Oleh : Slamet Sugianto
KEMPALAN: Di sebuah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, garis pantai sekitar 108.000 kilometer, dan wilayah laut mencapai sekitar 6,4 juta kilometer persegi, menjaga kedaulatan maritim bukan sekadar soal kapal perang. Ia adalah persoalan mengelola ruang hidup bangsa, menghubungkan pertahanan dengan ekonomi, serta mengintegrasikan jutaan manusia yang hidup dari laut.
Di titik itulah nama Edwin Rajo Mangkuto menjadi relevan.
Perwira tinggi kelahiran Padang, 2 Agustus 1969 itu kini mengemban jabatan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal), posisi nomor dua dalam struktur TNI AL. Jabatan tersebut menempatkannya pada simpul strategis yang menghubungkan pembangunan kekuatan laut, pembinaan personel, modernisasi alutsista, pengembangan potensi maritim, hingga transformasi digital pertahanan maritim Indonesia.
Produk 35 Tahun Pengabdian
Edwin merupakan alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan XXXVII tahun 1991.
Artinya, ketika resmi menjabat Wakasal pada 2026, ia telah menjalani sekitar 35 tahun pengabdian di TNI AL. Dalam sistem karier militer Indonesia, rentang waktu tersebut bukan hanya menunjukkan senioritas, tetapi juga proses seleksi berlapis yang sangat kompetitif. Dari ribuan lulusan akademi militer selama tiga dekade terakhir, hanya sebagian kecil yang mencapai pangkat bintang tiga.
Pada usia 56 tahun, Edwin berada pada fase puncak kematangan kepemimpinan militer: memiliki pengalaman lapangan, pemahaman birokrasi pertahanan, serta kapasitas strategis nasional.
Penerbang Laut yang Memahami Laut dari Udara
Karier Edwin tidak dibangun dari meja birokrasi.
Ia berasal dari Korps Pelaut (Penerbang), sebuah komunitas kecil dan sangat spesialis di lingkungan TNI AL.
Sebagai penerbang, ia memahami laut dari perspektif yang berbeda. Jika komandan kapal melihat ancaman dari permukaan laut, penerbang melihatnya dari ribuan kaki di atas permukaan.
Kombinasi ini membentuk cara pandangnya terhadap keamanan maritim:
- pengawasan wilayah laut,
- patroli maritim,
- pengintaian,
- deteksi dini ancaman,
- integrasi operasi laut dan udara.
Perspektif tersebut kemudian menjadi modal penting ketika Indonesia menghadapi tantangan keamanan laut yang semakin kompleks di kawasan Indo-Pasifik.
Rekam Jejak yang Tidak Linear
Banyak perwira tinggi memiliki spesialisasi tertentu sepanjang kariernya.
Edwin justru menempuh jalur yang relatif lengkap.
Riwayat jabatan strategisnya mencakup:
- Komandan KRI Tanjung Kambani-973
- Danlanal Tanjung Balai Karimun
- Danwing Udara I Puspenerbal
- Danlanudal Juanda
- Danmen AAL
- Danlantamal V Surabaya
- Danpuspenerbal
- Danpuspomal
- Danpuspom TNI
- Pangkolinlamil
- Asrena Kasal
- Asrenum Panglima TNI
- Wakil Gubernur Lemhannas
- Wakasal.
Rangkaian jabatan itu memperlihatkan pola yang unik:
Operasional → Pendidikan → Penegakan Hukum → Logistik Strategis → Perencanaan → Ketahanan Nasional → Pimpinan TNI AL.
Tidak banyak perwira yang memiliki pengalaman selengkap itu.
Perwira Lapangan yang Menjadi Perumus Kebijakan
Di lingkungan militer modern, pengalaman tempur saja tidak cukup.
Edwin melengkapi pengalaman lapangannya dengan pendidikan akademik:
- Sarjana Hukum
- Magister Ilmu Hukum
- Magister Pertahanan
serta pendidikan militer:
- Seskoal
- Sesko TNI
- Lemhannas RI.
Kombinasi tersebut membuatnya berada pada kategori yang relatif langka: perwira yang memahami operasi, hukum, organisasi, dan strategi nasional sekaligus.
Tantangan yang Sedang Ia Hadapi
Sebagai Wakasal, Edwin tidak sekadar memimpin organisasi.
Ia membantu KSAL mengelola salah satu ruang strategis terbesar di dunia.
Skalanya dapat digambarkan melalui angka:
Variabel Strategis Indonesia antara lain : Wilayah laut ±6,4 juta km², Garis pantai ±108.000 km, Pulau ±17.000, ZEE ±3 juta km², Personel TNI AL ±65.000, Kapal patroli ±205, Frigat ±10, Korvet ±26, dan Kapal selam ±4.
Artinya, setiap keputusan pembangunan kekuatan TNI AL memiliki implikasi langsung terhadap keamanan wilayah yang luasnya melebihi banyak negara besar dunia.
Natuna dan Geopolitik Indo-Pasifik
Salah satu tantangan terbesar adalah Laut Natuna Utara.
Wilayah ini merupakan simpul pertemuan antara:
- kepentingan ekonomi,
- keamanan energi,
- jalur perdagangan,
- dan rivalitas geopolitik global.
Keberadaan kapal asing, aktivitas illegal fishing, serta meningkatnya kompetisi kekuatan besar menjadikan Natuna sebagai laboratorium nyata bagi kepemimpinan maritim Indonesia.
Dalam konteks tersebut, tugas Wakasal tidak hanya memastikan kesiapan armada, tetapi juga memastikan kemampuan organisasi membaca perubahan geopolitik secara tepat.
Mengapa Dispotmar Menjadi Penting?
Di luar armada dan kapal perang, Edwin juga berhadapan dengan tantangan yang lebih besar: bagaimana mengubah potensi maritim menjadi kekuatan nasional.
Di sinilah peran Dinas Potensi Maritim TNI Angkatan Laut menjadi strategis.
Indonesia memiliki:
Potensi Maritim meliputi : Nelayan ±2,7 juta, Kapal nelayan >600.000, Desa pesisir >12.000, dan Penduduk pesisir ±60 juta
Angka-angka tersebut jauh lebih besar daripada jumlah personel TNI AL.
Karena itu konsep modern pertahanan maritim tidak lagi hanya mengandalkan kapal perang, tetapi juga melibatkan masyarakat pesisir sebagai bagian dari sistem pertahanan semesta.
Dispotmar menjadi instrumen untuk menghubungkan negara dengan masyarakat maritim. Dalam perspektif Wakasal, keberhasilan pembinaan Dispotmar sama pentingnya dengan pembangunan alutsista baru.
Pemikiran Strategis : Laut sebagai Fondasi Ketahanan Bangsa
Yang menarik, Edwin tidak hanya dikenal sebagai operator militer.
Ia juga dikenal sebagai pemikir strategis maritim.
Melalui gagasannya mengenai “Potensi Maritim untuk Swasembada Pangan”, ia melihat laut bukan hanya sebagai arena pertahanan, tetapi juga sebagai fondasi ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
Pandangan tersebut menunjukkan pendekatan yang lebih luas:
Kekuatan maritim bukan sekadar kapal perang, tetapi kemampuan negara mengelola seluruh sumber daya laut untuk kepentingan nasional.
Visi Masa Depan: Ekosistem Digital Maritim Nasional
Jika tantangan terbesar Indonesia adalah luasnya wilayah laut, maka teknologi menjadi jawaban yang sulit dihindari.
Dalam konteks ini, salah satu gagasan yang sangat relevan dengan tupoksi Wakasal adalah pembangunan Ekosistem Digital Maritim Nasional.
Bayangkan apabila:
- 2,7 juta nelayan,
- lebih dari 600.000 kapal nelayan,
- 12.000 desa pesisir,
- ribuan pelabuhan,
terhubung dalam satu platform digital nasional.
Maka Indonesia akan memiliki jaringan pengawasan maritim berbasis masyarakat terbesar di Asia Tenggara.
Aplikasi tersebut dapat berfungsi sebagai:
- sistem pelaporan kapal asing,
- deteksi illegal fishing,
- peringatan cuaca,
- basis data potensi maritim,
- sistem bela negara maritim,
- dashboard keamanan laut nasional.
Bagi TNI AL, sistem seperti ini akan menjadi force multiplier yang mampu meningkatkan kesadaran situasional tanpa harus menambah armada secara masif.
Sosok yang Dibutuhkan Era Maritim Baru
Melihat keseluruhan perjalanan kariernya, Edwin Rajo Mangkuto dapat dipandang sebagai representasi generasi perwira yang lahir dari operasi lapangan tetapi tumbuh menjadi arsitek kebijakan strategis.
Ia memahami:
- operasi laut,
- operasi udara,
- pendidikan militer,
- penegakan hukum,
- logistik strategis,
- perencanaan pertahanan,
- geopolitik nasional.
Dalam teori kepemimpinan militer modern, figur seperti ini sering disebut strategic commander: pemimpin yang tidak hanya mampu memimpin pasukan, tetapi juga mampu merancang masa depan organisasi.
Di tengah tantangan menjaga 6,4 juta kilometer persegi laut Indonesia, membina sekitar 65.000 prajurit TNI AL, mengelola potensi 60 juta masyarakat pesisir, dan menghadapi perubahan geopolitik Indo-Pasifik yang semakin dinamis, Edwin Rajo Mangkuto kini berada pada salah satu posisi paling menentukan dalam arsitektur keamanan maritim Indonesia.
Dan seperti laut yang menjadi ruang hidup bangsa Indonesia, tantangan yang dihadapinya pun tidak pernah benar-benar berakhir. Justru di sanalah relevansi seorang Wakasal diuji: bukan hanya menjaga apa yang sudah dimiliki negara, tetapi menyiapkan kekuatan maritim Indonesia untuk generasi berikutnya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi