Mereka menikmati manfaat dari gagasan yang kita tanam. Dan pada saat itulah para cendekiawan ICMI sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hidup dalam ilmu yang terus diajarkan.
Oleh: M. Isa Ansori
KEMPALAN: Refleksi Menjelang Muswil ICMI Jawa Timur, 4 Juli 2026. Ada satu kegelisahan yang terus mengemuka dalam benak saya ketika memandang perjalanan ICMI hari ini.
Kita memiliki sumber daya manusia yang luar biasa. Di dalam ICMI berhimpun profesor, akademisi, peneliti, dokter, insinyur, ekonom, birokrat, teknokrat, dan pengusaha, serta berbagai profesi lain yang telah mengabdikan hidupnya bagi ilmu pengetahuan, pembangunan, dan kemajuan bangsa.
Tidak banyak organisasi yang memiliki kekayaan intelektual sebesar ini. Namun di tengah kelimpahan itu, muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab:
Apakah sumber daya manusia dan keahlian yang begitu besar itu telah menjelma menjadi kekuatan kelembagaan yang mampu memberi warna bagi arah bangsa dan kemaslahatan umat?
Ataukah sebagian besar masih tersimpan sebagai potensi yang belum sepenuhnya terhubung menjadi karya kolektif yang hidup di tengah masyarakat?
Kegelisahan ini berangkat dari kesadaran yang sangat sederhana, yaitu: waktu pengabdian manusia terbatas. Usia memiliki batas. Kehidupan memiliki akhir.
Ketika seorang cendekiawan wafat, yang pergi bukan hanya seorang individu. Bersamanya ikut hilang pengalaman, pengetahuan, kebijaksanaan, jejaring, dan pelajaran hidup yang mungkin tak sempat diwariskan pada generasi berikutnya.
Jika ilmu dan keahlian hanya berhenti pada pemiliknya, maka ketika kehidupan berakhir, berakhir pula sebagian manfaat yang seharusnya dapat terus mengalir bagi umat dan bangsa.
Di sinilah saya melihat tantangan terbesar ICMI hari ini.
Bukan sekadar bagaimana menghimpun lebih banyak anggota, melainkan bagaimana mengubah kekayaan intelektual yang dimiliki menjadi warisan kelembagaan yang mampu hidup melampaui usia para pemiliknya.
Bagaimana pengalaman para senior dapat menjadi jalan bagi generasi penerus.
Bagaimana keahlian yang dimiliki anggota ICMI tidak hanya menjadi prestasi personal, tetapi menjadi aset peradaban.
Bagaimana pengetahuan yang terkumpul selama puluhan tahun tidak hilang bersama waktu, melainkan terus tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Kegelisahan yang Bernama Relevansi
Ada kegelisahan lain yang mungkin lebih sunyi, tetapi sesungguhnya tidak kalah penting.
Dalam berbagai kesempatan, saya bertemu generasi muda yang tidak lagi mengenal ICMI. Bahkan ada yang bertanya dengan polos: “ICMI itu masih ada?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi menyimpan makna yang mendalam. Bukan karena ICMI benar-benar tidak ada. ICMI tetap ada, dengan kepengurusan, aktivitas, dan berbagai ikhtiar yang terus berjalan.
Namun, pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan organisasi belum sepenuhnya hadir dalam kesadaran publik, terutama di mata generasi yang lahir jauh setelah masa kejayaan ICMI.
Ini bukan sekadar persoalan publikasi organisasi. Ini adalah persoalan relevansi.
Sebab masyarakat mengenal sebuah organisasi bukan karena nama besarnya, melainkan karena manfaat yang mereka rasakan. Publik mengenang institusi bukan karena banyaknya rapat yang diselenggarakan, tetapi karena karya yang hadir dalam kehidupan mereka.
Pertanyaannya menjadi penting: Dalam bentuk apa generasi hari ini berjumpa dengan ICMI?
Di mana mereka merasakan manfaat kehadiran para cendekiawan muslim yang berhimpun di dalamnya?
Jika pertanyaan “Masih adakah ICMI?” mulai sering terdengar, maka mungkin yang perlu kita lakukan bukan sekadar menjelaskan bahwa ICMI masih ada. Yang lebih penting tersebut adalah menghadirkan kembali karya-karya yang membuat masyarakat tidak perlu lagi menanyakan keberadaannya.
Karena organisasi yang hidup tidak perlu terlalu sering memperkenalkan dirinya. Masyarakat akan mengenalnya melalui manfaat yang ditinggalkannya.
Belajar dari Jejak Besar Masa Lalu
Sejarah menunjukkan bahwa ICMI pernah berhasil melakukan hal tersebut.
Di bawah kepemimpinan almarhum B.J. Habibie, ICMI tidak hanya menjadi ruang diskusi kaum intelektual. ICMI dapat hadir sebagai kekuatan sosial yang mampu menerjemahkan gagasan menjadi institusi dan karya nyata.
Kita mengenang lahirnya Bank Muamalat, berkembangnya berbagai inisiatif ekonomi umat, penguatan koperasi, hadirnya Republika, dan berbagai karya lain yang lahir dari semangat menghadirkan solusi bagi kebutuhan masyarakat.
ICMI pada masa itu tidak berhenti di ruang seminar. Ia turun ke bumi. Ia hadir di tengah kehidupan rakyat. Ia mengubah gagasan menjadi gerakan, dan gerakan menjadi institusi.
Karena itulah karya-karya itu tetap dikenang bahkan ketika para penggagasnya telah tiada.
Pelajaran terpenting dari masa itu adalah bahwa keabadian organisasi ini tidak ditentukan oleh panjangnya usia kepengurusan, melainkan oleh kemampuannya melahirkan karya yang terus hidup dan memberi manfaat lintas generasi.
Dari Organisasi Menuju Persemaian Peradaban
Menjelang Muswil ICMI Jawa Timur 2026, saya berharap diskusi kita tidak hanya berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang akan memimpin organisasi lima tahun ke depan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Warisan apa yang akan ditinggalkan ICMI lima puluh tahun ke depan? Apa yang akan dikenang generasi mendatang dari ICMI hari ini?
Apa bentuk kontribusi yang akan terus hidup meskipun kita semua sudah tidak lagi berada di dunia ini?
Bagi saya, salah satu jawabannya adalah membangun ruang persemaian ilmu, kepemimpinan, dan keahlian.
ICMI perlu mulai memikirkan pembangunan institusi yang secara sadar dirancang untuk mewariskan pengetahuan, pengalaman, inovasi, dan nilai-nilai keislaman serta keindonesiaan kepada generasi berikutnya.
Bentuknya bisa beragam. Pusat kaderisasi cendekiawan. Akademi kepemimpinan. Lembaga riset strategis. Sekolah unggulan. Pusat inovasi dan pemberdayaan masyarakat.
Atau bahkan dalam jangka panjang, sebuah universitas yang menjadi rumah besar gagasan dan karya para cendekiawan muslim Indonesia. Bukan sekadar kampus dalam pengertian fisik.
Melainkan ruang tempat dan pengalaman para senior bertemu dengan energi generasi muda. Tempat ilmu tidak berhenti pada pemiliknya. Tempat keahlian diwariskan.
Tempat gagasan diabadikan.
Dan jika suatu hari cita-cita itu dapat diwujudkan, maka ia bukan hanya proyek pendidikan.
Ia adalah bentuk penghormatan kepada para pendiri dan tokoh-tokoh besar ICMI, terutama almarhum Prof. B.J. Habibie, yang sepanjang hidupnya menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi jalan kemajuan bangsa.
Merancang Keabadian
Pada akhirnya, yang paling menggelisahkan saya bukanlah apakah ICMI memiliki cukup banyak orang hebat.
Saya percaya ICMI tidak pernah kekurangan cendekiawan. Yang menggelisahkan adalah waktu. Waktu yang terus berjalan. Usia yang terus bertambah.
Bahwa satu per satu para guru, para ulama, para profesor, para pemikir, dan para penggerak yang selama ini menjadi sumber inspirasi kita akan sampai pada ujung pengabdiannya.
Sebagaimana kita semua. Tidak ada yang abadi sebagai manusia. Yang abadi itu hanyalah jejak yang ditinggalkan.
Pertanyaan itulah yang terus saya bawa menjelang Muswil ICMI Jawa Timur 2026. Apa yang akan tersisa ketika kita semua telah tiada? Apa yang akan dikenang dari ICMI oleh anak-anak muda yang hari ini bahkan belum mengenalnya?
Apa yang akan mereka warisi dari para cendekiawan yang hari ini berkumpul di bawah panji ICMI?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan saya pada sebuah kisah dari lebih seribu tahun yang lalu.
Di Kota Fez, Maroko, seorang perempuan bernama Fatima al-Fihri mewariskan harta keluarganya bukan untuk kemegahan pribadi, bukan pula agar namanya dikenang sepanjang masa.
Ia mewakafkan tanah dan kekayaannya untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang kemudian dikenal sebagai Al-Qarawiyyin.
Lebih dari sebelas abad telah berlalu. Fatima al-Fihri telah lama meninggalkan dunia. Generasi yang hidup sezamannya telah menjadi bagian dari sejarah.
Namun lembaga yang ia dirikan masih berdiri hingga hari ini. Masih mengajar. Masih melahirkan ilmu. Masih memberi manfaat bagi manusia.
Di situlah saya menemukan pelajaran yang sangat berharga.
Bahwa manusia memiliki keterbatasan usia, tetapi gagasan bisa hidup berabad-abad.
Harta akan habis jika hanya dinikmati, tetapi dapat menjadi abadi ketika diubah menjadi institusi yang melahirkan manfaat.
Keahlian akan berhenti ketika pemiliknya wafat, tetapi akan terus hidup jika diwariskan kepada generasi berikutnya.
Barangkali itulah tantangan terbesar ICMI hari ini. Bagaimana dapat mengubah kelimpahan sumber daya manusia yang kita miliki menjadi warisan kelembagaan yang mampu hidup melampaui generasi kita.
Bagaimana mengubah kumpulan cendekiawan menjadi persemaian peradaban.
Bagaimana menjadikan ilmu para profesor, pengalaman para birokrat, kepakaran para teknokrat, dan kebijaksanaan para senior tidak berhenti pada diri mereka sendiri, melainkan tumbuh menjadi pohon besar yang menaungi generasi-generasi mendatang.
Mungkin bentuknya sekolah. Mungkin pusat kaderisasi. Mungkin lembaga riset. Mungkin pusat inovasi masyarakat.
Atau bahkan suatu hari nanti sebuah universitas yang menjadi rumah besar bagi gagasan dan karya para cendekiawan muslim Indonesia.
Karena itu, sesungguhnya manusia tidak pernah menjadi abadi karena umurnya panjang. Ia menjadi abadi karena manfaatnya tetap hidup setelah dirinya tiada.
Dan mungkin, ukuran keberhasilan terbesar ICMI kelak bukanlah berapa banyak tokoh besar yang pernah berkumpul di dalamnya.
Melainkan ketika puluhan tahun dari sekarang, generasi muda masih merasakan manfaat dari apa yang kita tanam hari ini.
Mereka mungkin saja tidak mengenal nama kita. Mereka mungkin tidak pernah melihat wajah kita. Tetapi mereka hidup dari ilmu yang kita wariskan. Mereka tumbuh melalui lembaga yang kita bangun.
Mereka menikmati manfaat dari gagasan yang kita tanam. Dan pada saat itulah para cendekiawan ICMI sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hidup dalam ilmu yang terus diajarkan.
Mereka hidup dalam karya yang terus memberi manfaat. Mereka hidup dalam peradaban yang terus bertumbuh. Karena keabadian bukanlah hidup selamanya.
Keabadian adalah ketika kebaikan tetap hidup jauh setelah usia kita berakhir. Maka Muswil ini semestinya tak hanya menjadi ruang memilih pemimpin baru.
Muswil ini harus menjadi ruang untuk membayangkan warisan baru. Warisan yang membuat ICMI kembali hadir dalam kehidupan rakyat.
Warisan yang membuat generasi mendatang mengenal ICMI bukan karena sejarahnya, tetapi karena manfaatnya.
Warisan yang membuat ilmu para cendekiawan tidak berhenti pada pemiliknya, melainkan mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena pada akhirnya, jangan biarkan para cendekiawan ICMI hanya dikenang karena pernah berkumpul.
Jadikan mereka abadi karena ilmu, karya, dan manfaatnya terus hidup dalam kehidupan bangsa.
*) M. Isa Ansori, Wakil Ketua ICMI Jatim
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi