SIDOARJO -KEMPALAN: Deru mesin beradu dengan klakson yang bersahutan di sepanjang Jalan Raya Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo. Di tengah hiruk-pikuk kawasan pendidikan yang padat itu, berdiri seorang pria berompi kuning. Peluit di mulutnya menyalak nyaring, tangannya cekatan memberi aba-aba, menghentikan laju kendaraan demi menyeberangkan anak-anak sekolah dan pekerja.Pria itu bukan petugas dinas perhubungan, bukan pula polisi lalu lintas. Ia adalah Doni Fitraidin, calon kepala desa nomor urut 1 Desa Siwalanpanji.

Saat kontestasi Pilkades serentak Sidoarjo 2026 riuh oleh panggung terbuka dan dentuman sound horeg yang menelan biaya besar, Doni memilih jalan sunyi. Ia melakoni peran sebagai Supeltas—sukarelawan pengatur lalu lintas.Sejak pukul enam pagi, Doni sudah berdiri di perempatan desa. Titik krusial yang mengitari belasan lembaga pendidikan—mulai dari TK, SD Siwalanpanji, SMA Antartika, SMK Antartika 1 dan 2, SMP PGRI 1, Madrasah Aliyah, SMP-SMK Sepuluh Nopember, hingga SD Nurul Hikmah serta Kantor DLHK Sidoarjo.
“Ya, beginilah kondisi saya. Terus terang, jika harus menggelar kampanye akbar dengan kebisingan sound horeg, saya tidak mampu. Hanya ini yang bisa saya persembahkan untuk masyarakat. Apa adanya, tanpa ada yang dimanipulasi. Biarlah masyarakat yang menilai dan menentukan pilihan,” ujar pria yang akrab disapa Donilo ini dengan peluh yang bercucuran di pelipisnya.

Aksi Doni bukan sekadar pemanis di jalan raya. Bersama para relawannya, ia juga menambal jalan-jalan berlubang di desanya menggunakan dana swadaya. Ketika calon lain sibuk mengumbar janji di atas podium, Doni memilih membumi, menyentuh langsung urat nadi kebutuhan warga.Sembari menyeka keringatnya di tengah terik yang mulai memengat, Doni melempar sebuah filosofi mendalam yang memetakan arah pemikirannya.
“Pemimpin yang pintar itu belum tentu benar dalam melangkah. Namun, pemimpin yang berjalan di atas kebenaran, sudah pasti pintar nuraninya. Saya tidak punya modal miliaran rupiah, tapi saya wakafkan raga ini untuk keselamatan warga setiap pagi,” pungkasnya lirih namun sarat penekanan.
Di tengah pragmatisme politik desa, strategi senyap Doni menjadi anomali yang dramatis. Sebuah pembuktian bahwa simpati tidak selamanya harus dibeli dengan kebisingan, melainkan bisa dipetik melalui ketulusan di tepi jalan.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi