SURABAYA-KEMPALAN: Hitung mundur menuju Piala Dunia 2026 semakin dekat. Meski turnamen belum dimulai, berbagai lembaga analisis dan pengamat sepak bola dunia telah merilis prediksi mengenai calon kuat juara dunia. Menariknya, hasil prediksi yang muncul menunjukkan perbedaan mencolok antara pendekatan ekonomi dan simulasi statistik modern.
Salah satu prediksi yang banyak mendapat perhatian datang dari ekonom olahraga Joachim Klement. Melalui model analisis berbasis faktor sosial-ekonomi, Klement menempatkan Belanda sebagai kandidat terkuat untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026.
Model tersebut tidak semata-mata menilai kualitas skuad atau performa terkini tim nasional, melainkan mengukur potensi kesuksesan sepak bola suatu negara melalui sejumlah indikator struktural seperti jumlah populasi, kondisi iklim, serta kekuatan ekonomi yang tercermin dalam Produk Domestik Bruto (PDB).
Pendekatan ini memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam memprediksi hasil sejumlah turnamen besar sebelumnya. Menurut analisis tersebut, negara dengan PDB tinggi cenderung memiliki keunggulan dalam pengembangan sepak bola karena mampu berinvestasi besar pada akademi pemain, fasilitas olahraga modern, teknologi sport science, hingga sistem pembinaan jangka panjang.
Selain itu, faktor ekonomi juga dinilai memberikan keuntungan bagi negara tuan rumah. Piala Dunia 2026 sendiri akan digelar di tiga negara Amerika Utara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang memiliki kekuatan ekonomi besar serta infrastruktur olahraga kelas dunia.
Namun, hasil berbeda ditunjukkan oleh prediksi berbasis kecerdasan data dan simulasi pertandingan. Superkomputer milik Opta Analyst justru menempatkan Spanyol sebagai favorit utama untuk menjadi juara dunia.
Berdasarkan ribuan simulasi yang dijalankan hingga 1 Juni 2026, tim berjuluk La Roja tersebut memiliki peluang juara sebesar 16,1 persen, tertinggi dibandingkan seluruh peserta turnamen.
Di bawah Spanyol, Prancis menempati posisi kedua dengan peluang juara 13 persen. Inggris berada di urutan ketiga dengan 11,2 persen, disusul Argentina yang memiliki peluang 10,4 persen untuk mempertahankan gelarnya.
Brasil menempati posisi kelima dengan peluang 6,6 persen, sementara Jerman berada di peringkat ketujuh dengan 5,1 persen. Belanda, yang menjadi unggulan utama dalam model ekonomi Joachim Klement, tetap masuk dalam kelompok kandidat kuat bersama Norwegia, Belgia, dan Kolombia.
Opta juga menyoroti potensi Maroko sebagai salah satu tim kuda hitam. Wakil Afrika Utara tersebut diperkirakan memiliki peluang juara sebesar 1,9 persen setelah menunjukkan performa konsisten dalam beberapa turnamen internasional terakhir.
Sementara itu, Amerika Serikat yang berstatus sebagai salah satu tuan rumah hanya diberi peluang 1,2 persen untuk menjadi juara dunia.
Tak hanya memprediksi peluang juara, simulasi Opta juga menghitung kemungkinan setiap tim mencapai perempat final, semifinal, hingga final. Spanyol kembali mendominasi seluruh kategori tersebut dengan peluang mencapai partai puncak sebesar 25,6 persen.
Meski demikian, baik model ekonomi maupun simulasi superkomputer tetap tidak dapat menjamin hasil akhir di lapangan. Sejarah Piala Dunia berulang kali membuktikan bahwa turnamen terbesar sepak bola tersebut kerap menghadirkan kejutan yang sulit diprediksi oleh angka maupun algoritma.
Lantas siapa sejatinya juara Piala Dunia 2026? Kita tunggu saja hasilnya. (Andra Jatmiko)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi