujaran kebencian (hate speech), atau bahkan upaya untuk merongrong stabilitas.

Padahal, mengidentikkan kritik dengan kebencian adalah sebuah kekeliruan logika yang sangat berbahaya bagi masa depan demokrasi kita.

Kita perlu mengembalikan makna kritik ke khitahnya, sebab esensi dari kritik itu sebenarnya adalah bentuk kepedulian yang paling nyata, bukan kebencian. Di berbagai belahan dunia sebenarnya telah tersedia batasan dan parameter yang sangat jelas mengenai hal ini. 

Jika kita melihat bagaimana ruang publik di negara-negara demokrasi lainnya berjalan, kritik selalu ditempatkan sebagai bagian dari kebebasan berekspresi yang sah dan dilindungi oleh hukum. 

Kritik yang sehat selalu berfokus pada ide, tindakan, kinerja, atau kebijakan.  Ia tidak mau menyerang privasi atau identitas personal sang pemimpin, melainkan menguliti efektivitas dan keadilan dari kebijakan yang diambilnya.

BACA JUGA  Arsitektur Neoliberal Adalah Delusi Besar

Di sisi lain, ujaran kebencian lahir dari sentimen personal yang destruktif dengan tujuan menghina atau merusak martabat personal tanpa dasar substantif.

Ketika warga negara bersuara mempertanyakan kebijakan, mereka tidak sedang membenci figur yang memimpin, melainkan sedang menuntut tanggung jawab atas amanah publik yang sedang diemban. 

Untuk merumuskan sebuah kritik, seseorang harus berpikir, mengamati, dan meluangkan energinya.  Seseorang yang mengkritik artinya masih menaruh harapan pada negerinya.

Riuhnya kritik di masyarakat justru merupakan alarm dari munculnya ketidak-percayaan publik atas kebijakan-kebijakan kontroversial yang dirasa menjauh dari kepentingan rakyat.

Artinya, masyarakat mengkritik karena mereka masih peduli.  Kebalikan dari cinta atau kepedulian bukanlah kritik, melainkan apatisme.

Kala masyarakat memilih diam dan masa bodoh terhadap apa pun yang dilakukan oleh pembuat kebijakan, itulah titik di mana sebuah bangsa berada dalam bahaya yang sesungguhnya. Diamnya warga negara itu adalah tanda bahwa mereka telah mati rasa dan menyerah terhadap keadaan.

Selama kritik masih terdengar nyaring, itu adalah bukti nyata bahwa denyut nadi kepedulian publik masih hidup.

BACA JUGA  Mereka Lupa Perang Yang Sesungguhnya (Bag-2)

Oleh karena itu, seorang pemimpin di negara demokrasi seharusnya tidak perlu alergi atau anti-kritik. Karena kekuasaan yang tidak pernah diuji oleh kritik itu cenderung akan menjadi absolut dan korup dalam ruang hampa. 

Membungkam kritik dengan dalih menjaga wibawa atau menuduhnya sebagai kebencian itu justru bisa menjerumuskan tata kelola negara ke dalam praktik authoritarianisme canggih, sebuah kondisi di mana atribut demokrasi dipelihara hanya untuk menyamarkan tindakan yang otoriter.

​Pemimpin yang besar tidak dinilai dari seberapa bersih jalannya dari tentangan, melainkan dari seberapa bijak ia mengelola perbedaan pendapat.

Ketika kritik dijawab dengan argumen yang solid, transparansi, dan perbaikan nyata, bukan dengan pembungkaman, di situlah kualitas demokrasi kita naik kelas. 

Menyamakan kritik dengan kebencian hanya akan melahirkan masyarakat yang takut berpikir dan pemimpin yang hidup di dalam sirkel pujian palsu. Mari kita rawat ruang publik kita dengan kedewasaan.

Kritik bukanlah ancaman bagi stabilitas karena kritik adalah vitamin yang menjaga agar tubuh demokrasi kita tetap sehat, tangguh, dan terus bertumbuh.

*) Hamid Nabhan, Seniman dan Budayawan

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.