Minggu, 21 Juni 2026, pukul : 17:50 WIB
Surabaya
--°C

Kolonialisme Sepak Bola

Senegal tidak lagi dipandang sebagai underdog. Mereka menjadi kekuatan yang sangat ditakuti oleh negara-negara Eropa. Fenomena ini menunjukkan perubahan relasi pascakolonial antara negara terjajah dengan penjajah.

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

KEMPALAN: Sepak bola modern telah berubah dari sekadar kompetisi olahraga menjadi cermin antropologis, ekonomi, dan geopolitik dunia.

Albert Camus, filosof eksistensialis Prancis menyatakan bahwa sepak bola adalah miniatur kehidupan. Bagi Camus – yang pernah menjadi kiper semasa muda di Aljazair – sepak bola adalah sumber ajaran moralitas.

‘’Apa yang paling saya pahami mengenai moralitas dan kewajiban manusia, saya dapat dari sepak bola.” Begitu kutipan masyhur dari Camus.

Bagi Camus, lapangan sepak bola adalah bidang moralitas. Di situ manusia dinilai bukan berdasarkan kelas sosial atau latar belakangnya, melainkan moralitas dan kontribusinya di lapangan.

Bahwa sepak bola itu ‘’larger than life’’, lebih besar dari kehidupan, karena ia merangkum emosi, perjuangan, kesetiaan, dan tragedi kemanusiaan. Jutaan orang akan tertawa bahagia bersama-sama. Jutaan orang akan menangis bersama-sama dalam duka.

Sepak bola juga bisa menggambarkan dunia secara global. Jurnalis Amerika Serikat Franklin Foer menunjukkan bahwa berbagai fenomena besar dunia modern – globalisasi, nasionalisme, kapitalisme, migrasi, konflik etnis, agama, kolonialisme, hingga identitas nasional – bisa dilihat melalui sepak bola.

Ia menulis buku ‘’How Soccer Explains the World; An Unlikely Theory of Globalization’’ (2004). Menurut Foer, stadion sepak bola adalah laboratorium sosial tempat perubahan-perubahan global terlihat lebih cepat dan lebih jelas.

Ia mengkaji berbagai kasus, mulai dari hooliganisme di Inggris, konflik etnis di Balkan, pengaruh oligarki di Rusia, hingga bagaimana pasar bebas mengubah klub-klub besar Eropa menjadi korporasi global, dan Bintang-bintang sepak bola menjadi super crazy rich dengan bayaran miliaran rupiah perpekan.

BACA JUGA  Dolar Saniharto

Globalisasi sepak bola pada 2000-an bisa dilihat dari perpindahan pemain lintas negara, kepemilikan klub oleh investor internasional, siaran televisi global, adanya pasar transfer internasional, dan migrasi bakat dari negara berkembang ke Eropa.

Tanpa globalisasi kita tidak bisa menyaksikan keluarga Hartono pemilik Jarum di Indonesia bisa menjadi pemilik klub kecil Como di Liga Italia, dan sekarang menjelma menjadi kejutan baru dengan lolos ke kompetisi Liga Champion tahun depan.

Tanpa globalisasi kita tidak akan melihat Erick Thohir menjadi presiden Inter Milan, dan duduk sejajar dengan Massimo Moratti, oligark besar sepak bola Italia.

Eropa menjadi pusat gravitasi sepak bola dunia, Premier League, La Liga, Bundesliga, Serie A, menjadi magnet yang menyedot talenta dari seluruh dunia. Fenomena ini seperti analogi globalisasi ekonomi ketika pusat-pusat kapital mengisap sumber daya manusia terbaik dari seluruh dunia.

Foer menemukan paradoks globalisasi. Semakin global dunia sepak bola, semakin kuat pula identitas lokal dan nasional.

Pada setiap pertandingan internasional supporter Brazil dan  suporter negara-negara Afrika yang selalu tampil dengan identitas nasional dan budaya yang khas.

Semakin global, semakin kuat identitas nasional. Para pemain internasional itu tetap lebih bangga menjadi anggota tim nasional negaranya. Tim nasional menjadi simbol kebanggaan terbesar.

Tidak peduli seberapa hebat seorang pemain, kalau dia tidak pernah mewakili negaranya di pentas piala dunia, ia akan merasa bukan siapa-siapa. Globalisasi tidak menghapus nasionalisme. Globalisasi itu justru bisa menciptakan bentuk nasionalisme baru.

BACA JUGA  Undangan Sirry

Globalisasi sepak bola telah menghasilkan pusat-pusat kekuatan baru. Selama hampir satu abad, sepak bola dunia didominasi oleh Brazil, Argentina, Jerman, Italia, Belanda, dan Prancis.

Globalisasi kemudian menyebarkan pengetahuan sepak bola ke seluruh dunia. Salah satu simbol kekuatan sepak bola baru adalah Maroko. Negara Maghribi ini menjadi semi finalis Piala Dunia 2022. Dan, sekarang Maroko menjadi kekuatan yang sejajar dengan Brazil maupun tim terbaik Eropa.

Dua dekade yang silam tidak ada yang menyangka Maroko bisa menjadi elit dunia. Kini Maroko menjadi model baru pembinaan sepak bola.

Kekuatan utama bukan hanya liga domestic, melainkan jaringan diaspora global. Banyak pemain utama Maroko lahir dan berkembang di liga elit Eropa. Mereka menerima pendidikan sepak bola Eropa, tapi memilih mewakili tanah leluhur mereka.

Dalam perspektif Foer, ini adalah bentuk globalisasi yang berbalik arah. Dulu Eropa mengimpor bakat dari bekas koloninya. Tapi, kini negara-negara bekas jajahan menggunakan diaspora untuk memperkuat identitas nasional mereka, sekaligus mengalahkan bekas penjajah.

Kasus Senegal lebih simbolis. Sebagai bekas koloni Prancis, Senegal selama puluhan tahun menjadi pemasok talenta bagi sepak bola Prancis. Tetapi kini Senegal memiliki sistem pembinaan yang semakin kuat dan jaringan pemain internasional yang luas.

Senegal tidak lagi dipandang sebagai underdog. Mereka menjadi kekuatan yang sangat ditakuti oleh negara-negara Eropa. Fenomena ini menunjukkan perubahan relasi pascakolonial antara negara terjajah dengan penjajah.

Bekas koloni tidak lagi sekadar penyedia tenaga kerja. Mereka menjadi aktor kompetitif yang mampu menantang bekas pusat kekuasaan. Piala Dunia 2026 ini menjadi panggung tempat sejarah kolonial dinegosiasikan ulang. (Kempalan)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.