Jumat, 5 Juni 2026, pukul : 18:38 WIB
Surabaya
--°C

Dolar sebagai Alat Penjajahan dan Kekacauan

Padahal jika devisa hasil ekspor itu masuk ke kas Negara, niscaya negara tidak perlu bayar hutang dengan hutang baru dan puluhan ribu triliun itu jika sudah masuk ke Negara, niscaya dolar pun akan segera turun.

Oleh: Muslim Arbi

KEMPALAN: Dolar. Ya mata uang dolar. Mata uang Paman Sam itu saat ini seolah makin menjadi momok yang menakutkan.

Emang benar juga sih. Saat pada tahun 1998. Indonesia di bawah kepemimpian Presiden Soeharto dan ekonomi tinggal landas dengan sejumlah prestasi mulai dari Swasembada Pangan hingga dapat memproduksi Pesawat Sendiri CN235.

Dan posisi Dolar waktu itu Rp 2.800 per Dolar. Tak ada angin. Tak ada hujan tiba-tiba terjun bebas sampai mencapai angka Rp 17.000 per dolar.

Saat itu menjadi malapetaka Politik. Saat Rupiah terjun bebas. Akibatnya terjadi kekacauan ekonomi, politik dan keamanan sehingga jatuh pemerintah Soeharto saat itu.

Dengan kejadian itu saat ini tampaknya ada desain yang mau mencoba bermain dengan menggunakan dolar sebagai senjata ekonomi, politik dan keresahan sosial untuk berusaha menumbangkan rezim saat ini.

Prabowo Subianto baru menjabat belum mencapai 2 tahun pemerintahan. Banyak gebrakan yang dirasakan untuk berpihak pada kepentingan Rakyat.

BACA JUGA  Moral – Spiritual Negara dan "Halu" Era Keemasan

Membereskan carut-marut 10 tahun pemerintahan Joko Widodo yang banyak dikendalikan oleh pemilik modal dan Oligarki ekonomi dan Politik. Prabowo menebas dan menerabas banyak kejahatan yang terpendam pada saat Jokowi berkuasa. Tampaknya ini memang tidak mudah.

Ketika kekuatan pemilik modal itu masih saja menggunakan senjata dolar sebagai alat tekan terhadap kebijakan rezim saat ini.

Pemberlakuan pasal 33 UUD supaya ekspor satu pintu agar kebocoran puluhan ribu triliun yang selama ini akibat carut-marut tata kelola Ekspor dapat masuk ke negara dikritik sejumlah pihak.

Padahal jika devisa hasil ekspor itu masuk ke kas Negara, niscaya negara tidak perlu bayar hutang dengan hutang baru dan puluhan ribu triliun itu jika sudah masuk ke Negara, niscaya dolar pun akan segera turun.

Hal ini penting untuk memantau lalu-lintas devisa dari para ekportir selama ini. Sehingga, negara dapat mengontrol dengan tepat jika dana hasil ekspor dalam bentuk dolar tidak masuk ke kas negara.

Selain itu pergerakan dolar yang semakin menguat dan melemahkan posisi rupiah semata karena faktor ekonomi atau faktor lain?

Mengapa di saat Soeharto memimpin, pertumbuhan ekonomi tinggi dan rupiah kuat sampai pada kurs Rp 2.800 per dolar dan kemudian terjun bebas ke angka Rp 17.000 per dolar. Apakah itu semata karena tekanan ekonomi atau ada tekanan politik dengan dolar sebagai senjata?

BACA JUGA  Heboh, Beredar Isu Ada Menteri Yang Akan Ditangkap

Faktor – faktor pelemahan rupiah yang begini cepat dan di sertai dengan isu-isu yang sengaja di produksi bulan Juni – Juli bahkan agustus akan ada kerusuhan?

Tidakkah ini sebagai desain situasi untuk menimbulkan kegaduhan dan kekacauan negara dengan dolar sebagai senjata pemicunya?

Solusi saat ini adalah segera mengganti Gubernur Bank Indonesia. Memperkuat fundamental ekonomi, mengontrol lalu-lintas devisa dari hasil Eskpor satu pintu, penegakkan hukum yang tegas, bila perlu trik Presiden BJ Habibie menekan dolar dari Rp 17.000 menjadi Rp Rp 6.800 patut diterapkan kembali.

Terlepas dari itu semua. Mengapa harus mengelandalkan dolar. Kita bukan negara bagian paman sam. Kita negara berdaulat. Bagaimana bikin rupiah terus berdaulat dan kuat. Kedaukatan negara tegak termasuk dalam mata uang rupiah.

*) Muslim Arbi, Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.