Selasa, 30 Juni 2026, pukul : 19:20 WIB
Surabaya
--°C

Empat Belas Tahun Berdampingan dengan NPD: Luka yang Menempa Jiwa

KEMPALAN : Empat belas tahun hidup bersamanya bagaikan terombang-ambing dalam pusaran. Tutur katanya memesona, namun lakunya kerap menabrak nalar. Dari mantan pasangan dengan Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD), saya menimba banyak pelajaran berharga.

Ia mengoyak kestabilan emosi dan merapuhkan kesehatan mental saya.
Ia menggoreskan luka di relung hati.
Ia menjadikan hidup saya porak-poranda, hancur, hingga terjerembap di titik nadir.
Bahkan, saya sempat kehilangan jati diri.

Akun TikTok ‘mamantoga’ pernah menguraikan hal serupa dalam salah satu takarir (caption) videonya.

Akan tetapi, justru melaluinya, saya menemukan banyak hal yang kini saya syukuri sepenuh jiwa:

  1. Saya Menjadi Lebih Karib dengan Sang Khalik
    Di kala duka, kecewa, dan kebimbangan melanda, ibadah menjadi pelabuhan ketenangan bagi jiwa.
    Ibadah yang saya tunaikan kian panjang, kian khusyuk, dan kian konsisten.
    Kini, saya lebih teguh bersandar kepada Tuhan dibanding masa lalu.
  2. Saya Belajar Mencintai Diri Sendiri
    Ia mahir merangkai kata. Sikapnya santun, memikat, dan penuh perhatian.
    Melalui kelihaian manipulasinya, saya kerap terjebak dalam rasa sungkan sehingga mengiyakan kehendaknya, meski nurani memberontak.
    Semula saya menganggapnya remeh. Hingga akhirnya semua meledak: akal menolak, kalbu menolak, raga pun turut merintih.
    Selepas perpisahan dan masa pemulihan, berbagai kebaikan hadir. Saya merasakan kebahagiaan yang lebih utuh.
    Dari sana, saya belajar untuk menyimak, menghargai, dan memuliakan pikiran, perasaan, serta tubuh saya sendiri.
  3. Saya Menemukan Fokus pada Tujuan Hidup
    Berbagi atap dengan pribadi yang manipulatif menghadirkan kebingungan setiap hari.
    Saya menyadari ada yang keliru, namun tiap kali bersuara, keadaan justru kian kusut.
    Pada akhirnya, saya memilih diam dan menjauh.
    Untuk mengalihkan perih di hati, saya melabuhkan diri pada kesibukan. Amarah dan kecewa saya ubah menjadi energi untuk menempa diri.
    Dari sekadar menjalani hidup, perlahan saya merajut mimpi dan menata arah menuju kehidupan yang lebih bermakna.
  4. Saya Menjalani Kehidupan dengan Rasa yang Berbeda
    Lakunya yang menyakitkan justru menjadi cermin agar saya tidak menorehkan luka yang sama kepada sesama. Rasanya sungguh tidak nyaman.
    Saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka, lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih banyak bersyukur.
    Semua itu mengantarkan saya pada pemahaman yang lebih dalam tentang makna kebahagiaan dan nikmat hidup yang hakiki.
BACA JUGA  Khofifah Resmikan PELITA ASN, Hadirkan Layanan Pendampingan Keluarga

Akun ‘mamantoga’ menutup dengan pesan: Barangkali kini dunia tampak kelam.
Namun, saya meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya.
Ini bukanlah takdir buruk, melainkan cara Tuhan membentuk saya menjadi versi terbaik dari diri ini.

Pesan bagi Sesama Penyintas Korban NPD:
Roda dunia terus berputar. Dahulu Anda berharga, kini pun Anda tetap berharga.
Janganlah merasa bahwa dunia telah usai, rumah telah runtuh, dan tiada tempat untuk kembali, hanya karena satu tanya yang tak berjawab dari individu dengan NPD.
Seorang NPD senantiasa berlari dari masalah. Ia bukan penyelesai, melainkan pencipta masalah baru.
Ketika NPD berlalu, niscaya telah ada yang menantinya. Jangan runtuhkan hidup Anda karenanya.
Lazimnya, NPD enggan membawa serta anak saat pergi. Maka, pusatkan kembali kasih dan tujuan Anda pada anak-anak. Bangunlah kembali bahtera rumah Anda.
Teguhkan hati. Anda pasti mampu bangkit dan melangkah. (AM)

BACA JUGA  Raker IKA UNAIR FPK Perkuat Kolaborasi Alumni untuk Ketahanan Pangan Nasional
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.