JAKARTA—KEMPALAN: Upaya membangun ekosistem digital yang terintegrasi lintas sektor terus dilakukan oleh Indonesia Berbagi Kebaikan (IBK). Komitmen tersebut ditandai melalui safari kunjungan Direktur IBK, Slamet Sugianto, ke sejumlah tokoh nasional dan pimpinan lembaga strategis di Jakarta pada 5–9 Juni 2026.
Rangkaian pertemuan tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintahan, dunia usaha, akademisi, hingga pegiat masyarakat sipil. Beberapa tokoh yang dikunjungi antara lain Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Edwin, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Dr. Haikal Hasan, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Prof. Dr. Mufti Mubarok, pengusaha dan pengamat geopolitik Dr. Anton Permana, mantan Wakapolri Komjen Pol. (Purn.) Oegroseno, Pembina Mahardika Paripurna Edy Mulyadi, serta mitra Komisi Yudisial yang dipimpin Dr. Abdul Chair Ramadhan bersama Cand. Dr. Aziz Yanuar, S.H., M.H.
Menurut Slamet Sugianto, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi kelembagaan, melainkan bagian dari ikhtiar membangun kolaborasi strategis untuk memperkuat ekosistem digital nasional yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan.
“Kami ingin menghadirkan platform kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah, dunia usaha, akademisi, maupun masyarakat sipil, dalam semangat gotong royong dan kebermanfaatan,” ujarnya.
Berbagai isu strategis menjadi fokus pembahasan dalam rangkaian pertemuan tersebut. Di antaranya penguatan sertifikasi halal sebagai instrumen peningkatan daya saing produk nasional, perlindungan konsumen di era digital, ketahanan pangan berbasis maritim, penguatan integritas dan pengawasan lembaga peradilan, serta peningkatan literasi masyarakat terhadap berbagai persoalan kebangsaan dan kenegaraan.
Dari perspektif pembangunan nasional, kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kebutuhan mendesak di tengah perubahan global yang semakin cepat. Digitalisasi tidak lagi hanya dipahami sebagai transformasi teknologi, melainkan juga sarana membangun konektivitas antarlembaga dan memperluas akses masyarakat terhadap berbagai layanan publik dan ekonomi.
IBK memandang bahwa penguatan kedaulatan nasional harus dibangun melalui sinergi berbagai sektor yang saling melengkapi. Karena itu, pendekatan kolaboratif menjadi salah satu fondasi utama yang terus dikembangkan organisasi tersebut.
Saat ini, IBK telah menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra strategis, antara lain Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UNAIR), Mahardika Paripurna, serta Garuda Diaspora Alliance (GDA) yang merepresentasikan komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan.
Melalui jejaring tersebut, IBK berharap dapat menjadi penghubung sekaligus katalisator dalam pengembangan ekosistem digital yang mampu mengintegrasikan kebutuhan berbagai sektor pembangunan, mulai dari pendidikan, ekonomi, perlindungan konsumen, ketahanan pangan, hingga pemberdayaan diaspora Indonesia di luar negeri.
Safari kolaborasi yang berlangsung selama lima hari itu sekaligus menjadi penanda langkah baru IBK dalam memperluas peran sebagai organisasi yang tidak hanya bergerak dalam bidang sosial dan kemanusiaan, tetapi juga turut mendorong lahirnya berbagai inisiatif strategis untuk memperkuat kemandirian dan daya saing bangsa di era digital.
Dengan semakin luasnya jaringan kemitraan yang dibangun, IBK optimistis kolaborasi lintas sektor dapat menjadi modal penting dalam menghadirkan solusi nyata bagi berbagai tantangan pembangunan Indonesia di masa depan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi