Jumat, 5 Juni 2026, pukul : 19:06 WIB
Surabaya
--°C

Perang di Teluk Persia dan Batas Kekuatan Amerika Tanpa Aliansi

Pada akhirnya, krisis di Teluk Persia memperlihatkan satu pelajaran lama yang kembali relevan: dalam geopolitik modern, kekuatan tidak hanya diukur dari jumlah kapal induk, jet tempur, atau rudal yang dimiliki.

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Saat banyak pihak mempertanyakan sejauh mana kemampuan Amerika Serikat (AS) beroperasi tanpa dukungan sekutu-sekutunya, situasi di Teluk Persia menjadi contoh yang kerap disebut.

Perang yang berlangsung melawan Iran menunjukkan bahwa superioritas anggaran militer tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan untuk menyelesaikan konflik secara cepat.

Iran bukan lawan yang mudah ditaklukkan. Negara berpenduduk sekitar 90 juta jiwa tersebutnberdiri di atas bentang pegunungan yang membentuk semacam benteng alami di sepanjang wilayahnya.

Di balik lapisan batu dan gunung tersebut, berbagai fasilitas strategis militer – mulai dari pusat komando, gudang bahan bakar, lokasi produksi senjata hingga instalasi rudal – disebut tersebar dan terlindungi di bawah tanah.

Serangan besar-besaran dalam Operasi Epic Fury dilaporkan menyasar ribuan titik di berbagai wilayah Iran. Namun hingga kini, Teheran masih mampu meluncurkan serangan balasan.

Pertanyaannya, jika ribuan target sudah dihantam tetapi kemampuan tempur lawan belum lumpuh, seberapa efektif strategi yang digunakan selama ini?

Pada saat yang sama, Selat Hormuz masih menjadi persoalan utama. Jalur laut yang biasanya mengalirkan sekitar seperempat pasokan minyak harian dunia itu dilaporkan tetap tertutup sejak akhir Februari.

Ranjau laut, patroli bersenjata, dan ancaman serangan membuat lalu-lintas energi global seperti truk yang terjebak macet berhari-hari di gerbang tol tanpa petugas pembuka jalur.

Kondisi tersebut menghadirkan ironi tersendiri. Amerika Serikat memiliki anggaran pertahanan terbesar dalam sejarah modern, tetapi hingga kini belum mampu membuka kembali jalur pelayaran paling strategis di dunia.

BACA JUGA  Jokowi Layak Sandang Gelar “Tukang Ngibul” Nasional

Jika kekuatan sebesar itu masih menemui hambatan, apakah persoalannya semata-mata soal jumlah senjata?

Di sinilah peran sekutu menjadi sorotan. Negara-negara Eropa secara kolektif memiliki ribuan pesawat tempur yang bisa memperluas operasi udara sekaligus mengurangi beban armada Amerika.

Inggris, misalnya, mengoperasikan kapal induk dan armada kapal selam nuklir. Prancis memiliki kapal induk bertenaga nuklir serta kekuatan laut yang tidak kecil.

Italia, Norwegia, Belanda, Belgia, dan Polandia juga menyumbangkan kemampuan berbeda yang saling melengkapi.

Belgia dan Belanda memiliki reputasi kuat dalam operasi pembersihan ranjau laut, kemampuan yang sangat relevan untuk kondisi Selat Hormuz saat ini.

Norwegia telah menyelesaikan modernisasi armada tempurnya dengan pesawat F-35, sementara Polandia dikenal memiliki salah satu kekuatan darat terbesar di Eropa.

Jika seluruh kapasitas tersebut digabungkan, skala operasinya tentu akan berbeda dibandingkan jika ditanggung satu negara saja.

Bahkan daftar tersebut belum memasukkan kontribusi negara-negara lain seperti Finlandia, Swedia, Spanyol, Yunani, Portugal, dan Rumania.

Gambaran yang sering muncul di berbagai peta militer hanyalah sebagian kecil dari kapasitas pertahanan Eropa secara keseluruhan.

Ada pula faktor Ukraina yang tidak bisa diabaikan. Bertahun-tahun dalam menghadapi perang berskala besar membuat negara itu mengembangkan kemampuan drone dan peperangan elektronik yang juga banyak dianggap paling matang di dunia saat ini.

Pengalaman tempur yang diperoleh di medan perang tidak bisa dibeli layaknya perangkat baru dari katalog industri pertahanan.

BACA JUGA  Menimbang Ulang Konstitusi: Mengapa Wacana Kembali ke UUD 1945 Menguat?

Aspek lain yang sering luput dari perhatian adalah intelijen dan diplomasi. Beberapa negara Eropa, termasuk Jerman dan Prancis, mempertahankan jalur komunikasi dengan Teheran hingga beberapa waktu lalu.

Dalam situasi krisis pun, keberadaan saluran semacam itu seringkali lebih berguna daripada satu skuadron tambahan. Sebab, tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan rudal; sebagian justru  tetap membutuhkan pintu belakang yang tetap terbuka.

Karena itu sejumlah analis menilai, nilai utama sebuah aliansi bukan terletak pada simbol politiknya, melainkan pada kemampuan memperbanyak opsi.

Aliansi ibarat jaringan tetangga saat hajatan besar: kursi, tenda, dan tenaga bisa dipinjam dari banyak rumah. Ketika hubungan dengan para tetangga memburuk, maka tuan rumah mungkin masih bisa menggelar acara, tetapi biayanya jauh lebih mahal dan hasilnya belum tentu lebih baik.

Kebijakan luar negeri pemerintahan Donald Trump kembali menjadi bahan perdebatan dalam konteks tersebut.

Para pengkritiknya berpendapat bahwa hubungan Washington dengan sejumlah sekutu tradisional mengalami kemunduran selama beberapa tahun terakhir.

Dampaknya baru terasa ketika Amerika membutuhkan dukungan yang tidak dapat digantikan oleh anggaran pertahanan semata.

Pada akhirnya, krisis di Teluk Persia memperlihatkan satu pelajaran lama yang kembali relevan: dalam geopolitik modern, kekuatan tidak hanya diukur dari jumlah kapal induk, jet tempur, atau rudal yang dimiliki.

Kadang-kadang, yang paling sulit dibangun justru kepercayaan. Dan ketika kepercayaan itu hilang, maka mengembalikannya tidak semudah memesan perlengkapan militer baru dari pabrik.

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.