Dari fondasi itulah bangsa bisa menapaki abad kedua dengan lebih berilmu dan beradab, tertib hukum dan politik, adil dan makmur, serta bisa lebih percaya diri menatap dunia.
Oleh: Yudi Latif
KEMPALAN: Saudaraku, di hampir semua peradaban besar, pertanyaan tentang negara tidak dimulai dari hukum, ekonomi, atau militer, melainkan dari jati diri manusia: bagaimana jiwa warga dibentuk, kebijaksanaan dipupuk, dan moral-spiritual kolektif membentuk wajah peradaban.
Di titik ini, pemikiran Plato, Confucius, Ibn Khaldun, dan Leo Tolstoy bertemu. Mereka sama-sama melihat bahwa kerusakan negara bermula dari kerusakan moral; bahwa politik tanpa spiritualitas akan berubah menjadi mesin dominasi.
Dalam The Republic, Plato memandang negara sebagai cermin jiwa manusia. Politik harus dipimpin kebijaksanaan, bukan nafsu kekuasaan. Negara yang baik bukan hanya menciptakan ketertiban, tetapi membentuk manusia yang mampu membedakan kebaikan dari sekadar kepentingan sesaat.
Pandangan ini dekat dengan The Analects dari Confucius. Baginya, suatu negara itu dapat bertahan bukan oleh hukuman keras, melainkan oleh teladan moral si pemimpinnya. Kekuasaan yang kehilangan kebajikan mungkin tetap kuat, tetapi kehilangan legitimasi spiritualnya.
Sementara itu, Ibn Khaldun dalam Muqaddimah melihat bahwa peradaban lahir dari solidaritas sosial (asabiyyah): rasa keterikatan moral yang membuat manusia mau berkorban demi komunitasnya.
Pada awalnya, sebuah bangsa kuat karena sederhana, keras, dan memiliki tujuan bersama. Tetapi ketika kekuasaan berubah menjadi kemewahan, elit mulai hidup berlebihan, kehilangan disiplin spiritual, dan menjadikan negara alat kenikmatan pribadi. Saat itu, peradaban mulai membusuk dari dalam.
Secara lebih radikal lagi, Leo Tolstoy melalui The Kingdom of God Is Within You mengkritik negara modern yang sering berdiri di atas kekerasan dan pemaksaan. Bagi Tolstoy, politik harus tunduk pada hati nurani, cinta kasih, dan kemanusiaan.
Walhasil, negara yang sehat tidak hanya membutuhkan sistem, tetapi juga jiwa. Politik tanpa moralitas akan kehilangan arah, dan peradaban tanpa spiritualitas akan rapuh dari dalam.
Ukuran keagungan sebuah negara bukan seberapa besar kekuasaannya, tetapi kualitas manusia yang dilahirkannya.
Sejarah tidak memuliakan siapa yang paling berkuasa, melainkan yang paling menjaga nilai dan harkat kemanusiaan dalam bernegara.
“Halu” Era Keemasan
Saudaraku, visi resmi pembangunan Indonesia sering latah membayangkan usia seratus tahun kemerdekaan bangsa sebagai era keemasan dengan hadirnya “generasi emas”.
Namun bayangan itu terkesan “halu”. Dengan menimbang realitas fundamental, kualitas dan pencapaian saat ini, kita patut bersyukur bila dalam usia satu abad Indonesia masih bertahan utuh.
Di negeri dengan ribuan pulau, ratusan bahasa, keyakinan, dan ingatan sejarah yang retak, keberlangsungan itu sendiri merupakan pencapaian besar.
Banyak bangsa runtuh sebelum matang, sedangkan Indonesia – dengan segala gaduh dan cacatnya – masih berdiri. Itu menunjukkan daya lenting sejarah yang kuat.
Tak ada alasan untuk kecil hati. Amerika Serikat pun tidak menjadi adidaya dalam abad pertamanya. Mereka melewati perang saudara, segregasi, dan konflik politik sebelum akhirnya membangun institusi, menguasai ilmu pengetahuan, dan dapat menjadi negara adidaya pada abad kedua.
Tapi sejarah tidak menunggu bangsa yang cepat berpuas diri. China menunjukkan pola baru: melalui disiplin, penguasaan teknologi, dan pemanfaatan globalisasi, kemajuan dapat dipercepat hanya dalam beberapa dekade.
Indonesia hari ini berada di persimpangan – bukan bangsa gagal, tapi juga belum menemukan irama besar untuk melompat lebih tinggi. Kita terlalu sering mabuk slogan dan merayakan mimpi sebelum fondasinya selesai dibangun.
Jalan kemajuan harus dimulai dari pendidikan sebagai fondasi pembentukan manusia unggul, disusul pembenahan tata kelola negara agar lebih bersih dan efektif, serta pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan yang berkemakmuran dan berkeadilan.
Sebab masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas manusia, kekuatan institusi, dan kesejahteraan yang merata.
Mungkin Indonesia belum menjadi negara maju pada usia satu abad. Namun, jika abad pertama bangsa ini sanggup sintas lewati berbagai ranjau, itu sudah menjadi modal berharga.
Dari fondasi itulah bangsa bisa menapaki abad kedua dengan lebih berilmu dan beradab, tertib hukum dan politik, adil dan makmur, serta bisa lebih percaya diri menatap dunia.
Sebab, kejayaan sejati bukanlah hasil lompatan sesaat, melainkan buah dari suatu rangkaian panjang kesabaran berjuang.
*) Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi