Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 22:42 WIB
Surabaya
--°C

‘Data Center’, Air, dan Pelajaran dari Konflik ‘Google’ di Iowa

Karena itu, sebelum Indonesia menyambut gelombang investasi data center yang lebih besar, maka kita harus memastikan bahwa kemajuan digital tidak dibangun dengan mengorbankan ketahanan air masyarakat.

Oleh: Agusdin Pulungan

KEMPALAN: Ketika berbicara tentang kecerdasan buatan (AI), komputasi awan, dan ekonomi digital, kita sering membayangkan masa depan yang serba canggih. Tapi, di balik dunia digital tersebut terdapat infrastruktur fisik yang sangat besar bernama data center.

Yang sering luput dari perhatian adalah bahwa data center tersebut tidak hanya membutuhkan lisptrik dalam jumlah besar, tapi juga air dalam jumlah yang sangat besar.

Pelajaran penting mengenai hal ini datang dari Iowa, Amerika Serikat.

Di Kota Palo, Iowa, rencana pembangunan data center Google telah memicu kekhawatiran dan penolakan dari sebagian masyarakat. Bukan karena mereka anti-teknologi atau anti-investasi.

Yang mereka pertanyakan adalah penggunaan air dalam jumlah sangat besar yang dibutuhkan untuk mendinginkan ribuan server yang beroperasi tanpa henti.

Bagi masyarakat setempat, persoalannya sederhana. Air adalah kebutuhan dasar kehidupan. Air dibutuhkan untuk rumah tangga, pertanian, peternakan, industri lokal, dan menjaga keseimbangan lingkungan.

Ketika sebuah perusahaan raksasa teknologi berpotensi menggunakan puluhan juta liter air setiap hari, masyarakat mulai bertanya: apakah sumber daya air kami akan tetap aman untuk masa depan?

BACA JUGA  Diserang Habis-habisan, Indonesia Tidak Jatuh (Bag-1)

Konflik yang muncul di Iowa menunjukkan bahwa persoalan data center bukan sekadar urusan teknologi dan investasi.

Konflik tersebut pada dasarnya adalah pertarungan antara dua kepentingan yang sama-sama penting: kebutuhan pembangunan ekonomi digital dan perlindungan sumber daya alam yang menopang kehidupan masyarakat.

Menurut saya, pelajaran dari Iowa sangat relevan bagi Indonesia.

Saat ini Indonesia sedang menjadi tujuan investasi data center berskala besar. Kawasan Batam, Bekasi, Cikarang, dan Karawang berkembang menjadi pusat pertumbuhan industri digital baru.

Pemerintah tentu berharap investasi ini dapat mempercepat transformasi digital nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi digital Asia Tenggara.

Tapi sebelum terlalu sibuk menghitung nilai investasi dan potensi pertumbuhan ekonomi, kita perlu mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan masyarakat di Iowa: dari mana air yang dibutuhkan data center akan berasal?

Pertanyaan ini penting karena Indonesia bukan hanya negara digital, tetapi juga negara agraris dan maritim.

Air yang sama digunakan untuk mengairi sawah, mendukung perikanan, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menjaga ekosistem.

Jika suatu ketika sebuah wilayah harus menghadapi persaingan penggunaan air antara masyarakat dan industri data center, maka konflik yang terjadi di Iowa bisa saja terulang di Indonesia.

BACA JUGA  Regresi Kualitas Pemimpin

Saya tidak menolak pembangunan data center. Indonesia membutuhkan investasi teknologi dan infrastruktur digital. Namun setiap proyek harus disertai kajian yang transparan mengenai kebutuhan air, sumber pasokan air, dan dampaknya kepada lingkungan serta masyarakat sekitar.

Jejak penggunaan air (water footprint) harus menjadi bagian penting dalam setiap proses perizinan.

Kasus Google di Iowa mengajarkan bahwa air bukan sekadar persoalan teknis yang bisa diselesaikan oleh insinyur. Air adalah persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang menyangkut kepentingan publik.

Karena itu, sebelum Indonesia menyambut gelombang investasi data center yang lebih besar, maka kita harus memastikan bahwa kemajuan digital tidak dibangun dengan mengorbankan ketahanan air masyarakat.

Bagi Indonesia, pertanyaan yang perlu dijawab bukan seberapa besar data yang  bisa diproses oleh sebuah data center, tetapi juga apakah pembangunan tersebut bisa menjaga hak generasi mendatang atas sumber daya air yang sudah semakin langka.

*) Agusdin Pulungan, Ketua WAMTI (Wahana Masyarakat Tani dan Nelayan Indonesia)

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.