Tapi, ingatlah bahwa revolusi pikiran dan revolusi mental yang melimpah tanpa berkah hanyalah beban yang bikin lelah. Karenanya, saat datang ke rumah orang, jangan melihat seluas apa rumahnya.
Oleh: Yudhie Haryono
KEMPALAN: Sadar maupun tidak, kita telah lama menikmati sistem ekopol kasino – di mana aturan mainnya dirancang untuk menguntungkan bandar, konglomerat, oligarki, peng-peng dan orang serakah, bukan menguntungkan rakyat banyak.
Begitu lamanya tradisi sistem itu bekerja, kita sampai lupa dan tak percaya bahwa “sistem” itulah pangkal penderitaan warga negara!
Apa buktinya? Saat presiden mulai sadar walau baru ucapan, tulisan dan program, resonansinya justru umpatan dan juga makian. Lalu, agen-agen asing mulai masuk kembali dengan tupoksi: barat tidak tak terkalahkan.
Akhirnya, studi-studi psikologi mentalitas warga kita memberi bukti soal hipotesa bahwa ini “negeri babu bin penjilat plus pengkritik tanpa data dan kedalaman”. Tentu ini kerja raksasa jika ingin menghabisinya.
Sebab, kaum beragama dan berpendidikan hari-hari ini hidup juga dalam tradisi: bahagia saat selainnya paria dan menangis pedih saat selainnya tertawa.
Lihat saja sikap ilmuwan dan agamawan serta serdadunya: menyetubuhi konflik, anti kritik dan saling cekik. Di manapun dan kapanpun.
Kaum penjilat neoliberal, para babu dan para kritikus tanpa data suka nggedabrus bahwa “pasar itu indah seperti pelangi dan kedaulatan negara menjijikkan seperti tinja”. Akhirnya pasar liberal serakah disembah, kedaulatan dinista, diemohkan.
Sesekali kita mengaku bangsa besar tapi bertradisi dalam nalar horizon mikro. Buktinya, hobi mengimpor agama dan budaya barat sambil “jijik” pada agama sendiri dan budaya lokal yang moralis plus estetis.
Bangga membuang hasil pikiran pendiri republik (konstitusi asli), sambil menjilati pikiran bangsa asing (UUD 2002).
Itu semua karena kita gagal membuat kurikulum agar warga negara menikam mati cita-cita nyolong, mbabu, njilat, khianat sejak dalam kandungan ibunya.
Dan, itu absen dalam sekulah kita sejak merdeka, 80 tahun lalu. Akibatnya: negeri kita surplus pengkhianat dan minus patriot. Elit kita ber-KKN sejak dari pikiran. Mens rea-nya nyata.
Memang, reshuffle dapat jadi solusi jangka pendek karena itu menjadi cara paling sunyi untuk mengenang, sekaligus cara paling tabah untuk mengingat. Tetapi, di antara kisah-kisah itu pasti bukan subtansi dan struktur yang dirubah: hanya agen yang juga sering tak lebih indah.
Karenanya, kita perlu solusi secara komprehensif yang: fungsional, struktural dan subtansional. Mengapa? Karena kata sastrawan besar Ahmad Tohari (2026) ini soal misi hidup, “jadilah besar bukan karena dunia yang bantu kalian jadi besar. Tetapi, jadilah besar karena dunia tidak mampu menahan besarnya kalian”.
Maka dari petuah itu, tafsir singkatnya adalah: Mari temukan jati diri dan penuhi prestasi tanpa minta modal besar (harta, DNA, lingkungan, ras, spirit, klan). Kita bisa dan pasti mampu. Sebab warisan kita adalah: modal (kekayaan), model (para patriot), dan modul (pikiran nusantara jaya) begitu nyata.
Tapi, ingatlah bahwa revolusi pikiran dan revolusi mental yang melimpah tanpa berkah hanyalah beban yang bikin lelah. Karenanya, saat datang ke rumah orang, jangan melihat seluas apa rumahnya.
Tapi, lihatlah seluas apa hatinya untuk menerima ajakan revolusi Pancasila untuk memperbaiki Indonesia.
*) Yudhie Haryono, CEO Nusantara Centre
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi