Sabtu, 4 Juli 2026, pukul : 08:36 WIB
Surabaya
--°C

REVOLUSI DIGITAL PJOK Menembus Batas Kelas: Buku AR UNESA Ubah Gaya Belajar Kesehatan Anak SD di Surabaya


SURABAYA-KEMPALAN: Pendidikan jasmani di sekolah dasar kini tidak lagi sekadar urusan aktivitas fisik di lapangan. Melalui inovasi mutakhir, tim dosen Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sukses mengintegrasikan teknologi Augmented Reality (AR) ke dalam ruang kelas. Inovasi ini dihadirkan untuk merevolusi metode pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).
Sebanyak 39 guru PJOK SD se-Kota Surabaya berkumpul di Auditorium Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNESA untuk mengikuti program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Agenda utamanya adalah peluncuran dan pelatihan “Buku Interaktif Penyakit Infeksi dan Non-Infeksi Berbasis Augmented Reality” atau yang disingkat BIPINIBAR.
Tim akademisi yang menginisiasi gerakan ini diketuai oleh Dr. Junaidi Budi Prihantono, S.KM., M.KM., Ph.D. Ia beranggotakan para pakar lintas disiplin: Dwi Lorry Juniarisca, S.Pd., M.Ed., Arifah Kaharina, S.Pd., M.Kes., Aby Nugrah Septanto, S.Kep., Ns., M.Sc., dan Dr. Novadri Ayubi, S.Or., M.Kes.


Menghidupkan Visual Tiga Dimensi di Layar Gawai


BIPINIBAR mendobrak keterbatasan buku teks konvensional yang cenderung monoton. Melalui fitur AR, visual abstrak mengenai dunia medis dan kesehatan diubah menjadi objek tiga dimensi (3D) yang interaktif.
Saat guru atau siswa memindai halaman buku menggunakan gawai, layar akan langsung menampilkan animasi nyata. Animasi tersebut menyajikan proses penyebaran virus, mekanisme penularan penyakit, hingga struktur pencegahannya secara presisi. Tidak hanya itu, buku digital ini dilengkapi dengan modul kuis interaktif untuk menguji pemahaman siswa secara langsung.
“Kami ingin meruntuhkan stigma bahwa belajar teori kesehatan itu membosankan. BIPINIBAR didesain sebagai jembatan teknologi untuk menstimulus motorik visual anak. Kami berharap buku ini mendukung para guru memproyeksikan materi secara interaktif, efektif, dan menyenangkan,” ujar Dr. Junaidi Budi Prihantono dalam pemaparannya.

BACA JUGA  Eksklusif Menuju Satu Abad Persebaya


Dampak Sosial: Memutus Rantai Penyakit Lewat Literasi Dini


Di balik kecanggihan teknologinya, implementasi AR dalam buku ini membawa misi sosial yang masif bagi masyarakat urban. Dengan menyederhanakan konsep medis yang rumit menjadi tayangan yang ramah anak, edukasi ini membangun benteng pertahanan kesehatan masyarakat sejak dini.
Anak-anak tidak sekadar menghafal materi untuk ujian. Mereka diajak memahami dampak nyata dari pola hidup tidak sehat serta cara penularan penyakit di sekitar mereka. Kesadaran kritis yang tumbuh sejak bangku sekolah dasar ini diharapkan mampu menekan angka penyebaran penyakit infeksi di lingkungan keluarga dan masyarakat Surabaya. Imbas jangka panjangnya adalah penurunan beban fasilitas kesehatan publik melalui tindakan preventif yang diajarkan di sekolah.


Respons Positif dari Jantung Gubeng

BACA JUGA  SD LABSCHOOL UNESA SURABAYA KUASAI GOR SENAM NUSANTARA


Inovasi ini disambut antusias oleh para praktisi pendidikan di lapangan yang langsung melakukan uji coba perangkat. Nanda seorang guru PJOK yang sehari-hari mengajar di kawasan padat penduduk Gubeng 35 , Surabaya, memberikan catatan penting terkait dampak nyata teknologi ini di kelas.
“Tantangan terbesar mengajar teori kesehatan di kawasan urban seperti Gubeng adalah mengalihkan perhatian anak dari gawai mereka ke materi pelajaran. Buku AR dari UNESA ini adalah jawaban yang sangat cerdas. Teknologi ini tidak menjauhkan anak dari ponsel, melainkan mengarahkan gawai menjadi alat belajar yang sangat keren.Visualisasi virus secara 3D membuat anak-anak sadar secara visual mengapa mereka harus mencuci tangan. Ini bukan sekadar media ajar, tetapi alat edukasi yang mengubah perilaku hidup sehat anak-anak kami di permukiman,” ungkap Nanda dengan optimistis.
Komitmen Keberlanjutan Digital
Program PKM ini menjadi langkah konkret UNESA dalam mendorong digitalisasi pendidikan dasar yang kontekstual dan adaptif. Ke depan, dengan dukungan kuat dari para guru dan pemangku kebijakan, tim dosen UNESA berkomitmen untuk memperluas cakupan implementasi BIPINIBAR. Langkah ini diharapkan dapat menyelaraskan kurikulum nasional dengan perkembangan teknologi global, sekaligus mencetak generasi emas yang melek literasi kesehatan digital.
(Ambari Taufiq / M. Fasichullisan)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.