Senin, 18 Mei 2026, pukul : 20:04 WIB
Surabaya
--°C

Demi Merah Putih di Panggung Dunia, Rudy T Mintarto Tampilkan Budaya Jawa Timur ke Pameran Bunga Internasional di Malaysia

KEMPALAN: Di tengah keterbatasan biaya dan minimnya dukungan terhadap diplomasi budaya berbasis komunitas, semangat memperkenalkan Indonesia ke dunia tetap menyala.

Adalah Rudy T Mintarto, sosok pegiat anggrek Indonesia yang kembali dipercaya mewakili Tanah Air dalam ajang internasional bertajuk Malaysia’s Highest Flower Exhibition “Bunga” yang akan berlangsung pada 3–7 Juni 2026 di Resort World Awana, Genting Highland, Malaysia.

Event bergengsi tersebut diikuti sejumlah negara Asia seperti Malaysia selaku tuan rumah, Jepang, Thailand, China dan Indonesia.

Bagi Rudy, undangan itu bukan sekadar partisipasi biasa, melainkan amanah untuk menjaga kehormatan nama Indonesia di panggung internasional.

Menariknya, menurut Rudy, selama ini bukan dirinya yang aktif memburu undangan pameran luar negeri. Justru komunitas anggrek Asia Tenggara yang terus menginginkan kehadiran Indonesia melalui dirinya.

“Bukan kami yang tertarik mengikuti setiap event internasional, tetapi komunitas anggrek Asia Tenggara yang tertarik mengundang kami untuk mewakili Indonesia,” ujar Rudy yang pernah menerbitkan majalah Orchid dwi bahasa sehingga dia dikenal oleh komunitas anggrek di Asia.

Ia menilai, hingga kini dirinya mungkin menjadi satu-satunya pegiat anggrek Indonesia yang konsisten bersedia berkorban secara tenaga, waktu, hingga biaya demi membawa nama bangsa dalam pameran anggrek internasional.

“Harapan saya semoga nanti ada penggemar anggrek Indonesia lain yang juga mau berkorban membawa nama Indonesia dalam kegiatan internasional,” katanya.

Mengangkat Keindahan. Budaya Jawa Timur

Dalam pameran di Malaysia nanti, Rudy tidak hanya membawa anggrek. Ia juga membawa identitas budaya Indonesia, khususnya Jawa Timur, melalui konsep display lanskap bertema “The Beauty of East Java Culture in Harmony from Indonesia.”

Stan Indonesia akan menampilkan replika megah Candi Penataran setinggi 2,5 meter sebagai pusat dekorasi. Di depannya akan hadir tiga replika penari khas Jawa Timur, yakni penari Turangga Yaksa dari Pacitan, penari Gandrung dari Banyuwangi serta penari Remo dari Surabaya.

Konsep tersebut dirancang untuk memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus potensi pariwisata Jawa Timur kepada masyarakat internasional.

Sebenarnya Rudy memiliki ide lebih hidup dengan menghadirkan penari asli yang tampil bergantian di depan stan Indonesia selama pameran berlangsung. Namun keterbatasan biaya membuat gagasan itu belum dapat diwujudkan.

“Ide menarik sebenarnya penarinya manusia asli dan menari langsung, tetapi membawa tiga penari ke Malaysia membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ungkapnya.

Pengorbanan Pribadi

Di balik penampilan megah stan Indonesia, tersimpan perjuangan panjang yang tidak ringan. Selama ini, pihak penyelenggara internasional umumnya hanya menyediakan tiket perjalanan dan hotel. Sementara kebutuhan utama seperti anggrek, dekorasi, dan properti display harus ditanggung sendiri oleh peserta. Bagi Rudy, kondisi itu menjadi tantangan terbesar.

“Kalau ada yang mendukung untuk membeli anggrek dan properti tentu lebih aman. Tetapi jika tidak ada dukungan, saya harus menyiapkannya secara mandiri,” katanya.

Ia mengaku bukan berasal dari kalangan berada secara finansial. Karena itu, setiap keberangkatan ke luar negeri lebih banyak dibangun dari semangat pengorbanan demi menjaga eksistensi Indonesia di forum internasional.

“Berat memang berjuang demi nama Indonesia agar selalu tampil di setiap pameran anggrek internasional,” tuturnya.

Prestasi Duta Indonesia

Perjalanan Rudy di dunia pameran anggrek internasional dimulai pada tahun 2010. Kala itu, ia langsung menerima tiga undangan besar sekaligus, yakni The 4th China (Sanya) International Orchid Show, Singapore Orchid Show, serta The 2nd China (Taishan) International Orchid Expo.

Dari situlah ia mulai mendalami seni membuat display lanskap anggrek yang kemudian menjadi ciri khasnya.

Sejak 2010 hingga 2026, Rudy telah meraih 23 penghargaan internasional. Prestasi tertingginya diraih pada tahun 2018 dalam ajang Singapore Orchid Show dengan penghargaan bergengsi The Best Show.

Selain itu, ia juga pernah meraih juara pertama sebanyak tiga kali, juara kedua lima kali, juara ketiga delapan kali, serta penghargaan Excellent Award, Starlight Award, dan Best Color.

Panitia internasional terus mengundang Rudy – alumni Universitas Udayana, Bali, jurusan arsitektur – karena melihat keseriusannya dalam membangun display yang artistik dan profesional.

“Mungkin mereka melihat saya selalu serius membuat tampilan display lanskap, kooperatif, tidak banyak komplain, dan selalu siap jika diundang,” tuturnya merendah.

Bagi Rudy, target utama dalam pameran di Malaysia bukan semata mengejar trofi kemenangan. Lebih dari itu, ia ingin memastikan nama Indonesia tetap hadir dan dihormati di tengah persaingan negara-negara Asia.

“Prinsipnya selalu ingin menjadi yang terbaik walaupun banyak kekurangan, terutama jumlah anggrek yang ditampilkan. Yang terpenting adalah nama Indonesia ada di antara para peserta display lanskap,” tegasnya.

Semangat itulah yang membuat perjuangan Rudy T Mintarto terasa lebih dari sekadar pameran bunga. Di tangan seorang pegiat anggrek, budaya, pariwisata, dan kehormatan bangsa dirangkai menjadi satu taman diplomasi yang harum di mata dunia.

Penulis:
Rokimdakas

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.