Senin, 29 Juni 2026, pukul : 23:44 WIB
Surabaya
--°C

Enak Didengar, Viral – Tapi Apakah Selaras dengan Kebenaran?

Penyakit-penyakit jiwa itu bukan produk sistem – ia berasal dari dalam dada manusia sendiri. Dan selama manusia masih manusia, pintu itu tidak pernah benar-benar tertutup.

Oleh: Agus M. Maksum

KEMPALAN: Tulisan berikut ini adalah Refleksi Filsafat atas Imajinasi, Kejahatan, dan Realitas Manusia. Berupa kajian filsafat.

Rasa dan Fakta

Dulu saya juga menyukainya. Kalimat yang indah. Retorika yang membakar. Kata-kata yang membuat bulu kuduk dapat berdiri dan dada terasa penuh. Sampai suatu saat saya belajar membedakan antara rasa dan fakta.

Antara sesuatu yang enak didengar – dan sesuatu yang benar. Keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

Dari Piano Putih ke Panggung Mahasiswa

Tahun 1971. John Lennon duduk di depan piano putih di studio mewahnya di Inggris. Ia menciptakan sebuah lagu. “Imagine there’s no heaven… no hell below us… and no religion too…”

Lagu tersebut menjadi salah satu karya paling populer sepanjang masa. Diputar di konser perdamaian. Dinyanyikan oleh pemimpin dunia. Dijadikan soundtrack harapan umat manusia.

Enak. Sangat enak. Viral jauh sebelum kata “viral” ada.

Lima puluh tahun kemudian, di panggung yang berbeda – panggung aktivisme mahasiswa Indonesia – kita mendengar kalimat lain yang juga viral, juga heroik, juga mendapat tepuk tangan:

“Menangkap koruptor bukanlah prestasi, tetapi kewajiban. Prestasi adalah ketika sudah tidak ada korupsi.” Enak didengar. Membakar semangat. Dan, mudah dibagikan.

Tapi saya ingin mengajak Anda berdiam sejenak di warung kopi. Kita tidak perlu terburu-buru ikut bertepuk tangan. Mari kita tanya dulu – Apakah yang enak didengar itu selalu selaras dengan kebenaran?

Bongkar Paradigma – Mulai Dari Lennon

John Lennon bermimpi tentang dunia tanpa negara, tanpa agama, tanpa kepemilikan. Satu atap. Satu keluarga besar umat manusia. Saling berbagi. Hidup dalam damai.

Indah sekali. Tapi ada satu masalah mendasar yang Lennon – dan jutaan penggemarnya – sepertinya lupa tanyakan kepada diri sendiri. Manusia yang mana yang ia bayangkan?

Bukan manusia abstrak dalam lagu. Bukan manusia ideal dalam teori. Tapi manusia nyata – dengan hasad, dengan ambisi, dengan ego, dan dengan ketakutan, serta dengan kegelapan yang bersarang di dalam dada.

Lennon membayangkan dunia tanpa sekat. Tapi, dunia paling tanpa sekat yang pernah ada dalam sejarah manusia… bukan studio rekaman di Inggris. Ia ada di sebuah ladang. Dengan hanya enam orang di dalamnya.

Ke Akar Sejarah – Keluarga Pertama

Saya memantau banyak diskusi, dari forum akademik hingga grup WA (WhatsApp). Dan satu hal yang selalu terlewat adalah pertanyaan paling sederhana:

Sudahkah kita belajar dari keluarga pertama? Adam. Hawa. Qabil. Habil. Iqlima. Labuda. Enam jiwa.

Tidak ada negara. Tidak ada batas geografis. Tidak ada ideologi yang berbenturan. Tidak ada perbedaan ras. Tidak ada agama yang berbeda-beda. Mereka satu keluarga. Satu darah. Satu atap bumi yang sama.

BACA JUGA  Ketika Pemburu Diburu Buruan

Persis seperti yang Lennon bayangkan. Dan apa yang terjadi?

Pembunuhan pertama di muka bumi. Bukan karena perbedaan negara. Bukan karena perbedaan agama. Bukan karena kapitalisme atau imperialisme.

Tapi karena hasad – iri hati yang menggelapkan mata seorang saudara terhadap saudaranya sendiri. Enam orang saja. Satu keluarga saja. Satu bumi yang sama, tanpa sekat, tanpa batas.

Tapi kejahatan tetap lahir.

Al-Qur’an mengabadikan kisah ini bukan kebetulan. Ini adalah pernyataan filsafat paling mendasar tentang hakikat manusia – bahwa kejahatan bukan semata produk dari sistem yang salah. Kejahatan adalah kemungkinan yang selalu ada selama manusia masih diberi kehendak bebas.

Ali Syari’ati dalam On the Sociology of Islam menegaskan: sejarah berawal bukan dari harmoni, melainkan dari kontradiksi. Qabil dan Habil adalah dua manusia yang manusiawi dan fitri – tetapi keduanya terlibat pertentangan. Dan dari sanalah sejarah umat manusia bermula.

Analogi Sederhana

Membayangkan damai dunia dengan cara John Lennon ibarat kita mau membayangkan tidak akan ada kebakaran jika kita hapus semua korek api dari muka bumi.

Koreknya hilang. Tapi apakah apinya juga hilang? Api itu bukan di korek api. Api itu ada di dalam dada manusia.

Selama nafsu, hasad, dan kegelapan masih menjadi bagian dari fitrah manusia – maka menghapus negara, agama, dan kepemilikan hanya akan memindahkan medan konflik, bukan menghapusnya.

Kembali ke Panggung – Fatimah Azzahra dan Retorika yang Heroik

Catatan ini bukan kritik. Ini adalah diskusi filsafat.

Saya mendengarkan retorika Fatimah Azzahra – aktivis mahasiswi yang cerdas, berani, dan membanggakan. Bangsa ini memang membutuhkan anak-anak muda yang berani menyuarakan kritik dan memiliki kepedulian terhadap masa depan negeri.

Saya bangga. Saya senang. Dan saya berharap ia terus berkembang – termasuk berkembang dalam pemahaman filsafat, epistemologi, dan eksperimen sosial.

Tapi justru karena bangga, saya merasa perlu mendiskusikan salah satu pernyataannya secara serius.

“Menangkap koruptor bukanlah prestasi, tetapi kewajiban. Prestasi adalah ketika sudah tidak ada korupsi.”

Kalimat itu terdengar heroik. Membakar semangat. Sangat mudah untuk mendapat tepuk tangan.

Tapi jika diuji dari perspektif filsafat – ia menyimpan persoalan mendasar yang sama persis dengan lagu Lennon. Ia membangun imajinasi yang indah di atas fondasi yang salah tentang hakikat manusia.

Data dan Fakta – Filsafat Kejahatan

Bahwa dalam filsafat Islam itu, realitas kejahatan bukan anomali – ia adalah konsekuensi logis dari kebebasan yang Allah anugerahkan kepada manusia.

Buya HAMKA, dalam Tasawuf Modern, mengingatkan bahwa sifat hasad, dengki, benci, dan sombong adalah pintu pembuka berbagai kejahatan besar.

Penyakit-penyakit jiwa itu bukan produk sistem – ia berasal dari dalam dada manusia sendiri. Dan selama manusia masih manusia, pintu itu tidak pernah benar-benar tertutup.

BACA JUGA  Ketika Kritik Dianggap Konspirasi: Catatan atas Tulisan Agus M. Maksum

Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair besar Islam, dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam menjelaskan bahwa manusia dikaruniai ego yang bebas – kebebasan menentukan pilihan, sekaligus akan menanggung seluruh konsekuensinya.

Kebebasan itulah yang menjadikan manusia mulia sebagai khalifah. Tapi kebebasan yang sama pula yang membuka ruang bagi kejahatan untuk lahir.

Tanpa kebebasan memilih, tidak ada ujian. Tanpa ujian, tidak ada makna. Artinya: selama manusia masih bebas – kejahatan tetap mungkin. Selalu. Di manapun. Dengan siapapun. Dalam keluarga sekecil apapun.

Tidak ada negara di dunia – yang paling maju, paling transparan, paling ketat sekalipun – yang mencapai kondisi nol korupsi secara absolut. Ini bukan pesimisme. Ini realisme peradaban.

Dua Cara Berpikir

Dokter tetap bekerja meskipun penyakit tidak pernah habis. Polisi tetap bertugas meskipun kejahatan tidak pernah nol. Guru tetap mengajar meskipun kebodohan selalu lahir di setiap generasi.

Begitu pula negara. Ia tidak boleh berhenti membangun hanya karena masih ada korupsi. Dan, prestasi negara tidak boleh diukur hanya dari satu parameter yang secara filosofis tidak mungkin dicapai secara absolut.

Dua cara berpikir sedang berhadapan di sini. Yang satu berkata: hapus kejahatan sepenuhnya, barulah ada prestasi.

Yang lain berkata: kenali hakikat manusia, persempit ruang kejahatan, perkuat sistem, dan teruslah membangun. Yang pertama enak didengar. Yang kedua benar.

Sejarah umat manusia tak dibangun oleh para pemimpin yang menghapus realitas.

Sejarah dibangun oleh mereka yang menatap realitas apa adanya – termasuk kegelapan di dalamnya – kemudian dengan sungguh-sungguh membangun sistem, nilai, dan peradaban untuk mengelola kegelapan itu.

Itulah fungsi agama. Itulah fungsi dari hukum. Itulah fungsi negara yang sesungguhnya. Bukan untuk diimajinasikan lenyap – tapi untuk diisi dengan keadilan.

Penutup

Viral itu bukan validasi. Tepuk tangan itu bukan kebenaran.

Dan retorika yang paling membakar semangat sekalipun – jika ia dibangun di atas imajinasi yang salah tentang hakikat manusia – maka ia adalah api yang menerangi sesaat, lalu padam meninggalkan kegelapan yang lebih dalam.

Sejarah membuktikan: retorika mampu menggerakkan massa, tetapi hanya ilmu yang mampu mengarahkan peradaban.

Karena itu, mari kita latih diri – bukan hanya untuk menyuarakan yang enak didengar, tapi untuk memperjuangkan yang benar. Meski ia pahit untuk dikatakan. “Katakanlah kebenaran, meskipun itu pahit.”

Meski itu tidak seindah menyanyikan Imagine.

Wallahu a’lam bish-shawab.

*) Agus M Maksum, Pemerhati Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik, Praktisi IT, Pembuat Patent Platform Digital Ekonomi Pancasila, Mantan Ketua Senat Mahasiswa ITS, Aktivis 98

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.