Minggu, 14 Juni 2026, pukul : 14:33 WIB
Surabaya
--°C

Sabet Golden Ticket Unesa dan Tembus Skuad Uber Cup 2026, Thalita Ramadhani Berkilau di Jalur Prestasi Dunia dan Akademik

SURABAYA-KEMPALAN: Sektor tunggal putri bulutangkis Indonesia kini memiliki amunisi masa depan yang melesat di dua jalur sekaligus: prestasi dunia dan akademik. Thalita Ramadhani Wiryawan, shuttler muda binaan PB New Kampret yang kini menghuni Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) PBSI, sukses membuktikan bahwa komitmen di atas lapangan dapat berjalan selaras dengan jaminan masa depan lewat jalur Golden Ticket Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Lompatan karier atlet kelahiran Surabaya, 20 September 2007 ini terhitung fenomenal. Bergabung dengan Pelatnas Cipayung pada Desember 2024, Thalita hanya membutuhkan waktu satu setengah tahun untuk meroket dari peringkat 400-an hingga kini nangkring di peringkat 55 dunia (serta sempat menyentuh ranking 68 dunia pada rilis sebelumnya). Konsistensi performa di sirkuit internasional ini pula yang mengantarkan Thalita dipercaya masuk ke dalam jajaran elite tim Merah Putih pada gelaran prestisius Piala Uber 2026.
Di level domestik, posisinya kini menguntit ketat di belakang Putri Kusuma Wardani sebagai tunggal putri nomor dua terbaik di Pelatnas. Sebuah pencapaian masif bagi pemain yang baru berusia 18 tahun.
Menolak Menyerah: Dari Kegagalan Seleknas hingga Panggung Uber Cup
Perjalanan Thalita menuju jajaran elite nasional tidak terjadi dalam semalam. Pengurus PB New Kampret mengungkapkan, talenta Thalita pertama kali diasah di klub tersebut pada periode 2015–2016 saat ia masih berusia 10 tahun. Menunjukkan bakat yang menonjol, ia kemudian direkrut oleh klub raksasa, PB Jaya Raya, pada 2017 untuk mematangkan kemampuannya sepanjang jenjang SMP hingga SMA.
Kendati demikian, mentalitas Thalita diuji secara hebat sebelum menembus Cipayung. Ia sempat mengalami fase krusial dalam kariernya saat gagal dalam Seleksi Nasional (Seleknas) PBSI. Kekecewaan mendalam itu bahkan sempat membuatnya frustrasi hingga berniat gantung raket dan pulang ke Surabaya.
Namun, intervensi psikologis dan dukungan moral yang kuat dari pihak keluarga menjadi titik balik. Bangkit dari keterpurukan, Thalita langsung mengamuk di lapangan dengan menyapu bersih lima gelar juara Sirkuit Nasional (Sirnas) secara beruntun. Dominasi mutlak inilah yang memaksa tim pemandu bakat PBSI memanggilnya masuk Pelatnas tanpa ragu pada akhir tahun 2024.
Puncaknya, pada tahun 2026 ini, kerja kerasnya dibayar tuntas lewat pemanggilan memperkuat tim Piala Uber Indonesia, sebuah pembuktian bahwa ia kini berada di koridor pemain elite global.

BACA JUGA  Arumi Dorong Wastra dan Kriya Jatim Makin Berdaya Saing di Pasar Nasional


Unesa ‘Rumah Para Juara’: Harmoni Dunia Atlet dan Kampus


Keberhasilan di atas lapangan karpet hijau ini berbanding lurus dengan pencapaian akademiknya. Sebagai bentuk apresiasi nyata terhadap aset bangsa, Unesa—kampus yang menasbihkan diri sebagai “Rumah Para Juara”—menganugerahkan Golden Ticket (jalur khusus tanpa tes) kepada Thalita. Saat ini, ia resmi tercatat sebagai mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan Unesa.
Langkah ini menegaskan visi Unesa yang diusung oleh Rektor Unesa sekaligus pemilik PB New Kampret, Profesor Nurhasan, dalam memfasilitasi masa depan para atlet nasional agar tidak melupakan pendidikan tinggi.
Pengurus PB New Kampret yang juga Wakil Rektor IV Unesa, Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, M.Pd., menyatakan rasa bangganya atas capaian sang atlet yang mampu menyelaraskan dua dunia yang kerap dinilai sulit berjalan beriringan.
“Bagi kami di pengurus PB New Kampret, prestasi Thalita sangat membanggakan. Seperti yang selalu ditekankan oleh Pak Rektor (Prof. Nurhasan), Thalita telah mengharumkan nama PB New Kampret selaku klub yang pertama kali menemukan dan mengendus talentanya,” ujar Prof. Cahyo.

BACA JUGA  Tarif Angkutan Umum di Jatim Belum Naik, Dishub Tunggu Keputusan Pemerintah Pusat


Mantan wasit berlisensi FIBA tersebut menambahkan, para pengamat bulutangkis tidak perlu risau dengan performa Thalita di Pelatnas akibat beban kuliah. Unesa telah merancang kurikulum adaptif yang ramah bagi atlet profesional.
“Kami menerapkan sistem akademik yang fleksibel dan adaptif. Ini memungkinkan mahasiswa yang berstatus atlet nasional seperti Thalita tetap bisa menjalani pemusatan latihan intensif di Cipayung dan terbang ke berbagai turnamen internasional, tanpa harus mengorbankan capaian akademisnya. Pendidikan dan prestasi harus berjalan beriringan,” tegas Prof. Cahyo.
Kini, dengan usia yang masih sangat muda, grafik performa yang terus menanjak, serta statusnya sebagai pilar tim Piala Uber Indonesia 2026, Thalita Ramadhani Wiryawan bukan lagi sekadar talenta potensial, melainkan aset berharga bulutangkis Indonesia yang siap mengguncang panggung dunia.
“Dengan talenta luar biasa dan kematangan mental yang sudah teruji, masa depan Thalita sangat cerah. Saya optimis dia akan bersinar jauh lebih terang di level yang lebih tinggi,” pungkas Prof. Cahyo.
(Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.