Minggu, 21 Juni 2026, pukul : 20:12 WIB
Surabaya
--°C

Eddy Tansil

Banyaknya orang penting yang terseret dalam kasus Eddy Tansil, membuat para wartawan tidak leluasa mengakses informasi. Padahal, publik menuntut redaksi agar setiap hari bisa memberitakan informasi baru yang lebih maju.

Oleh: Joko Intarto

KEMPALAN: Setelah tenggelam empat dekade, nama Eddy Tansil tiba-tiba muncul lagi. Hal itu terjadi setelah Kejaksaan Agung menyerahkan aset-aset bekas milik Eddy Tansil yang telah disita kepada Kementerian Keuangan, baru-baru ini.

Bagi Anda yang usianya belum genap 50 tahun, nama Eddy Tansil mungkin bikin bingung. Siapa dia? Seheboh apa dulu kasusnya?

Sepanjang menjadi wartawan, pengalaman investigasi kasus Eddy Tansil menurut saya paling menantang.

​Siapa yang tidak tahu nama Eddy Tansil? Sosok yang tercatat dalam sejarah kelam perbankan Indonesia sebagai salah satu koruptor paling licik.

Melalui perusahaannya, Golden Key Group (GKG), Eddy berhasil membobol uang negara lewat fasilitas kredit Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo).

​Modusnya sangat rapi. Ia mengajukan pinjaman senilai Rp 1,3 triliun dengan alasan untuk membangun pabrik petrokimia raksasa bernama PT Hamparan Rejeki, yang merupakan anak usaha dari holding miliknya, PT Golden. Namun, pabrik tersebut ternyata hanya “akal-akalan” atau proyek fiktif di atas kertas.

Bukannya jadi fasilitas industri, uang pinjaman bernilai fantastis tersebut justru mengalir deras langsung ke kantong pribadinya. Angka korupsi Rp 1,3 triliun saat itu merupakan angka terbesar. Apalagi nilai tukar 1 dolar AS saat itu masih Rp 2.180.

BACA JUGA  Kita dan Indonesia

​Kasus megaskandal ini mulai terendus oleh wartawan di Kejaksaan Agung pada akhir tahun 1993 atau awal 1994, tepat ketika Direktur Utama Bapindo, Towil Heryoto, resmi ditahan.

Saya baru hendak meninggalkan kompleks Kejaksaan Agung di Blok M menuju kantor Jawa Pos di Jalan Prapanca Raya, Jakarta Selatan, ketika mobil tahanan masuk. “Ada tersangka kakap ditangkap. Dirut Bapindo,” bisik sumber dari orang dalam.

Saya telepon operator Starko untuk mengirim pesan ke redaktur pelaksana di Jakarta dan Surabaya.

“Saya akan kirim berita jelang deadline malam ini, karena sedang meliput penahanan Dirut Bapindo Towil Heryoto di Kejagung,” kata saya.

“Tulis untuk headline,” jawab Dahlan Iskan, pemimpin redaksi Jawa Pos di Surabaya.

Penahanan Towil langsung memicu efek domino yang membongkar seluruh borok proyek fiktif tersebut. Ternyata ada tiga bank pelat merah lainnya (semuanya sudah dilikuidasi).

Ternyata banyak pejabat tinggi yang ikut terseret dalam kasus ini, karena telah menerbitkan surat sakti alias katebece untuk memuluskan aksi Eddy Tansil dalam mengajukan kredit fiktif ke bank itu.

Banyaknya orang penting yang terseret dalam kasus Eddy Tansil, membuat para wartawan tidak leluasa mengakses informasi. Padahal, publik menuntut redaksi agar setiap hari bisa memberitakan informasi baru yang lebih maju.

BACA JUGA  Autopsi MoU AS – Iran: Mengaku Menang

Dalam kondisi sulit itulah, saya mendapat durian runtuh. Ada “orang baik” yang memberikan bocoran hasil pemeriksaan para tersangka maupun saksi.

Bahkan saya “dipinjami” kumpulan BAP yang totalnya mencapai 6.000 halaman lebih, jauh sebelum masa persidangan.

Kalau ditumpuk tinggi dokumen itu lebih dari setengah meter. Coba saja susun kertas rim-riman. Satu rim berisi 500 lembar. Enam ribu lembar berarti 12 rim.

Dengan BAP inilah, saya bisa merekonstruksi kasus dan menempatkan peran para pejabat penting, baik sebagai tersangka maupun saksi, secara akurat.

Yang tidak saya duga, berita saya di Jawa Pos ternyata menjadi perhatian banyak pejabat, termasuk Presiden Soeharto.

Singkat cerita, Eddy Tansil akhirnya diseret ke meja hijau. Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat akhirnya menjatuhkan vonis 20 tahun penjara dan denda Rp 30 juta.

Namun, drama belum selesai. Pada 4 Mei 1996, Eddy Tansil mengejutkan publik karena berhasil kabur dari Lapas Cipinang dan belum tertangkap hingga hari ini.

Dibanding Jusuf Randy, Harun Masiku atau Matutina, drama kaburnya Eddy Tansil tetap juara.

*) Joko Intarto, Penulis Buku

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.