Kami mungkin tak mau hidup keluar dari zona nyaman meski kami tak punya lagi harga diri dan martabat sebagai manusia. Kami masih dibelenggu keinginan harta dan jabatan serta kesenangan hidup lainnya.
Oleh: Yusuf Blegur
KEMPALAN: Perubahan mungkin sulit diwujudkan, karena rezim telah memiliki segalanya. Uang dan jabatan serta pengikut yang sangat loyal membuat pemilik kewenangan dan otoritas bernegara itu terlihat kokoh.
Namun, saat pemangku kepentingan publik kerapkali melampaui batas, ada satu yang tak dimiliki, yakni kekuasaan Tuhan yang sesungguhnya
Negeri kami memang terasa menyakitkan. Bahkan lebih dari sekadar tragedi. Ke-Tuhanan dan kemanusiaan tak berlaku lagi dalam kehidupan bernegara. Hanya ada nafsu kekuasaan yang berlebihan.
Pemimpin tidak lagi menjadi yang semestinya. Alih-alih menjadi teladan, para pemangku kepentingan publik, justru kental dengan keserakahan dan kerakusan.
Bukannya menjadi aparat yang melayani, mengayomi, dan melindungi rakyat. Pemerintah justru terus mengakali, menjadikan musuh, dan menindas rakyat sesukanya.
Kekuasaan telah menjadi tujuan, selanjutnya menikmati jabatan, kekayaan dan fasilitas lainnya yang diperoleh dari keringat rakyat. Negara menjadi mainan segelintir orang dan kelompok tertentu mengatasnamakan undang-undang. Pejabat dan pengusaha hitam bersekongkol memanfaatkan kewenangan dan otoritas demi syahwat duniawi.
Manipulasi konstitusi dan demokrasi menjadi cara paling efektif dan efisien. Banyak orang dan institusi bisa dibeli dan menjadi budak kekuasaan. Kelembagaan trias politika telah menjadi sumber dari segala sumber masalah kebangsaan. Partai politik, DPR-MPR-DPD RI, TNI-POLRI, Kejaksaan Agung, MA, KPU dan KPK serta pelbagai lembaga pemerintahan lainnya telah benar-benar menjadi alat kekuasaan bukan sebagai alat negara.
Rakyat terus menjadi sapi perahan. Pemerintahan tak ubahnya menjadi struktur dan sistem neo kolonialisme dan imperialisme berwajah lokal.
Orang-orang di dalamnya identik dengan sifat dan watak hipokrit, psikopat, dan sarat kebiadaban. Hanya ada prinsip dan rumus yang berlaku, meraih kekuasaan dengan cara apapun dan melanggengkan kekuasaan berapapun ongkos sosial ekonomi dan sosial politik yang digelontorkan.
Tak boleh ada kesadaran nilai-nilai. Rakyat dipaksa hidup dalam kemiskinan dan kebodohan struktural. Tanpa nasionalisme dan patriotisme. Begitu juga dengan agama, hanya cukup sebagai ibadah ritual saja, bukan gerakan amar maruf nahi munkar.
Sementara elit kekuasaan mengidap budaya korup, Gandrung pada materialisme, gaya hidup dekaden, LGBT, dan juga menjadi monster jahat peradaban manusia. Semua dipertontonkan telanjang, menjadi permisif dan ditularkan massal secara terstruktur, sistematis, dan masif.
Rakyat harus berjibaku bertahan hidup menghadapi kenaikan BBM yang diikuti dengan harga sembako yang melonjak drastis, seiring PHK massal dan daya beli masyarakat yang semakin lemah.
Rakyat juga terus terdesak akibat utang negara yang semakin menumpuk dan harus menanggung pajak yang mencekik. Dalam ironi itu kekayaan pejabat dan pemilik modal besar semakin melonjak seirama dengan korupsi yang telah menjadi wabah pandemi.
Bagi siapapun yang kritis dan peduli pada distorsi penyelenggaraan negara hanya ada pilihan intimidasi dan teror atau penjara dan bahkan pembunuhan.
Upaya pembungkaman terhadap suara dan tuntutan keadilan, dianggap sebagai serangga kecil yang mengganggu dan harus dimusnahkan. Rezim tiran yang korup dan represif hanya bisa menampung para pengkhianat dan penjilat kekuasaan.
Bagi pemerintahan kapitalis yang atheis, sistem sekuler dan liberal merupakan syarat mutlak menguasai negara dan hajat hidup banyak orang di dalamnya.
Tuhan, sebagai rakyat, kami tidak sanggup lagi dalam menghadapi penderitaan hidup karena kejahatan yang difasilitasi dan dilakukan oleh penyelenggara negara.
Kami tak sanggup lagi teraniaya dan tersiksa oleh kekerasan yang menumpahkan darah dan kematian. Kami juga lelah, dengan segala manipulasi dan kamuflase kebijakan atas nama negara.
Rasanya, tidak sanggup lagi kami menghadapi bangsa kami sendiri yang berlaku lebih kejam dari bangsa asing. Kami merasa kembali kepada zaman yang bukan hanya pada era kolonialisme dan imperialisme lama.
Lebih dari itu kami terasa seperti berada pada jaman jahiliyah, di mana Angkara murka begitu dominan, dan manusia tak lagi ada harganya.
Tuhan, kami mungkin tidak punya lagi keberanian menegakkan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Kami terlalu takut mengambil resiko dan konsekuensi melakukan perubahan.
Kami mungkin tak mau hidup keluar dari zona nyaman meski kami tak punya lagi harga diri dan martabat sebagai manusia. Kami masih dibelenggu keinginan harta dan jabatan serta kesenangan hidup lainnya.
Terlalu banyak kawan kami yang memihak dan beindung pada penguasa sesat. Terlalu banyak saudara kami yang ketakutan berjuang. Revolusi bisa jadi telah mati suri. Jiwa kami juga mungkin telah lama terhempas dan putus asa.
Hanya satu harapan kami kepadaMu Sang Pencipta dan Penguasa Semesta yang sesungguhnya. ‘Atur saja Tuhan, kami ikut’.
KepadaMu kami serahkan seluruh jiwa dan raga, kepadamu kami pasrahkan hidup.
*) Yusuf Blegur, Kolumnis dan Mantan Presidium GMNI
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi