Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini yaitu untuk menjaga dan memulihkan lingkungan adalah bentuk bakti tulus kita kepada ibu pertiwi, sekaligus investasi terbaik bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk di muka bumi.
Oleh: Hamid Nabhan
KEMPALAN: Setiap tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sebuah momen global yang pada tahun 2026 ini mengusung semangat menginspirasi dari alam demi iklim dan masa depan kita bersama.
Peringatan ini sejatinya bukan sekadar seremonial, melainkan adalah panggilan mendalam bagi seluruh umat manusia untuk merenungkan kembali kedudukan kita di tengah alam semesta serta menyadari bahwa lingkungan hidup bukanlah sekadar latar tempat kita berpijak.
Tapi juga fondasi mutlak yang menopang setiap denyut kehidupan, kesejahteraan sosial, dan kesehatan fisik serta mental manusia.
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Mahatma Gandhi, bahwa bumi sebenarnya telah menyediakan cukup sumber daya untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia, tapi tidak akan pernah cukup untuk memuaskan keserakahan segelintir orang.
Sebuah pesan abadi yang mengingatkan kita, alam sesungguhnya berkecukupan bagi kita semua, asalkan kita tidak dikuasai oleh keinginan berlebihan yang hanya menguntungkan sebagian pihak saja.
Lingkungan hidup merupakan sistem kehidupan yang sangat kompleks dan juga sempurna, di mana setiap unsur saling berkaitan dan menopang satu sama lain.
Hutan yang rimbun berfungsi sebagai paru-paru bumi yang menyediakan oksigen, sungai dan danau menjadi sumber air bersih yang menghidupi jutaan makhluk, tanah yang subur menjadi tempat tumbuhnya pangan, dan udara yang bersih menjadi syarat utama kelangsungan napas kita.
Berdasarkan pandangan Fauna & Flora International, manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan sehingga apa pun yang menimpa alam pasti akan berbalik berdampak pada kehidupan manusia itu sendiri.
Keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya bukan hanya kekayaan semata, melainkan jaring pengaman kehidupan yang menjernihkan udara, menyaring air, menyuburkan tanah, menyerap karbon, dan menjaga kestabilan iklim, di mana hilangnya satu spesies saja dapat mengganggu keseimbangan seluruh sistem yang ada.
Lebih dari separuh aktivitas ekonomi global bergantung langsung pada kelestarian alam, miliaran manusia menggantungkan hidupnya pada hasil hutan dan sumber daya alam lainnya, menjadikan alam sebagai tulang punggung peradaban manusia sejak awal sejarah.
Peran lingkungan bagi kesehatan manusia sangatlah fundamental sebagaimana ditegaskan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, bahwa lingkungan yang sehat adalah prasyarat utama kesehatan manusia yang optimal.
Data menunjukkan bahwa hampir seperempat dari seluruh beban penyakit di dunia ini berkaitan dengan kondisi lingkungan, dan kerusakan alam menjadi penyebab utama dari jutaan kematian dini setiap tahunnya akibat polusi udara, air yang tercemar, dan perubahan iklim.
Alam bukan hanya menjaga kesehatan fisik dengan menyediakan sumber obat-obatan alami, di mana sebagian besar obat modern dan tradisional berasal dari tumbuhan, namun juga berfungsi sebagai terapi mental yang ampuh; berada di lingkungan yang asri terbukti mampu menurunkan tingkat stres, kecemasan, dan depresi, serta meningkatkan kualitas fungsi otak dan kestabilan emosi manusia.
Ruang terbuka hijau dan ekosistem yang utuh juga berperan sebagai benteng pertahanan alami yang melindungi kita dari berbagai ancaman bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga dampak dahsyat badai yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Namun realitas yang kita hadapi saat ini sangatlah memprihatinkan. Bumi telah mengirimkan berbagai sinyal bahaya yang nyata dan semakin jelas, mulai dari naiknya permukaan air laut, pencairan gletser, kebakaran hutan yang meluas, hingga gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah dunia.
Para ilmuwan dalam laporan kesenjangan emisi memperingatkan bahwa suhu bumi kemungkinan besar akan melampaui batas kritis satu setengah derajat Celcius dalam kurun waktu satu dekade ke depan jika tidak ada perubahan mendasar yang dilakukan saat ini.
Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini diperparah oleh pola pembangunan yang kurang memperhatikan prinsip keberlanjutan, padahal menurut lembaga proyek pembangunan PBB, infrastruktur memiliki pengaruh terhadap lebih dari sembilan puluh persen target pembangunan berkelanjutan.
Ketika perencanaan pembangunan dilakukan tanpa mempertimbangkan utuk kelestarian alam, hal ini justru menjadi salah satu penyebab utama hancurnya habitat alami, terpecahnya ekosistem, meningkatnya tingkat polusi, dan juga menyumbang sebagian besar emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global.
Dampak dari kerusakan ini tidak lagi menjadi ancaman di masa depan, melainkan sudah kita rasakan secara nyata saat ini juga.
Ekosistem yang rusak menyebabkan hilangnya sumber daya alam yang menjadi penopang hidup, membuat air bersih semakin langka, tanah semakin kehilangan kesuburannya, dan hasil tangkapan laut semakin menurun yang memicu krisis pangan.
Perubahan iklim yang terjadi mengubah pola penyebaran penyakit menular, juga meningkatkan risiko kekurangan gizi, dan memicu kematian akibat suhu ekstrem, dengan proyeksi ratusan ribu kematian tambahan setiap tahun dalam beberapa dekade mendatang akibat dampak lingkungan ini.
Ketidakseimbangan alam juga berpotensi memicu konflik sosial akibat persaingan memperebutkan sumber daya yang semakin terbatas serta menurunkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Kendati demikian, harapan belum sepenuhnya hilang dan masih terbuka lebar selama kita mau bertindak sekarang. Solusi yang paling mendasar terletak pada perubahan cara pandang dan pola pembangunan yang kita terapkan.
Kita harus berani beralih menuju pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, tangguh, dan inklusif, di mana kemajuan ekonomi tidak lagi berjalan berlawanan dengan kelestarian alam, melainkan saling mendukung satu sama lain.
Perencanaan yang tepat mampu menciptakan sistem yang melindungi ekosistem, menekan emisi karbon, dan memberi layanan dasar yang sehat bagi masyarakat tanpa merusak lingkungan sekitarnya.
Pendekatan yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menjadi satu kesatuan utuh juga perlu diterapkan, mengingat kesehatan kita sangat bergantung pada kesehatan alam di sekitar kita.
Tanggung jawab menjaga lingkungan ini bukan hanya beban bagi pemerintah atau kalangan aktivis semata, melainkan kewajiban moral untuk setiap individu yang menghuni bumi ini.
Langkah sederhana seperti dengan mengurangi penggunaan plastik, menghemat pemakaian air dan energi, membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, hingga mendukung kebijakan dan produk yang ramah lingkungan adalah bentuk nyata kontribusi kita dalam menjaga keseimbangan alam.
Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa merusak lingkungan itu sama artinya dengan merusak rumah tempat kita tinggal dan perlahan menghancurkan masa depan generasi penerus.
Melestarikan alam bukanlah berarti menghambat kemajuan, melainkan untuk memastikan bahwa kemajuan tersebut dapat dinikmati secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kelayakan hidup di masa mendatang.
Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, mari kita renungkan kembali pesan mendalam bahwa alam sejatinya tidak membutuhkan manusia untuk terus bertahan hidup, tapi manusialah yang sangat bergantung pada alam untuk tetap mampu bernapas dan melanjutkan kehidupan.
Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, jagalah bumi karena bumi itu adalah ibumu.
Pesan mulia ini mengingatkan kita bahwa seperti halnya seorang ibu yang selalu senantiasa menyayangi, memelihara, dan juga memberi kehidupan kepada anak-anaknya, demikian pula bumi merawat dan menghidupi kita semua.
Maka, menyakiti dan merusak bumi sama artinya dengan menyakiti dan durhaka kepada ibu yang telah melahirkan dan memelihara kita sejak awal.
Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini yaitu untuk menjaga dan memulihkan lingkungan adalah bentuk bakti tulus kita kepada ibu pertiwi, sekaligus investasi terbaik bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk di muka bumi.
Menjaga agar bumi tetap menjadi tempat yang layak, sehat, dan indah untuk ditinggali oleh kita semua dan generasi yang akan datang.
*) Hamid Nabhan, Seniman dan Budayawan
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi