Kamis, 21 Mei 2026, pukul : 11:44 WIB
Surabaya
--°C

Kursi Sarat Makna Simbol Kekuasaan, Kekuatan dan Harga Diri

Pengamat politik ramai berdebat, mempertanyakan apakah ini sekadar kebetulan semata atau justru sebuah manuver protokol klasik di China simbol “Raja dan Rakyatnya” yang sengaja dimainkan oleh protokol Jinping.

Oleh: Sutoyo Abadi

KEMPALAN: Presiden Prabowo Subianto menandatangani Board of Peace (BoP) Charter pada Kamis, 22 Januari 2026, di Davos, Swiss, sela‑sela World Economic Forum 2026, kita bandingkan dengan dengan saat pertemuan Donald Trump dengan Xi Jinjing.

Tulisan ini tidak minat membahas fungsi, manfaat BoP tetapi hanya ingin sekilas sentuh protokol saat Donald Trump bertemu Xi Jinjing, duduk di kursi yang bisa memancarkan simbol kekuasaan dan harga diri.

Sejak ribuan tahun silam, kursi bukan sekadar menjadi alas duduk, tetapi sebagai instrumen kekuasaan yang sarat akan makna simbolis.

Tradisi di Jawa sejak dulu kala seorang Raja duduk di kursi yang lebih tinggi dari pada punggawa atau abdi dalem. Bahkan saat mendekat Raja harus dengan jalan jongkok merangkak.

Era Kekaisaran China, Sang Kaisar bersemayam di Dragon Throne (Singgasana Naga) yang diletakkan pada posisi tertinggi. Para penguasa bawahan harus di kursi yang lebih rendah. Simbol penegasan hierarki dan menjaga kehormatan sang penguasa.

Filosofi Konfusianisme menegaskan bahwa posisi fisik mencerminkan kedudukan sosial – semakin tinggi tempat duduknya, semakin agung derajat sosok tersebut.

Demikian pula di Eropa. Di Istana Versailles pada era Raja Louis XIV, di Kerajaan Persia dan Byzantium juga disebut kerajaan lainnya singgasana kerap selalu di atas panggung undakan Sang Raja.

Sekarang perhatikan saat pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Donald Trump yang memiliki postur menjulang setinggi 190 cm, terlihat duduk lebih rendah dibandingkan Xi Jinping (sekitar 178–180 cm). Kursi Trump seolah “amblas” menelan tubuhnya, sementara Xi Jinping bisa tampil tegak, lebih tinggi.

Xi Jinping duduk leluasa menghadap ke depan sedangkan Donald Trump tampak kesulitan duduknya dan harus terus-menerus memalingkan tubuhnya ke arah Jinping.

Info berembus kursi Trump dibuat lebih rendah, empuk dan lentur agar Trump bisa duduk lebih nyaman, celakanya badan tenggelam dalam kursinya.

Pengamat politik ramai berdebat, mempertanyakan apakah ini sekadar kebetulan semata atau justru sebuah manuver protokol klasik di China simbol “Raja dan Rakyatnya” yang sengaja dimainkan oleh protokol Jinping.

Bandingkan saat Donald Trump memanggil satu persatu anggota BoP simbol kekuasaan kursi Trump lebih tinggi ditampakkan dengan vulgar. Bahkan saat memanggil Presiden Prabowo, terlihat sangat menyedihkan terkesan bukan sebagai Presiden tetapi abdi dalem dengan di tepuk tepuk pundaknya, terkesan sebagai anak buahnya.

Jelas sekali itu visual kekuasaan antara atasan dan bawahan. Itu biasa dalam protokol kenegaraan banyak mencatat pertemuan antar-kepala negara di mana tata letak, ukuran meja, hingga ketinggian kursi diatur sedemikian rupa demi memoles citra siapa yang lebih berkuasa.

Diplomasi kursi masih hidup dan bernapas. Di balik basa-basi senyum ramah dan jabat tangan erat para pemimpin dunia, setiap sentimeter tinggi kursi, setiap derajat sudut pengambilan kamera, dan setiap keempukan bantal sofa selalu diperhitungkan dengan amat cermat.

Sekedar intermeso pertemuan BoP sudah berlalu. Presiden Prabowo harus ingat sebagai Presiden RI, harus jaga citra jangan mengulangi kesalahan yang diulang-ulang. Karena memelihara pejabat negara yang bloon tidak paham pernik-pernik diplomasi terkait dengan protokol kenegaraan dalam dan luar negeri.

Pejabat negara asal ikut kunjungan keluar negeri, happy-happy di hotel-hotel berbintang ternyata pejabat bloon dan o’on (bodoh dan dungu), buta tentang protokol kenegaraan, apalagi soal kursi sebagai simbol kekuasaan, kekuatan dan harga diri seorang Presiden.

*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.