Senin, 29 Juni 2026, pukul : 23:11 WIB
Surabaya
--°C

Jokowi Berani Tantang Prabowo dan Megawati

Dari sisi inilah – kekuatan yang menggoyang Prabowo itu dapat dipahami siapa mereka (Oligarki Rakus) itu bermain. Bisa jadi, Prabowo itu terlalu bahaya bagi mereka.

Oleh: Muslim Arbi

KEMPALAN: Pemilihan Lampung sebagai titik awal safari politik bukan tanpa makna. Selama ini Lampung dikenal sebagai basis Partai Gerindra yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, dan PDIP yang dipimpin Megawati Soekarnoputri.

Bahwa Lampung selama ini dikenal sebagai basis Gerindra dan PDIP. Mengapa Joko Widodo yang juga a dari Wapres Gibran Rakabuming Raka itu menginjak kepala kerbau bermoncong putih? Maksudnya apa?

Apalagi ini disertai dengan ritual injak kepala kerbau mirip lambang PDIP. Bisa dibilang Jokowi memulai gerakan politik yang berbahaya dengan memasuki basis Gerindra dan PDIP.

Langkah Jokowi tersebut dilakukan ketika situasi politik belum memasuki tahun politik.

Padahal ini bukan dan belum tahun politik. Tetapi Jokowi sudah bermain api. Alih-alih membesarkan PSI (Partai Solidaritas Indonesia) tapi malahan akan mengajak perang Gerindra dan PDIP. Artinya ngajak perang Prabowo dan Megawati.

Prabowo Diserang

Penyerangan terhadap Prabowo Subianto yang belakangan ini terjadi setidaknya telah membuka tabir, mengapa Prabowo selalu gagal dalam dua kali Pilpres (2014 dan 2019).

Baru mau dua tahun Prabowo jadi presiden dan pimpin Indonesia. Tapi, serangan terhadap mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad itu sangat TSM – Terstruktur, Sistematis dan Masif.

BACA JUGA  Frans Seda, Lelaki yang Membangun Jembatan Dengan Pemikiran

Visi-Misi Prabowo yang ditulis dalam bukunya Paradoks Indonesia – Inti dari Buku tersebut yaitu bahwa Kita Negeri Kaya. Tetapi kita tetap miskin?

Dari pisau analisannya di buku itu (PI) adalah sumber daya alam (SDA) Indonesia dikuasai oleh segelintir pengusaha rakus dan kemudian menjelma menjadi pemilik modal dan penguasa ekonomi dan aset negara (tanah seluas jutaan hektar) dan mau mendikte negara dan para penguasa untuk kepentingan bisnis mereka.

Akibatnya para pemiik modal dan aset negara (Oligarki rakus) tidak menghendaki ada Presiden yang tunduk pada konsitusi dan Pro pada kepentingan Rakyat.

Akibat itu pula Putera Begawan Ekonomi – Prof Soemitro Djojohadikoesoemo itu selalu digagalkan untuk memimpin Indonesia. Sehingga berkali-kali gagal dalam konstestasi Pilpres.

Bila dibanding dengan Era Presiden SBY yang memimpin Indonesia 10 tahun dan  Joko Widodo 10 tahun, kedua presiden Indonesia itu belum pernah alami tekanan politik dan ekonomi seperti yang dialami oleh Prabowo saat ini.

Ada sih buku yang ditulis era SBY yang menjawab Gurita Cikeas dan buku People Power – Jokowi.

Patut diakui – jika dibanding SBY dan Jokowi, keduanya tidak menuliskan pikiran untuk Indonesia sebagaimana Prabowo dalam bukunya, Paradoks Indonesia. Apa yang dilakukan oleh Prabowo ini seperti yang dilakukan oleh Mahatir Muhammad saat (1981) memulai memimpin Malaysia dengan bukunya The Dillema Malaya.

Mahatir berhasil memimpin Malaysia selama 22 tahun pada periode pertamanya (1981-2003) kaum Melayu yang terpuruk akibat ekonomi Malaysia yang dikuasai Etnis China dan India. Akhirnya Etnis Melayu secaga ekonomi bisa sejajar dengan China dan India.

BACA JUGA  Diaspora IKA UNAIR : Merajut Jejaring Global, Menguatkan Kontribusi untuk Almamater dan Indonesia

Penyakit kronis di Bangsa ini karena belum diberlakukan UUD 1945. Penerapan pasal 33 belum dilaksanakan oleh Presiden sebelum Prabowo. Baru pada era Prabowo inilah disampaikan secara tegas pada Rapat di DPR pada 20 Mei 2026 lalu.

Penyampaikan di depan DPR dan Rakyat itu dapat dipandang sebagai pernyataan Kebangkitan Indonesia.

Dengan demikian bisa dimaklumi mengapa Prabowo selalu gagal dan digagalkan sebagai Presiden untuk memimpin kebangkitan dan kemajuan Indoensia saat itu?

Hal itu bisa dipahami siapa musuh dan kekuataan rakus yang menguasai ekonomi republik Indonesia selama ini?

Bisa jadi – mereka (Oligarki Rakus memang menghendaki agar Prabowo gagal dan bila perlu diturunkan di tengah jalan agar kekuatan Oligarki rakus itu berupaya menaikkan Presiden Boneka yang dengan mudah mereka setir.

Dari sisi inilah – kekuatan yang menggoyang Prabowo itu dapat dipahami siapa mereka (Oligarki Rakus) itu bermain. Bisa jadi, Prabowo itu terlalu bahaya bagi mereka.

Karena Oligarki Rakus itu tidak dapat mendikte mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad itu.

*) Muslim Arbi, Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.