GRESIK-KEMPALAN: Puluhan tokoh masyarakat lintas profesi di Kabupaten Gresik berkumpul dalam Forum Rembuk Peduli Gresik, Rabu (20/5/2026) malam. Forum tersebut menjadi ruang diskusi bersama untuk merespons kekhawatiran atas semakin tergerusnya identitas Gresik sebagai kota santri di tengah derasnya arus industrialisasi dan meningkatnya berbagai persoalan sosial.
Pertemuan yang digelar di sebuah restoran di Jalan Veteran, Gresik, itu dihadiri kalangan kiai, habib, akademisi, pengusaha, hingga praktisi komunikasi dari berbagai wilayah, mulai Gresik kota, Gresik Utara, hingga Gresik Selatan. Beberapa tokoh yang hadir antara lain Habib Hasan Assegaf, Habib Mustofa Assegaf, Habib Muhammad Mahan, KH Muhammad Fathoni Mukhlis, Kiai Adam Cholil Albantany, dan sosiolog Hamim Farhan.
Dalam forum tersebut, para peserta menilai perkembangan industri di Gresik membawa konsekuensi sosial yang perlu diantisipasi secara serius. Industrialisasi dinilai harus diimbangi penguatan fondasi keagamaan dan sosial agar tidak mengikis karakter daerah yang selama ini dikenal sebagai kota wali dan kota santri.
Ustaz Munif, yang memandu jalannya diskusi, menyoroti sejumlah persoalan sosial yang dinilai semakin tampak dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut munculnya ketimpangan sosial akibat kesenjangan ekonomi, maraknya praktik prostitusi terselubung, kriminalitas, pergaulan bebas, hingga penyalahgunaan narkoba sebagai tantangan serius bagi masyarakat Gresik.
Menurut para peserta forum, kondisi tersebut menjadi ironi di tengah identitas religius yang selama ini melekat kuat pada Gresik. Karena itu, mereka menilai diperlukan langkah antisipatif sejak dini agar identitas kota santri tidak sekadar menjadi simbol historis.
Habib Hasan Assegaf menegaskan forum tersebut tidak boleh berhenti sebagai ruang diskusi semata. Ia mendorong agar Forum Rembuk Peduli Gresik memiliki langkah kerja yang lebih konkret, termasuk memperkuat koordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mencermati pemenuhan fasilitas ibadah di kawasan industri.
Sementara itu, Hamim Farhan menilai identitas Gresik sebagai kota santri mulai menghadapi tantangan serius akibat dampak sosial industrialisasi yang semakin menguat. Menurut dia, forum-forum masyarakat sipil perlu terus dikembangkan untuk memberikan masukan konstruktif kepada pemangku kebijakan.
Di akhir pertemuan, Forum Rembuk Peduli Gresik sepakat memperkuat struktur organisasi dan menyusun program kerja yang lebih terukur. Mereka juga berkomitmen mengawal berbagai persoalan keumatan dan kebijakan publik yang berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat Gresik.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi