SURABAYA-KEMPALAN: Bulan Bung Karno yang diperingati setiap Juni kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat Surabaya untuk mengenang sosok Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Berbagai kegiatan digelar mulai dari seminar kebangsaan, napak tilas sejarah, lomba pidato hingga festival budaya.
Namun di tengah semarak peringatan tersebut, pendiri Komunitas Surabaya Juang, Heri “Lentho” Prasetyo, mengingatkan bahwa penghormatan kepada Bung Karno seharusnya tidak berhenti pada simbol-simbol fisik dan romantisme sejarah.
Menurut alumnus IKIP Surabaya Jurusan Tari yang telah menciptakan lebih dari 150 sendratari perjuangan itu, masyarakat perlu memahami bagaimana proses panjang yang membentuk Soekarno muda hingga menjadi tokoh besar bangsa.
“Pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah, apakah kita sedang meneladani Bung Karno atau hanya meniru penampilannya,” tanya Heri.
Dia menilai selama ini Bung Karno sering direpresentasikan melalui peci hitam, jas putih, tongkat komando, maupun gaya pidato yang menggelegar. Padahal semua itu hanyalah ekspresi luar dari perjalanan intelektual yang jauh lebih dalam.
Heri menjelaskan, sebelum menjadi proklamator dan presiden pertama Indonesia, Soekarno adalah seorang pemuda yang tumbuh dalam lingkungan literasi, diskusi, dan kebudayaan. Saat tinggal di rumah H.O.S. Cokroaminoto di kawasan Peneleh Surabaya, Soekarno muda berinteraksi dengan berbagai tokoh pergerakan dan pemikir bangsa.
Di tempat itulah dia banyak membaca buku sejarah, mempelajari gagasan kebangsaan, memahami dinamika politik dunia, serta melatih kemampuan berbicara di depan umum.
“Yang membentuk Bung Karno bukan seragamnya. Yang membentuk Bung Karno adalah buku-buku yang dibacanya, diskusi yang diikutinya, dan keterlibatannya dalam kehidupan masyarakat,” katanya.
Selain dikenal sebagai pembaca yang tekun, Soekarno juga memiliki kedekatan dengan dunia seni pertunjukan. Pengalaman tersebut terus berkembang bahkan ketika ia menjalani masa pengasingan di Ende.
Di tempat pengasingan itu, Bung Karno aktif menulis dan menyutradarai pementasan tonil sebagai sarana pendidikan masyarakat. Menurut Heri, pengalaman berkesenian tersebut berkontribusi besar terhadap kemampuan komunikasi dan kepemimpinan Soekarno.
“Seni mengajarkan empati, kemampuan membaca situasi sosial, dan cara menyampaikan gagasan kepada masyarakat secara efektif,” ujarnya.
Karena itu, Heri berharap Bulan Bung Karno tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan. Ia mendorong agar momentum tersebut digunakan untuk membangun budaya membaca, budaya diskusi, serta ruang-ruang kebudayaan yang dapat memperkuat karakter generasi muda.
Menurutnya, pembangunan manusia tidak cukup diukur dari kemajuan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi semata. Yang lebih penting adalah kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan.
“Apakah anak-anak kita semakin gemar membaca? Apakah mereka memiliki kesadaran sejarah? Apakah mereka berani berpikir dan menyampaikan gagasan? Itu indikator yang tidak kalah penting,” tegasnya.
Heri menilai Surabaya memiliki modal sejarah yang kuat untuk melahirkan generasi muda yang berkarakter dan berwawasan kebangsaan.
Karena itu, warisan terbesar Bung Karno yang perlu dijaga bukanlah simbol-simbol fisik, melainkan semangat belajar, keberanian berpikir, dan kecintaan kepada rakyat.
“Jika kita ingin menghormati Bung Karno, wariskan perpustakaannya, hidupkan ruang diskusinya, dan bangun panggung kebudayaannya. Dari situlah lahir generasi masa depan Indonesia,” pungkasnya.
(Rokimdakas)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi