SURABAYA-KEMPALAN: Peringatan Bulan Bung Karno tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga momentum untuk membicarakan masa depan pembangunan manusia Indonesia.
Gagasan tersebut disampaikan Heri “Lentho” Prasetyo, pendiri Komunitas Surabaya Juang, yang menilai nilai-nilai pemikiran Bung Karno masih sangat relevan menghadapi tantangan zaman.
Menurut Heri, salah satu konsep yang dapat dikembangkan secara lebih serius adalah Kampung Pancasila sebagai ruang pembelajaran karakter dan kebudayaan masyarakat.
“Kampung Pancasila jangan hanya menjadi proyek fisik. Yang lebih penting adalah bagaimana kampung tersebut menjadi tempat tumbuhnya manusia Indonesia yang berkarakter,” ujarnya.
Selama ini, kata Heri, banyak Kampung Pancasila diwujudkan melalui pembangunan gapura, mural, monumen, atau papan slogan kebangsaan. Simbol-simbol tersebut memang penting sebagai penanda identitas, tetapi tidak cukup untuk membentuk karakter masyarakat.
Ia menilai Kampung Pancasila harus berkembang menjadi ekosistem kebudayaan yang menghadirkan aktivitas nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Heri, gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Bung Karno tentang ‘nation and character building’ atau pembangunan karakter bangsa.
“Bung Karno berkali-kali menegaskan bahwa membangun bangsa berarti membangun manusianya terlebih dahulu. Infrastruktur penting, tetapi manusia tetap menjadi fondasi utama,” katanya.
Sebagai bentuk implementasi, Heri mengusulkan hadirnya Rumah Baca Bung Karno di setiap Kampung Pancasila. Perpustakaan kecil tersebut dapat menyediakan buku sejarah, kebangsaan, kepemimpinan, budaya, dan literasi sosial.
Ia meyakini budaya membaca merupakan salah satu faktor utama yang membentuk karakter Soekarno muda sebelum menjadi pemimpin bangsa.
Selain rumah baca, Heri juga mengusulkan pembentukan forum diskusi warga yang mengangkat tema sejarah lokal, kebangsaan, lingkungan hidup, demokrasi, serta tantangan generasi muda.
“Tradisi diskusi yang pernah hidup di lingkungan Cokroaminoto harus kita hidupkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan zaman sekarang,” ujarnya.
Dalam pandangannya, seni dan budaya juga harus menjadi bagian penting dari pembangunan karakter masyarakat. Kegiatan teater, ludruk, musik, puisi, maupun sendratari dapat menjadi sarana pendidikan yang menyenangkan sekaligus efektif.
Sebagai koreografer dan pencipta lebih dari 150 sendratari, Heri mengaku telah melihat langsung bagaimana seni mampu membentuk disiplin, kreativitas, kerja sama, dan rasa tanggung jawab generasi muda.
“Seni bukan sekadar hiburan. Seni adalah media pembelajaran kehidupan,” tuturnya menjelaskan.
Heri juga mendorong setiap kampung mendokumentasikan sejarah lokalnya sendiri. Tokoh masyarakat, tradisi budaya, situs bersejarah, hingga kisah perjuangan warga perlu dicatat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, kesadaran sejarah menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun identitas kebangsaan.
Di tengah perkembangan teknologi digital, Heri mengingatkan bahwa generasi muda membutuhkan ruang yang mendorong mereka menjadi pencipta gagasan, bukan hanya pengguna teknologi.
“Surabaya membutuhkan anak-anak muda yang gemar membaca, mencintai sejarah, aktif berdiskusi, berani berkarya, dan memiliki integritas,” ujarnya.
Ia optimistis jika konsep Kampung Pancasila dikembangkan sebagai laboratorium kebudayaan dan pendidikan karakter, Surabaya dapat menjadi contoh pembangunan manusia yang berbasis nilai-nilai Pancasila.
“Bulan Bung Karno harus menjadi momentum membangun ekosistem yang melahirkan generasi berkarakter. Itulah cara paling nyata untuk meneruskan semangat Bung Karno dalam kehidupan masa kini,” pungkas Heri.
(Rokimdakas)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi