Jauh panggang dari api kata peribahasa bila safari Jokowi ke Lampung akan dapat menggoyang pemilih PDIP. Safari politik Jokowi hanya gimmick politik yang belum tentu menjadi suara bagi PSI.
Oleh: Tarmidzi Yusuf Kolumnis
KEMPALAN: Presiden RI ke-7, Joko Widodo berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya. Misalnya saja Soeharto. Pasca lengser sebagai Presiden ke-2, Bapak Pembangunan Soeharto sama sekali tidak merecoki Presiden BJ. Habibie.
Demikian pula dengan BJ Habibie. Bapak Teknologi Indonesia itu istirahat total dari politik. Tidak ikut cawe-cawe apalagi merecoki Presiden RI ke-4, Gus Dur (Abdurrahman Wahid).
Hal yang sama dilakukan oleh Gus Dur. Meski Gus Dur ‘dijatuhkan’ di tengah jalan karena skandal Buloggate dan Bruneigate. Gus Dur sama sekali tidak mengganggu Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri.
Walaupun sempat bersaing di Pilpres langsung pertama Indonesia tahun 2004 dan kalah dari Susilo Bambang Yudhoyona, Megawati Soekarnoputri tidak cawe-cawe selama SBY berkuasa meski hubungan antara SBY dan MSP sempat panas.
Demikian pula dengan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Pasca pensiun jadi Presiden, SBY mengikuti jejak Megawati Soekarnoputri jadi ketua umum partai, yaitu Ketua Umum Partai Demokrat sebelum dijabat oleh putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono.
SBY dan MSP sama-sama menjabat ketua umum partai politik. Akan tetapi kedua tokoh bangsa itu tidak merecoki 10 tahun Jokowi berkuasa. Malahan Megawati Soekarnoputri dikhianati oleh Jokowi sebagai kader PDIP yang sempat menjadi petugas partai.
Jokowi dan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka dipecat dari PDIP. Jokowi akhirnya bergabung bersama PSI yang diketuai putra bungsunya sendiri, Kaesang Pangarep.
Jokowi berusaha untuk eksis dengan cawe-cawe-nya. Lima puluh persen lebih kabinet Prabowo – Gibran diisi loyalis Jokowi. Bahkan Kapolri dan Panglima TNI hingga hari ini tak tergantikan.
Jokowi pula ngotot Prabowo – Gibran lanjut dua periode. Padahal rezim Prabowo – Gibran belum tentu sampai 2029. Banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi sebelum 2029.
Kengototan Jokowi itu kontras dengan mantan presiden Indonesia sebelumnya seperti diuraikan di atas. Baru-baru ini, Jokowi melakukan safari politik di Lampung yang ditolak oleh beberapa aktivis Lampung.
Ambisi Jokowi untuk mendongkrak suara PSI di Lampung agak jauh dari peta dukungan masyarakat Lampung. Berdasarkan hasil pemilihan umum tahun 2024 tak satu kursipun PSI memperoleh kursi di kabupaten yang dikunjungi Jokowi di Lampung.
PSI pada Pemilu 2024 hanya meraup 60.870 suara di Provinsi Lampung. Tertinggal jauh dari PDIP yang menempati posisi kedua dengan perolehan 787.468 suara atau mengoleksi 13 kursi DPRD Provinsi Lampung.
Jauh panggang dari api kata peribahasa bila safari Jokowi ke Lampung akan dapat menggoyang pemilih PDIP. Safari politik Jokowi hanya gimmick politik yang belum tentu menjadi suara bagi PSI.
Nafsu kuasa Jokowi untuk terus berkuasa melalui Gibran dan PSI masih membara. Bertolak belakang dengan pernyataan Jokowi sebelumnya. Ia sempat menyatakan akan beristirahat serta menghabiskan waktu bersama cucunya setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.
Tetapi, Jokowi yang kerab tidak bisa dipegang omongannya itu, kini mulai kembali aktif melakukan safari politik dan blusukan ke berbagai daerah untuk menghadiri undangan relawan dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
*) Tarmidzi Yusuf, Kolumnis
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi