Bukan karena ekonomi kita semua tiba-tiba rusak bersamaan. Tapi karena narasi dan rating bergerak bersamaan – menciptakan kepanikan yang kemudian membuktikan dirinya sendiri.
Oleh: Agus M. Maksum
KEMPALAN: Banyak yang mempertanyakan bukti saya. Juga, banyak yang membela MSCI, Moody’s, dan Bloomberg seolah mereka itu lembaga suci yang netral dan bebas kepentingan. Izinkan saya menjawab dengan data, teori, dan fakta sejarah.
Tidak ada yang netral dalam sistem keuangan global. Ada teori. Ada aktor. Ada pendanaan. Ada narasi. Ada tujuan. Dan jelas ada korbannya – rakyat Indonesia yang menyaksikan rupiah dan IHSG dihancurkan.
Bayangkan tiga wasit dalam pertandingan sepak bola. Setiap kali ada suatu pelanggaran yang merugikan tim tuan rumah – ketiganya selalu meniup peluit secara bersamaan.
Tidak pernah berbeda. Tidak pernah berselisih. Selalu kompak. Apakah kita masih bisa menyebut mereka wasit yang netral? Itulah yang terjadi dengan MSCI, Moody’s, S&P, dan Bloomberg terhadap Indonesia.
Fakta yang Tidak Diajarkan di Kampus
Selama ini publik percaya bahwa Moody’s, S&P, dan Fitch adalah tiga institusi yang bekerja secara independen. Tapi data empiris berkata lain. Ketiganya menguasai lebih dari 90 persen pasar pemeringkatan global.
Tiga pemain. Sembilan puluh persen pasar. Bukan suatu kompetisi sehat. Oligopoli. Dan dalam oligopoly – bahwa para pemain punya insentif untuk mengikuti satu sama lain.
Inilah yang dalam literatur akademik disebut Herding Behavior – perilaku kawanan.
Riset Rieber & Schechinger (2019) membuktikan: ketika satu lembaga menurunkan peringkat, lembaga lain cenderung mengikuti dalam waktu singkat. Bukan karena datanya berubah – tapi karena mereka mengikuti sinyal satu sama lain.
Boot, Milbourn & Schmeits (2006) bahkan menyebut rating itu sebagai “mekanisme koordinasi” – bukan sekadar cermin realita. Rating bisa menciptakan realita. Persis seperti teori Reflexivity George Soros.
Ini Sudah Terjadi, Di Kawasan Kita
Krisis Asia 1997 – sebelum krisis meledak, tidak ada satu pun lembaga rating yang memberi peringatan.
Tapi ketika Thailand jatuh pada Juli 1997 – dalam hitungan minggu, Indonesia, Korea, Thailand semuanya serentak diturunkan ke level non-investment grade.
Satu domino jatuh. Semua ikut. Rupiah dari Rp 2.500 menjadi Rp 16.000. Inflasi 77 persen. Jutaan rakyat miskin dalam semalam.
Bukan karena ekonomi kita semua tiba-tiba rusak bersamaan. Tapi karena narasi dan rating bergerak bersamaan – menciptakan kepanikan yang kemudian membuktikan dirinya sendiri.
Dan 2026 – pola yang sama terulang. IHSG menjadi indeks terburuk di dunia pada 3-4 Juni 2026. Rupiah dihancurkan ke titik terendah dalam sejarahnya.
Indonesia Economic Forum – April 2026 – menyatakan: “Konvergensi MSCI, Moody’s, S&P dalam jendela waktu yang terkompresi – justifikasi analitis yang ditawarkan tidak tahan terhadap pengujian serius.”
Ini bukan urutan peristiwa ayam berkokok lalu matahari terbit. Ada teori. Ada aktor. Ada pendanaan. Ada narasi. Ada tujuan. Dan ada korbannya.
Baca pembuktian lengkapnya dengan data, teori, dan referensi akademik yang bisa diklik: https://www.facebook.com/share/p/1ANQExAthZ/
*) Agus M Maksum, Pemerhati Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik, Praktisi IT, Pembuat Patent Platform Digital Ekonomi Pancasila, Mantan Ketua Senat Mahasiswa ITS, Aktivis 98
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi