Kamis, 2 Juli 2026, pukul : 03:09 WIB
Surabaya
--°C

Ternyata Saya Tidak Sendirian: India Sudah Lebih Dulu Berteriak

Saya bukan orang pertama yang melihat ini. Bukan orang pertama yang mendokumentasikannya. Bukan orang pertama yang berteriak. India sudah lebih dulu berteriak.

Oleh: Agus M. Maksum

KEMPALAN: Saya ingin cerita sesuatu yang mengejutkan saya sendiri. Ketika saya menulis tentang jaringan OSF di Indonesia – banyak yang menyebut saya paranoid.

Banyak yang bilang saya berteori konspirasi. Banyak yang bilang saya sendirian. Tapi ternyata tidak. India sudah lebih dulu berteriak. Dan bukan sembarangan berteriak. Mereka sudah bertindak.

Ketika India Membaca Pola yang Sama

Pada 2021 – jauh sebelum saya menulis satu baris pun tentang jaringan OSF di Indonesia – sebuah media investigatif India bernama OpIndia sudah menerbitkan laporan panjang berjudul: “How George Soros is Fueling Anti-India Narrative through Media and NGOs

(Terjemahan: “Bagaimana George Soros Membangun Narasi Anti-India Melalui Media dan LSM“)

Saya baca laporan itu. Dari awal sampai akhir. Dan saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya baca. Karena polanya persis sama dengan yang saya dokumentasikan untuk Indonesia.

Apa yang India Temukan?

Pertama – Jaringan Intelektual. OSF membangun jaringan intelektual kiri-liberal yang secara konsisten menyerang pemerintahan nasionalis India. Laporan OpIndia menyebut dengan tegas:

In the name of running philanthropic activities, the left-wing international organisation led by Soros has begun to spread its tentacles across the country by his active support to anti-India elements operating inside India.

(Terjemahan: “Dengan dalih menjalankan kegiatan filantropi, organisasi internasional sayap kiri yang dipimpin Soros mulai menyebarkan jaring-jaringnya ke seluruh negeri melalui dukungan aktifnya kepada elemen-elemen anti-India yang beroperasi di dalam India.”)

Nama-nama besar yang terhubung jaringan Soros di India:

Amartya Sen – duduk bersama Soros dalam dewan penasehat LSM Namati yang didanai OSF. Soros bahkan membuat film dokumenter bersama Sen.

Harsh Mander – mantan anggota dewan penasehat OSF. Terlibat dalam kontroversi kerusuhan anti-Hindu Delhi 2019.

Pratap Bhanu Mehta – duduk di dewan direksi Namati yang didanai OSF.

Yogendra Yadav – mempresentasikan riset langsung di hadapan Soros saat kunjungan pertama Soros ke India.

Kedua – Jaringan Media

BACA JUGA  Kasimo dan Ladang yang Membangun Republik

MDIF yang dimulai dengan dana benih $ 500.000 (lima ratus ribu dolar) dari Soros – mendanai media-media “independen” di India.

Di India, penerima manfaat MDIF yang tercantum di situs resmi mereka adalah website Scroll – media kiri-liberal yang konsisten selalu menyerang pemerintahan Modi.

OSF bersama Omidyar Network mengucurkan $ 1,3 juta (“satu koma tiga juta dolar”) ke jaringan pemeriksa fakta internasional IFCN – yang dinilai memiliki bias terhadap India.

Dan laporan Fox News menyebut: “Since 2003, George Soros has spent more than $48 million funding media organizations.”

(Terjemahan: “Sejak 2003, George Soros telah menggelontorkan lebih dari 48 juta dolar untuk mendanai berbagai organisasi media.“)

Ketiga – Jaringan LSM

LSM Lawyers Collective yang didanai jaringan OSF – lisensi FCRA-nya (izin penerimaan dana asing) dicabut pemerintah India karena terbukti telah menggunakan dana asing untuk tujuan politik.

CBI India mendaftarkan kasus kriminal pada 2018.

Think tank Centre for Policy Research – menerima dana dari jaringan OSF –  dan tokoh-tokoh di dalamnya menjadi pengritik keras pemerintah yang terpilih secara demokratis.

Yang Paling Penting: India Tidak Hanya Berteriak – India Bertindak

Inilah yang membuat saya tertegun. Pada 2016 – pemerintah India memasukkan OSF ke dalam daftar pengawasan resmi.

Artinya: OSF tidak bisa lagi mengalirkan dana ke LSM-LSM di India secara langsung – tanpa izin terlebih dahulu dari Kementerian Dalam Negeri India.

Laporan OpIndia mencatat:

In 2016, Open Society Foundations suffered a huge setback after the Indian Government put them on a watch list, which essentially meant that it could not fund any of these organisations directly.”

(Terjemahan: “Pada 2016, Open Society Foundations mengalami pukulan besar setelah Pemerintah India memasukkan mereka ke dalam daftar pengawasan — yang pada dasarnya berarti OSF tidak bisa lagi mendanai organisasi-organisasi tersebut secara langsung.“)

Bukan asal tuduh. Bukan konspirasi. India membuat kebijakan berdasarkan bukti dan pola yang mereka temukan sendiri.

Bukan Hanya India

India bukan satu-satunya negara yang waspada.

Hongaria – tempat kelahiran Soros sendiri – mengesahkan undang-undang yang secara eksplisit membatasi aktivitas OSF dan memaksa universitas yang didanai Soros menutup operasinya di sana.

BACA JUGA  Hakim Melampaui Hukum

Rusia – melarang OSF sebagai “undesirable organization” (organisasi yang tidak diinginkan) sejak 2015.

Amerika Serikat – Media Research Center mendokumentasikan bahwa lebih dari 30 organisasi media besar Amerika memiliki hubungan pendanaan dengan Soros – termasuk Washington Post, New York Times, CNN, NBC, dan ABC.

MRC menulis: “Over 30 major news organizations are linked to George Soros.” (Terjemahan: “Lebih dari 30 organisasi berita besar terhubung dengan George Soros.“)

Jadi ketika saya tetap menulis tentang jaringan ini di Indonesia – saya tidak sedang menciptakan teori baru. Saya sedang menerapkan pola yang sudah dikenali dan didokumentasikan di puluhan negara.

Pola yang Sama, Negara yang Berbeda.

Perhatikan kesamaannya:

🔸 India punya Modi yang dianggap nasionalis – diserang.

🔸 Indonesia punya hilirisasi yang melawan arus kapital global – diserang.

🔸 Hongaria punya Orban yang menolak agenda liberal global – diserang.

🔸 Semua negara yang berani melawan arus paradigma neoliberal – diserang dengan pola yang sama.

Narasi negatif dibangun. Media dalam ekosistem pendanaan yang sama mengamplifikasi. Lembaga rating dan indeks global merespons. Modal keluar. Ekonomi terguncang. Tekanan jalanan muncul.

Satu pola. Banyak negara. Satu ekosistem.

Refleksi

Saya bukan orang pertama yang melihat ini. Bukan orang pertama yang mendokumentasikannya. Bukan orang pertama yang berteriak. India sudah lebih dulu berteriak.

Dan India tidak hanya berteriak – mereka bertindak dengan kebijakan konkret pada 2016.

Pertanyaan saya untuk kita semua: Sampai kapan Indonesia menunggu? Sampai kapan kita menganggap semua ini kebetulan?

Sampai kapan pola yang sudah dikenali oleh India, Hongaria, dan puluhan negara lain – kita biarkan bekerja tanpa kita kenali?

Bangsa yang tidak belajar dari pengalaman bangsa lain – akan tetap terus mengulang luka yang sama.

Saya tidak sendirian berteriak. India sudah lebih dulu. Dan India sudah bertindak. Pertanyaannya sekarang – kapan giliran kita?

*) Agus M Maksum, Pemerhati Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik, Praktisi IT, Pembuat Patent Platform Digital Ekonomi Pancasila, Mantan Ketua Senat Mahasiswa ITS, Aktivis 98

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.