SURABAYA-KEMPALAN: Rembuk besar transformasi pendidikan tinggi guru kembali bergaung di “Rumah Para Juara” Kampus II Lidah Wetan, Surabaya. Pada Senin (29/6), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menegaskan posisinya sebagai episentrum rujukan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Indonesia. Momentum ini terwujud melalui kunjungan benchmarking yang dilakukan oleh jajaran pengelola dan 58 mahasiswa Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta, sebuah langkah strategis dalam menguatkan ekosistem sertifikasi guru demi menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045.
Kedatangan rombongan UTP Surakarta yang terdiri atas 30 mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) serta 28 mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini bukanlah sekadar studi banding rutin. Lebih dari itu, misi utama mereka adalah menggali secara mendalam praktik-praktik unggul yang telah menjadikan Unesa sebagai laboratorium rujukan nasional di bidang PPG. Rombongan disambut hangat di Auditorium Gedung PPG, dan langsung dihadapkan pada paparan komprehensif mengenai keunggulan tata kelola akademik yang terintegrasi dengan sarana prasarana mutakhir.

Kepala Badan Pendidikan Profesi Guru (BPPG) Unesa, Dr. Fatkur Rohman Kafrawi, M.Pd., menerangkan bahwa agenda ini dirancang sebagai wadah diseminasi ilmu sekaligus penguatan jejaring. “Mahasiswa ingin melihat langsung fasilitas PPG Unesa yang menjadi salah satu keunggulan kami, mulai dari laboratorium micro-teaching, ruang podcast, layanan bimbingan konseling, hingga laboratorium kebugaran. Kami ingin menunjukkan bahwa PPG bukan hanya soal teori, tetapi ekosistem pendukung yang holistik,” ujarnya di sela-sela pendampingan.
Namun, narasi besar pertemuan ini tidak berhenti pada aspek fisik fasilitas. Diskusi mendalam juga menyentuh aspek fundamental lainnya, yakni tata kelola administrasi dan keuangan penyelenggaraan PPG. Kedua institusi saling berbagi strategi agar proses pembelajaran tidak hanya optimal secara pedagogik, tetapi juga akuntabel, transparan, dan patuh terhadap regulasi pertanggungjawaban yang berlaku. Hal ini menjadi kunci penting mengingat PPG adalah program strategis nasional yang menuntut manajemen mutu terpadu dari hulu hingga hilir.
Dalam sambutannya, Dr. Fatkur Rohman Kafrawi menekankan semangat keterbukaan dan ekosistem belajar bersama. “Kami menyambut baik seluruh LPTK untuk saling berdiskusi dan berbagi praktik baik. Meski saat ini Unesa menjadi tujuan benchmarking, kami juga terus belajar dari inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Kualitas guru Indonesia adalah tanggung jawab kolektif kita bersama,” tegasnya dengan nada optimistis.

Memasuki sesi inti, para mahasiswa UTP tidak hanya menjadi penonton pasif. Mereka mengikuti kuliah umum bertajuk ‘Berpikir Komputasional dan Pemrograman bagi Guru Profesional’, sebuah materi yang mengakselerasi kompetensi digital tenaga pendidik di era disrupsi. Puncak kegiatan adalah focus group discussion (FGD) yang terbagi dalam beberapa bidang spesifik, mulai dari pengembangan kurikulum akademik, optimalisasi teknologi informasi, hingga pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang terstruktur dan berbasis dampak.
Memperkuat pesan kolaborasi, Kasubdit Global Partnership and Promotion Unesa, Prof. Slamet Setiawan, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa visi Unesa sebagai impact university tidak dapat berdiri sendiri. “Setiap perguruan tinggi memiliki keunggulan masing-masing. Karena itu, mari saling belajar dan berbagi pengalaman untuk meningkatkan kualitas lembaga. Unesa selalu terbuka untuk bekerja sama, baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Kerja sama itu harus membawa dampak nyata bagi masyarakat maupun institusi,” ungkap Prof. Slamet, sembari menyebut bahwa sinergi ini adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa.
Di sisi lain, antusiasme rombongan UTP Surakarta sangat terasa. Wakil Dekan FKIP UTP Surakarta, Arif Rohman Hakim, mengungkapkan alasan fundamental pemilihan Unesa sebagai tempat benchmarking. “Unesa dipilih karena dinilai memiliki pengalaman dan kualitas yang baik dalam penyelenggaraan PPG. Banyak inovasi pendidikan yang kami pelajari dari Unesa. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut, baik dalam bidang riset, pengelolaan jurnal, maupun peningkatan kualitas penyelenggaraan PPG, mulai dari tata kelola, administrasi, hingga pengembangan penciri PPG di UTP,” paparnya dengan penuh harap.
Akhirnya, momentum sharing tata kelola antara Unesa dan UTP Surakarta ini bukanlah sekadar seremonial tahunan. Ia adalah cermin dari komitmen nasional untuk mencetak guru-guru profesional yang tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga inspiratif dan adaptif. Ketika tata kelola PPG dikelola dengan sinergi lintas kampus, maka kelak lulusan guru yang dihasilkan akan menjadi ujung tombak peradaban, mengantarkan generasi penerus menuju puncak kejayaan di tahun 2045. Sebab, pendidikan yang berdampak selalu berawal dari guru yang berkualitas, dan guru berkualitas lahir dari ekosistem kolaboratif yang kokoh.(

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi